Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi

Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi
Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi. -Foto: LTK
Bacakan Artikel

Intens.id, Sigi  – Di tengah tantangan pemulihan pascabencana, Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, berhasil mengubah lahan pertanian yang rusak parah menjadi sumber ekonomi baru yang inovatif. Berawal dari inisiatif ekologis untuk menstabilkan hamparan pasir sisa banjir, tanaman sereh wangi kini menjadi tulang punggung usaha desa yang produknya diminati pasar internasional, termasuk Amerika Serikat.

Desa Pulu telah lama menjadi saksi bisu kerapuhan alam. Terletak di kawasan yang rentan, desa ini berulang kali diterjang banjir bandang pasca gempa bumi dan hujan ekstrem. Antara tahun 2020 hingga 2021, bencana ini tak hanya merendam pemukiman dan lahan pertanian, tetapi juga mengubah tanah subur menjadi hamparan pasir yang tandus. Dampaknya sangat terasa, sekitar 1.365 jiwa terdampak dengan kerugian hasil pertanian yang mencapai hampir 70%, menyempitkan pilihan penghidupan bagi warga yang mayoritas adalah petani skala kecil.

Di tengah keputusasaan tersebut, muncul sosok Dilah Sahim, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu yang sekaligus pemilik usaha Lana Tumbavani. Dengan visi yang melampaui kepentingan ekonomi jangka pendek, Dilah memulai langkah yang fokus utamanya adalah pemulihan dan stabilisasi lahan. Sereh wangi (Cymbopogon nardus) dipilih bukan semata-mata sebagai komoditas, melainkan solusi ekologis. Tanaman ini dikenal mampu tumbuh di tanah miskin hara dan berpasir, serta memiliki sistem perakaran yang kuat untuk memperkokoh bantaran sungai. Dikombinasikan dengan penanaman bambu, sereh wangi efektif menahan erosi dan mengurangi risiko dampak banjir.

“Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan,” tutur Dilah, mengingat kembali masa-masa awal perjuangan mereka.

Namun, seiring berjalannya proses pemulihan, potensi ekonomi sereh wangi mulai terlihat. Daun sereh wangi memiliki kandungan minyak esensial yang tinggi, bahan baku utama dalam industri spa, aromaterapi, dan produk perawatan tubuh. Dari sinilah Lana Tumbavani lahir, sebuah usaha desa yang berkomitmen mengolah hasil tanaman restoratif ini menjadi produk bernilai tinggi. Nama “Lana Tumbavani” sendiri berasal dari bahasa Kaili, yang berarti “minyak sereh”, merefleksikan identitas dan akar lokal usaha ini.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: