Menjelang Ramadan Kita

Oleh: Rika Arlianti DM

Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana sebuah bulan bisa terasa seperti rumah. Tapi setiap menjelang Ramadan, aku selalu ingin pulang lebih awal. Bukan ke alamat, melainkan ke suaramu yang menyebut namaku pelan-pelan seperti azan kecil di dalam dada.

Kita menyiapkan bulan ini dengan cara yang sederhana. Tidak ada pesta. Hanya daftar belanja yang kita susun di atas meja makan, dan percakapan tentang apa yang ingin kita perbaiki dari diri masing-masing.

Kau bertanya, “Ramadan ini kau ingin jadi apa?” Aku hampir menjawab… ingin jadi lebih sabar. Ingin jadi lebih ikhlas. Ingin jadi lebih baik.

Tapi yang sebenarnya ingin kukatakan adalah aku ingin tetap di sampingmu ketika magrib turun perlahan dan langit berubah warna seperti doa yang akhirnya dikabulkan.

Kita tahu, puasa bukan hanya tentang menahan lapar. Ia adalah cara untuk mengosongkan diri dari hal-hal yang terlalu bising. Dan aku sering merasa, di dekatmu, aku belajar berpuasa dari ego tanpa merasa kehilangan apa-apa.

Malam-malam Ramadan selalu punya bunyi yang berbeda. Sendok beradu dengan piring, air mengalir dari gelas ke tenggorokan, lalu hening yang hangat setelah kita selesai makan.

Di sela-sela itu, aku melihat wajahmu diterangi lampu dapur dan berpikir, mungkin beginilah rasanya dicintai dengan cara yang tenang.

Kita tidak banyak meminta. Hanya kesehatan. Hanya umur yang cukup. Hanya kesempatan untuk kembali duduk bersebelahan di tahun berikutnya ketika Ramadan datang lagi dengan segala rahasianya.

Jika suatu hari bulan ini kembali mengetuk pintu, dan rambut kita sudah lebih banyak putihnya, aku ingin tetap mendengarmu mengucap “selamat sahur” dengan suara setengah mengantuk yang selalu membuatku merasa hidup ini cukup.

Ramadan bukan hanya tentang ibadah, katamu suatu malam. Ia juga tentang siapa yang kita pilih untuk berjalan pelan-pelan menuju ampunan.

Dan jika itu benar, aku ingin memilihmu—lagi dan lagi—setiap kali bulan sabit itu menggantung di langit seperti janji yang tidak ingin kita ingkari.

—Bulukumba, 18 Februari 2026

Rika Arlianti DM
Rika Arlianti DM
Penulis Buku
- Advertisment -spot_img
Berita Terakait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Topik Populer

Komentar Terbaru