AI Masuk Kelas, Apakah Sekolah Kita Sudah Siap Menggunakannya Secara Adil?

AI Masuk Kelas, Apakah Sekolah Kita Sudah Siap Menggunakannya Secara Adil?
Bacakan Artikel

Penerapan teknologi kecerdasan buatan di sekolah tentu bukan sesuatu yang harus dihindari atau ditakuti. AI memegang potensi luar biasa untuk membantu guru mengurangi beban administratif dan merancang pembelajaran yang lebih menarik.

Namun, langkah strategis yang harus diambil oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi beserta jajaran pemerintah daerah adalah menerapkan kebijakan transisi yang inklusif dan bertahap. Pembangunan infrastruktur digital yang merata harus ditempatkan sebagai prioritas mutlak yang berjalan mendahului atau setidaknya beriringan dengan perancangan modul-modul kurikulum berbasis AI.

Pemerintah juga perlu mengadopsi model pendekatan wilayah dalam penyusunan standar kurikulum. Bagi wilayah-wilayah yang belum siap secara infrastruktur, kurikulum harus didesain agar tetap bisa memberikan kompetensi logika berpikir komputasional (computational thinking) dan literasi dasar tanpa ketergantungan mutlak pada perangkat AI online.

Pelatihan guru di daerah 3T harus diprioritaskan secara intensif melalui program pendampingan langsung, bukan sekadar pelatihan daring yang kerap terkendala jaringan. Pada akhirnya, kurikulum yang baik bukanlah kurikulum yang paling canggih teknologinya, melainkan kurikulum yang mampu memanusiakan hubungan guru dan murid serta mampu diakses secara adil oleh setiap anak bangsa, dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara.

Pilih Halaman: