Susanna C. Kansil Mosse Pimpin Perayaan HUT ke-102 WKRI: Merawat Rahim Kehidupan Demi Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi

Susanna C. Kansil Mosse Pimpin Perayaan HUT ke-102 WKRI: Merawat Rahim Kehidupan Demi Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi
Satu Abad Lebih Berkarya, WKRI Sulsel Kukuhkan Peran Strategis Perempuan dalam Membangun Bangsa. (Foto: GN)
Bacakan Artikel

Dukungan dan apresiasi turut datang dari Penasihat Rohani WKRI DPD Sulsel sekaligus Ketua Komisi Kerawam dan Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Makassar, Pastor Albert Arina, Pr. Beliau mengapresiasi konsistensi Wanita Katolik RI dalam karya sosial dan pelayanan gerejawi selama ini.

"Perjalanan 102 tahun Wanita Katolik RI adalah kisah panjang perjuangan perempuan dalam Gereja. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan melanjutkan semangat pendiri Wanita Katolik RI, Raden Ayu Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmaseputra, dengan karya nyata yang relevan bagi zaman ini. Sejarah berdiri sejak 26 Juni 1924 di Yogyakarta dan diakui secara hukum pada 5 Februari 1952, WKRI kini terus berkembang dan sejak 1957 menjadi bagian dari World Union of Catholic Women’s Organisations (WUCWO)," ungkap Pastor Albert, memberikan konteks historis yang kaya tentang jejak langkah organisasi.

Senada dengan itu, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Makassar, Pastor Dericson Alverius Turnip, CICM, menegaskan pentingnya bagi Wanita Katolik Republik Indonesia untuk terus memperjuangkan semangat awal organisasi, diiringi kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman yang terus berubah.

Menurutnya, semangat menjaga harkat dan martabat perempuan, memelihara keutuhan keluarga, serta menjadi tonggak pertumbuhan keluarga harus tetap dipertahankan. Pastor Dericson menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas.

"Di dalam keluarga, anak-anak harus bisa menjadi anak yang betul-betul merasa dikasihi, dicintai, dan diperhatikan. Dengan begitu, setiap anak bangsa akan menjadi anak yang prima, bermartabat, dan unggul karena dikasihi dan merasakan kasih sayang dari orang tua. Jika setiap keluarga bagus, maka bangsa ini akan bagus," ujarnya, menyoroti peran sentral keluarga dalam pembangunan bangsa.

Pastor Dericson juga tidak luput menyoroti berbagai persoalan yang masih dihadapi keluarga saat ini, mulai dari konflik rumah tangga yang memecah belah hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berdampak serius pada tumbuh kembang anak.

"Anak yang terluka inilah yang kelak akan menjadi bibit-bibit kerumitan dan kerusakan bagi bangsa ini. Karena anak yang tidak bertumbuh dalam kasih, nantinya ke mana pun mereka pergi akan cenderung terlibat dalam konflik horizontal dengan sesama. Hal itu terjadi karena hati mereka ada yang kosong," tegasnya, menggambarkan konsekuensi jangka panjang dari lingkungan keluarga yang tidak sehat dan kurang kasih sayang.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: