Pemuda Makassar Nobar Film 'Sungai Plastik', Diajak Pahami Hak dan Kelas Sungai

Diskusi usai pemutaran film dokumenter Sungai Plastik di Makassar mengajak lebih dari 50 pemuda untuk memahami kewenangan dan hak-hak sungai, serta aktif terlibat dalam perlindungan ekosistemnya

Pemuda Makassar Nobar Film 'Sungai Plastik', Diajak Pahami Hak dan Kelas Sungai
Puluhan Pemuda Makassar Membaca Sungai: Dorong Gerakan Jaga Ekosistem dan Haknya
Bacakan Artikel

Intens.id, Makassar - Lebih dari 50 pemuda dari berbagai komunitas lingkungan di Makassar berkumpul di Daur Baur Kafe pada 15 Agustus 2026. Mereka menonton film dokumenter Sungai Plastik dan berdiskusi intensif tentang kondisi sungai di Indonesia, sekaligus membangun fondasi gerakan untuk memperjuangkan hak-hak ekosistem air.

Acara bertajuk "Menonton, Mendengar, Membaca Sungai, dan Bergerak Bersama" ini diselenggarakan melalui kolaborasi ECOTON, Lontara Hijau, serta berbagai komunitas penjaga sungai di Makassar. Kegiatan ini mempertemukan para peserta dengan peneliti Ekspedisi Sungai Nusantara, yang membagikan pengalaman dan temuan mereka dari perjalanan menyusuri puluhan sungai strategis nasional.

Melihat Realitas Sungai Melalui Ekspedisi Nusantara

Film dokumenter Sungai Plastik merupakan hasil dari Ekspedisi Sungai Nusantara yang dilakukan Prigi Arisandi, Founder ECOTON, bersama peneliti Amirudin. Selama setahun penuh, dua tahun silam, mereka menelusuri puluhan sungai di berbagai wilayah Indonesia.

Ekspedisi tersebut mendokumentasikan kondisi sungai, memantau kualitas air, mengidentifikasi pencemaran plastik dan mikroplastik, serta merekam kisah masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai. Temuan mereka menunjukkan tingginya tekanan terhadap sungai akibat limbah domestik, sampah plastik, aktivitas industri, hingga perubahan tata guna lahan. Kondisi ini memengaruhi kesehatan ekosistem sungai secara signifikan.

Dokumentasi perjalanan tersebut kemudian diangkat dalam film, yang menjadi medium untuk mengajak masyarakat melihat sungai bukan sekadar saluran air, melainkan ruang hidup yang menopang kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: