Suka-Duka Bissu untuk Tetap Bertahan Menjaga Warisan Leluhur

Intens.id, Makassar - Gelaran Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 kembali menjadi sorotan, tak hanya sebagai ajang perayaan sastra, tapi juga sebagai panggung penting bagi keberagaman...

Suka-Duka Bissu untuk Tetap Bertahan Menjaga Warisan Leluhur
Bacakan Artikel

Intens.id, Jalurdua.com Intens.id, Makassar - Gelaran Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 kembali menjadi sorotan, tak hanya sebagai ajang perayaan sastra, tapi juga sebagai panggung penting bagi keberagaman budaya. Tahun ini, dengan tema “Land and Hand,” MIWF mengangkat isu krusial tentang pentingnya merawat ruang hidup, terutama bagi kelompok rentan.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah kehadiran para bissu, penjaga tradisi dan penyeimbang jiwa masyarakat Bugis, dalam program “Menerjang Harmonisasi: Daya Lenting Bissu di Tengah Masyarakat” pada Jumat sore (30/5/2025) di Gedung K, Fort Rotterdam. Mereka adalah jembatan antara dunia manusia dan dunia leluhur, sebuah peran yang dihidupkan dengan penuh makna.

Simbolisme Warna dalam Busana Bissu

Dalam setiap ritual, bissu mengenakan pakaian adat dengan warna-warna penuh makna. Hijau dan kuning melambangkan kebangsawanan, sementara merah dan hijau, yang dikenal sebagai “bunga lompo,” menyimbolkan keindahan dan kekuatan. Kombinasi putih dan hijau hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu, menandakan status sosial yang tinggi.

Bagi bissu, semua warna boleh dipakai ketika mereka ingin “berhadapan” dengan leluhur. Setiap warna juga membawa unsur alam: hitam melambangkan tanah, dan putih melambangkan air. Hanya bissu yang dipercaya mampu memadukan semua warna ini, sebagai simbol keseimbangan dan kemampuan mereka menjembatani dunia manusia dan roh.

Identitas Transgender dan Kekuatan Spiritual

Keunikan bissu juga terletak pada identitas mereka yang melampaui batas gender. Maskulinitas dan feminitas hadir berdampingan, menyatu dalam harmoni tanpa pertentangan. Tak ada pergolakan identitas; semuanya melebur menjadi satu. Dalam kepercayaan masyarakat Bugis, bissu bahkan dianggap sebagai manusia “setengah dewa”, sosok yang mampu menjaga keseimbangan jiwa dan raga demi kemaslahatan bersama.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: