Seni Mengelola Atensi: Membedah Fenomena Bad Marketing is Still Marketing dalam Komunikasi Politik Modern

Seni Mengelola Atensi: Membedah Fenomena Bad Marketing is Still Marketing dalam Komunikasi Politik Modern
Bahlil Lahadalia (Foto : @bahlillahadalia/post/x)
Bacakan Artikel

Dampak dari pergeseran gaya komunikasi ini secara langsung memaksa Partai Golkar melakukan reposisi kelembagaan, yang kemudian memicu gegar budaya antargenerasi. Di kalangan pemilih muda (Gen Z dan Milenial), fenomena ini berhasil memangkas jarak psikologis secara instan. Golkar yang tadinya dicap sebagai partai bapak-bapak yang membosankan, tiba-tiba hadir di halaman utama (FYP) media sosial mereka melalui produk meme culture yang ramah algoritma.

Namun, pendekatan ini menyimpan bom waktu; generasi muda adalah kelompok yang cepat bosan dan skeptis, sehingga popularitas mentah ini harus segera dikonversi menjadi kebijakan konkret terkait isu lapangan kerja atau ekonomi kreatif agar tidak dicap sebagai gimmick kosong. Sebaliknya, di kalangan generasi tua dan basis tradisional Golkar, fenomena ini memicu kecemasan mendalam atas degradasi nilai doktrin Karya Kekaryaan yang selama ini mengagungkan kehormatan, etika, dan wibawa organisasi.

Teori bad marketing is still marketing terbukti valid dalam menjaga relevansi politik di era digital, namun ia memiliki batas kedaluwarsa yang kaku. Strategi ini hanya bekerja efektif selama publisitas negatif yang dihasilkan tidak menyentuh wilayah hukum, moralitas fundamental, atau integritas ideologis. Kasus nyanyian Mas Bahlil Ganteng sejauh ini masih berada dalam koridor dramaturgi politik yang menghibur dan mampu memanen atensi publik secara optimal. Tantangan terbesar Golkar dan Bahlil ke depan adalah melakukan re-framing atau pembingkaian ulang: mengubah modal atensi mentah yang didapat dari viralitas digital menjadi legitimasi politik yang substansial. Tanpa adanya konversi ke arah kebijakan nyata yang berwibawa, keriuhan ini hanya akan menyisakan gema komedi, alih-alih warisan kepemimpinan yang kokoh.

Pilih Halaman: