Titah AW: MIWF 2025 Ruang Aman bagi Jurnalis dan Pegiat Lingkungan

Intens.id, Makassar - Suasana Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 masih terasa hangat. Di tengah hiruk pikuk festival sastra terbesar di Indonesia Timur ini, jurnalis Titah AW berbagi...

Titah AW: MIWF 2025 Ruang Aman bagi Jurnalis dan Pegiat Lingkungan
Bacakan Artikel
Intens.id, Makassar - Suasana Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 masih terasa hangat. Di tengah hiruk pikuk festival sastra terbesar di Indonesia Timur ini, jurnalis Titah AW berbagi kesan mendalamnya. Duduk tenang di pelataran Fort Rotterdam, Titah menyoroti bagaimana MIWF telah menjadi "ruang aman" yang inklusif, bahkan hingga ia merasa nyaman meninggalkan tasnya tanpa khawatir.

Jalurdua.com Bagi Titah, MIWF lebih dari sekadar ajang berkumpulnya penulis dan penyair. Ia melihat festival ini sebagai ruang kultural yang mempersatukan beragam latar belakang: penulis, seniman, akademisi, jurnalis, hingga masyarakat umum yang mungkin tak bersentuhan langsung dengan dunia sastra. Ini adalah bukti nyata bagaimana literasi dapat menjadi jembatan dialog sosial.

"Land and Hand": Mengolah Wacana Penting dengan Hangat

MIWF 2025 mengangkat tema "Land and Hand", sebuah refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan tanah, tempat tinggal, dan ruang hidup bersama. Tema ini diwujudkan melalui beragam sesi, mulai dari diskusi panel, pameran seni visual, pemutaran film, hingga pertunjukan musik dan pembacaan puisi.

"Saya merasa tema dari MIWF, Land and Hand, sangat penting untuk kita bahas sekarang," jelas Titah. Ia memuji kemampuan MIWF mengemas wacana penting seperti krisis ekologis, migrasi, dan relasi manusia dengan alam, dalam format yang akrab dan merangkul semua kalangan. Baginya, narasi di MIWF menjadi alat pemulihan yang kuat.

Jurnalis Punya Tempat di MIWF: Ketika Liputan Lingkungan Menyentuh Nurani

Salah satu hal yang paling membuat Titah terkesan adalah keterlibatan jurnalis dalam MIWF. Sebagai reporter yang kerap meliput isu lingkungan dan keberlanjutan, Titah merasakan dampak langsungnya. "Saya merasa terkesan Mas Aan Mansyur melibatkan jurnalis dalam acara ini," ujarnya.

Menurut Titah, pelibatan jurnalis ini menegaskan bahwa karya jurnalistik memiliki nilai estetika dan etika yang setara dengan karya sastra. Keduanya sama-sama berbicara kepada publik, berangkat dari kepekaan terhadap realitas, dan menyentuh nurani.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: