Sumpah Pemuda: Dari Ikrar Bersama ke Ikhtiar Pendidikan

Sumpah Pemuda: Dari Ikrar Bersama ke Ikhtiar Pendidikan
Muamar Qadar
Bacakan Artikel

Oleh: Muamar Qadar
Program Doktoral Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar

Setiap 28 Oktober, kita mengenang ikrar para pemuda pada 1928: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Memasuki usia ke-98, pertanyaannya bukan lagi seberapa hafal kita pada bunyi ikrar tersebut, melainkan seberapa hidup nilai-nilai itu dalam kerja nyata generasi hari ini.

Para peserta Kongres Pemuda II adalah pelajar dan kaum terdidik dari berbagai daerah. Pendidikanlah yang membuka cakrawala mereka tentang Indonesia sebagai gagasan bersama. Dengan kata lain, persatuan lahir di ruang belajar sebelum menjelma menjadi gerakan.

Bagi saya yang bergelut di dunia pendidikan dan penelitian, pesan ini terasa amat dekat. Bahasa Indonesia kini menjadi medium untuk berdiskusi, meneliti, dan menyusun ilmu lintas suku serta daerah.

Namun, persatuan menuntut lebih dari sekadar satu bahasa; ia menuntut keadilan akses. Ketika menelaah kebijakan seperti penerimaan murid baru, pertanyaannya selalu sama: apakah setiap anak, dari kota besar hingga pelosok, mendapat kesempatan belajar yang setara?

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2