Transisi Energi dan Mineral Kritis, Suara Buruh dan Komunitas Terpinggirkan dalam Pusaran Konflik

Transisi Energi dan Mineral Kritis, Suara Buruh dan Komunitas Terpinggirkan dalam Pusaran Konflik
Transisi Energi dan Mineral Kritis: Suara Buruh dan Komunitas Terpinggirkan dalam Pusaran Konflik. Foto: LBH Makassar
Bacakan Artikel

Rumah Suardi yang hanya berjarak puluhan meter dari pagar pabrik telah menjadi saksi bisu. Sejak smelter berdiri, debu semakin banyak, udara pengap, padi tidak tumbuh, dan daun-daun pohon diselimuti debu hingga mati. Atap seng rumah warga pun cepat berkarat dan keropos.

โ€œBagi kami, smelter adalah bencana,โ€ tegasnya. Istrinya bahkan tidak betah tinggal di rumah dan memilih kembali ke Sinjai, memaksa Suardi membagi waktu antara Borong Loe dan Sinjai demi keluarga.

Suardi juga mengenang janji-janji manis di masa lalu. โ€œDulu kami pernah diperingatkan agar tidak menjual tanah. Namun janji lapangan kerja, penghasilan lebih baik, dan harga tanah yang tinggi membuat banyak warga menjual kebunnya,โ€ katanya.

Kini, belasan tahun kemudian, kekhawatiran itu terbukti menjadi kenyataan: hidup mereka semakin susah. Oleh karena itu, Suardi mengaku sulit percaya pada konferensi yang membicarakan hilirisasi, transisi energi, dan dekarbonisasi.

"Istilah-istilah itu jauh dari perjuangan kami mempertahankan tanah, kebun, rumah, dan udara bersih. Saya khawatir kehadiran kami hanya dipakai sebagai tanda persetujuan,โ€ imbuhnya, menyuarakan kekhawatiran banyak komunitas terdampak lainnya.

Masyarakat menilai bahwa pembicaraan tentang transisi energi akan kehilangan legitimasi apabila tidak mampu menjawab konflik konkret yang berlangsung di wilayah ekstraksi. Sebuah konferensi tidak dapat disebut partisipatif hanya karena menghadirkan beberapa orang dari komunitas terdampak.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: