79 Tahun HMI: Degradasi, Eksplanasi, dan Reformasi

Oleh: Muh Arya Dwi Madaprama Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Intens.id - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai salah satu organisasi tertua di Indonesia hari ini telah menyandang usia yang k...

79 Tahun HMI: Degradasi, Eksplanasi, dan Reformasi
Bacakan Artikel

Pepatah "tidak ada asap tanpa api" sangat tepat untuk menjelaskan kondisi ini. Menurut keyakinan saya, ada beberapa hal yang mengilhami HMI mengalami degradasi, di antaranya:

Pertama, detonator penyebab krisis kognitif adalah dominasi kader yang lebih menitikberatkan aspek politik praktis dan menciptakan garis demarkasi dengan ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat dari prioritas kader yang sibuk mengorganisir massa demi keuntungan finansial atau hal instan lainnya, sehingga cara pandang dan konstruksi nilai menjadi pragmatis secara mengakar. Akibatnya, proses pembelajaran tidak lagi dianggap sebagai kewajiban dan kebutuhan dasar. Padahal, urgensi ilmu pengetahuan sebagai landasan gerak tertera jelas dalam pedoman dasar "Nilai-Nilai Dasar Perjuangan" (NDP).

Kedua, dampak lanjutan dari sikap abai terhadap ilmu pengetahuan membuat setiap kader tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Hilangnya tanggung jawab sosial membuat gelar mahasiswa tidak lagi direspon dengan aksi nyata. Seolah menjadi bagian dari HMI bukan lagi sebuah proses amanah, melainkan ambisi pribadi untuk mencapai mobilitas vertikal politik dan ekonomi. Keterbatasan SDM, hilangnya semangat kompetitif, dan minimnya kegiatan sosial yang kontinu adalah keniscayaan dari kultur yang memprioritaskan politik di atas kognitif.

Ketiga, penyebab hilangnya kepercayaan kader, mahasiswa, dan masyarakat merupakan dampak dari poin sebelumnya. Ambivalensi kader untuk menetap atau meninggalkan HMI pasca-training disebabkan oleh kekosongan kegiatan berkelanjutan (pragmatis). Kesan "Ternak Ayam" yang dirasakan kader menimbulkan fobia dan nuansa kurang mengenakkan bagi mahasiswa luar, sehingga mereka lebih memilih organisasi lain untuk menempa diri.

Selanjutnya, degradasi kepercayaan masyarakat juga disebabkan oleh fokus HMI yang terlalu teknis (demonstrasi) namun luput dalam membangun hubungan emosional. Perjuangan bukanlah hal ghaib; ia membutuhkan wujud nyata. Pengabdian masyarakat melalui kegiatan produktif seharusnya menjadi bekal untuk melahirkan kesadaran kolektif dan perasaan senasib. Hal ini jauh lebih realistis sebagai batu pijakan perubahan ketimbang berteriak lantang sementara masyarakat tidak merasakan keterikatan apa pun.

Rekonstruksi: Meneguhkan Kembali Khittah Perjuangan HMI

Telah dijelaskan sebelumnya terkait penurunan (Degradasi) dan penyebabnya (Eksplanasi) yang mengakibatkan kemerosotan HMI di berbagai bidang. Namun, ini bukan berarti akhir dari langkah HMI. Masa depan organisasi ini bergantung pada kerja-kerja kolektif berbasis kesadaran setiap kader untuk memperbaiki kembali "kapal tua" bersejarah ini ke arah tujuan dasarnya.

Dalam epilog ini, tanpa bermaksud berpretensi paling benar, secara pribadi saya menawarkan beberapa langkah navigasi untuk mengembalikan HMI ke dalam Khittah Perjuangannya:

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: