Unhas Dampingi Masyarakat Selayar, Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Peluang Ekonomi dan Lingkungan

Unhas Dampingi Masyarakat Selayar, Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Peluang Ekonomi dan Lingkungan
Unhas Gagas Ekonomi Sirkular di Selayar: Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Sumber Daya Berharga. (Foto: ist)
Bacakan Artikel

Intens.id, Selayar - Permasalahan pengelolaan sampah di wilayah kepulauan seringkali menjadi tantangan pelik yang membutuhkan pendekatan inovatif dan solusi berkelanjutan. Menjawab urgensi tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Universitas Hasanuddin (Unhas) telah sukses menggelar program pendampingan komprehensif bertajuk "Penerapan Ekonomi Sirkuler Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Komunitas" di Kelurahan Benteng Utara, Kecamatan Benteng, Kabupaten Selayar. Inisiatif ini menandai langkah konkret Unhas dalam mendorong kemandirian lingkungan dan ekonomi masyarakat di daerah kepulauan.

Wilayah kepulauan seperti Selayar menghadapi kompleksitas tersendiri dalam manajemen limbah. Keterbatasan lahan penampungan, biaya transportasi yang tinggi untuk memindahkan sampah ke daratan utama, serta minimnya infrastruktur pengolahan seringkali memperparah akumulasi sampah, terutama sampah rumah tangga. Kondisi ini tidak hanya mengancam keindahan ekosistem laut dan pesisir yang menjadi daya tarik utama, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi penduduk setempat. Oleh karena itu, pendekatan yang berpusat pada komunitas dan memanfaatkan potensi lokal menjadi krusial untuk memutus mata rantai masalah ini, mengubah pandangan sampah dari beban menjadi potensi.

Ketua Tim PPMU-PkM Unhas, Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si., menegaskan bahwa edukasi ini dirancang untuk memutus rantai linear pengelolaan sampah konvensional—yang hanya berkisar pada kumpul, angkut, dan buang—menjadi siklus sirkuler yang jauh lebih produktif dan berkelanjutan.

“Sampah selama ini kerap dianggap sebagai residu akhir yang hanya mengotori lingkungan dan membebani pemerintah daerah. Namun, melalui pendekatan ekonomi sirkuler, kami mengedukasi para Ibu-ibu PKK bahwa apa pun yang keluar dari dapur, mulai dari sisa makanan hingga kulit buah, memiliki potensi untuk diputar kembali menjadi nilai ekonomi dan manfaat langsung di pekarangan rumah. Ini adalah langkah nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan keluarga sekaligus melestarikan lingkungan dari skala domestik,” ujar Dr. Darhamsyah di lokasi kegiatan, Minggu (28/6). Pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, tetapi juga memberdayakan masyarakat secara ekonomi, menciptakan peluang baru dari apa yang sebelumnya dianggap tak berguna.

Sebagai fondasi awal sebelum memasuki tahapan praktik, para peserta terlebih dahulu dibekali dengan teori komprehensif mengenai pemilahan sampah rumah tangga. Edukasi ini memegang peranan krusial agar kader PKK mampu mengenali dan memisahkan jenis limbah organik, anorganik, dan residu secara mandiri langsung dari sumber utamanya, yakni dapur keluarga. Pemahaman yang kuat tentang pemilahan sampah di sumbernya merupakan kunci utama keberhasilan ekonomi sirkuler, karena memungkinkan pengolahan lebih lanjut yang spesifik dan efektif untuk setiap jenis limbah. Tanpa pemilahan yang tepat, proses daur ulang atau pengolahan kembali akan menjadi tidak efisien dan rentan terhadap kontaminasi, sehingga membuang waktu dan sumber daya.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: