Desa Salassae Bulukumba Resmi Deklarasikan Diri sebagai Kampung Agroekologi

Desa Salassae Bulukumba Resmi Deklarasikan Diri sebagai Kampung Agroekologi
Desa Salassae Bulukumba Resmi Deklarasikan Diri sebagai Kampung Agroekologi. Foto: Ist
Bacakan Artikel

Intens.id, Bulukumba - Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, resmi menancapkan tekadnya untuk menjadi Kampung Agroekologi. Inisiatif ambisius ini bertujuan untuk secara aktif mengembangkan dan memperkuat pengetahuan agroekologi, mempraktikkan pertanian berkelanjutan di berbagai kawasan desa, sekaligus memelopori gerakan membangun sistem pangan yang adil dan berketahanan. Deklarasi ini menandai langkah maju Desa Salassae dalam mewujudkan kemandirian pangan dan keberlanjutan lingkungan, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Penegasan komitmen ini disampaikan langsung oleh Kepala Desa Salassae, Gito Sukamdani, dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Balai Pendidikan Komunitas Salassae. Diskusi tersebut merupakan bagian dari kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas). Hadir pula dalam diskusi tersebut Armin Salassa selaku Ketua Kemitraan Agroekologi, Ponnong selaku Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Salassae, serta Sapri selaku Kepala Dusun Batutujua, menunjukkan dukungan lintas pihak terhadap visi besar ini.

Gito Sukamdani menjelaskan bahwa langkah besar menuju Kampung Agroekologi ini bukan tanpa dasar. Ia menilai Desa Salassae memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk menjadi fondasi gerakan agroekologi. Modal sosial ini tecermin jelas dari capaian desa tersebut sebagai kampung iklim yang telah diakui secara nasional. Desa Salassae berhasil meraih Trofi Proklim Utama pada tahun 2017 dan kembali mengukir prestasi dengan Trofi Proklim Lestari pada tahun 2019, keduanya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen dan kapasitas masyarakat Salassae dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Selain itu, keberadaan kelompok masyarakat yang aktif dan konsisten juga menjadi kekuatan pendorong. Komunitas Swabina Pedesaan Salassae, misalnya, selama ini telah secara konsisten berkiprah dalam pengembangan sistem pertanian alami. Kelompok ini dinilai menjadi aset berharga yang akan mempercepat terwujudnya cita-cita Desa Salassae sebagai Kampung Agroekologi, dengan pengalaman dan pengetahuan praktis yang telah terakumulasi.

Praktik agroekologi di Desa Salassae rencananya akan dikembangkan secara menyeluruh dan terintegrasi di berbagai kawasan dalam wilayah desa. Mulai dari Kawasan Lembah Subur, Kantang, Salajueng, hingga Batu Tujua, semua akan menjadi area pengembangan pertanian berkelanjutan. Lebih dari itu, gerakan ini juga akan melibatkan partisipasi aktif setiap warga dalam pengelolaan pekarangan rumah masing-masing. Pekarangan ini akan difungsikan sebagai unit terkecil namun vital dari gerakan agroekologi desa, menciptakan jejaring produksi pangan lokal yang kuat dan merata.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2