Ketika seorang guru mendengar anak SD yang rapi dan polos tiba-tiba mengeluarkan kata-kata kasar, apa yang pertama kali muncul? Tawa? Keheranan? Atau kekhawatiran? Fenomena ini bukan sekadar anekdot lucu. Ini adalah tanda alarm tentang bagaimana pendidikan karakter anak-anak kita menghadapi tekanan budaya digital dan pergaulan sebaya.
Menurut Jurnal Ilmiah “Pendidikan Dasar” Vol. VII No. 1 Januari 2020 yang tulis oleh Fatma Khaulani, dkk., bahwa salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan bahasa anak SD ialah faktor lingkungan. Anak SD telah banyak belajar dari orang di sekitar lingkungannya khususnya lingkungan keluarga yang merupakan lingkungan terdekat anak.
Oleh karena itu, hendaknya orang tua dan masyarakat menggunakan istilah-istilah bahasa yang lebih selektif dan lebih baik jika berada di sekitar anak, karena pada dasarnya bahasa anak akan dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya.
Selain itu, lingkungan sekolah, pergaulan teman sebaya, dan media sosial juga menjadi tiga pendorong utama normalisasi bahasa kasar. Dalam kelompok teman, kata-kata kasar sering dianggap simbol keakraban. Sementara di media sosial seperti TikTok atau YouTube, konten yang ceplas-ceplos, penuh ejekan, atau roasting viral dengan cepat, membuat anak meniru tanpa memahami konteks.
Masalahnya, anak-anak di usia sekolah dasar belum memiliki kemampuan kritis untuk menilai efek kata-kata mereka terhadap orang lain. Sebuah ejekan yang bagi mereka lucu, bisa membuat teman atau guru merasa tersinggung atau diremehkan. Ketidaksadaran ini berpotensi menumbuhkan generasi yang terbiasa menggunakan bahasa kasar sebagai alat sosial, bukan alat komunikasi yang bermartabat.
Guru berada pada posisi kunci. Sekolah bukan hanya tempat membaca, menulis, atau berhitung. Guru membentuk karakter, membimbing anak memahami batas sosial, dan menunjukkan bahwa bahasa adalah cerminan sikap dan rasa hormat. Namun pendekatannya harus strategis, seperti:
- Konsisten mengingatkan, bukan hanya melarang.
- Menjelaskan dampak kata-kata melalui contoh sederhana yang bisa dipahami anak.
- Memberi teladan dalam komunikasi sehari-hari.
Pengajaran bahasa santun di sekolah SD lebih efektif ketika dipadukan dengan praktik nyata dan pembiasaan, bukan sekadar teori. Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar, bukan hanya dari aturan yang terpampang rapi di ruang kelas atau di papan tulis.
Peran keluarga juga tak kalah penting. Lingkungan rumah menjadi ruang utama pembentukan kebiasaan berbahasa. Anak yang terbiasa mendengar komunikasi sopan, empati, dan saling menghargai cenderung membawa perilaku itu ke sekolah. Sebaliknya, paparan konten kasar atau ejekan di rumah atau media akan mempermudah mereka meniru bahasa negatif.
Fenomena bahasa kasar di kalangan anak SD adalah pengingat bahwa pendidikan karakter tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari anak. Di tengah derasnya arus informasi digital dan pengaruh teman sebaya, membimbing anak untuk berbicara dengan santun bukan sekadar aturan kelas. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang lebih dewasa, empatik, dan beradab.
Jika sejak usia dini anak-anak belajar menghargai orang lain melalui kata-kata mereka, maka kita sedang menanam fondasi penting bagi masyarakat yang lebih humanis di masa depan. Sebab, bahasa bukan sekadar kata, tetapi cerminan nilai dan budaya yang kita wariskan.
Penulis: Rika Arlianti DM
Editor: Tim Intens.id





