Profesor Emil Salim Dianugerahi Penghargaan Seumur Hidup: Pesan Mendalam untuk Laut Indonesia

Profesor Emil Salim Dianugerahi Penghargaan Seumur Hidup: Pesan Mendalam untuk Laut Indonesia
Profesor Emil Salim Dianugerahi Penghargaan Seumur Hidup: Seruan Mendesak untuk Menyelamatkan Laut Indonesia.
Bacakan Artikel

"Kita mengalami tantangan besar terkait masalah lingkungan. Saya mohon bantuan Menteri Lingkungan Hidup, bisakah kita membangun Republik Indonesia tanpa merusak laut. Laut harus kita jadikan sebagai sumber kehidupan, bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai subjek yang harus dijaga keberlanjutannya," ujar Emil Salim, menyoroti urgensi pelestarian ekosistem maritim.

Pesan sederhana namun menohok itu langsung disambut hangat oleh KLH/BPLH. Bagi institusi yang memegang kendali atas kelestarian alam ini, kegelisahan sang mentor bangsa bukanlah sekadar harapan kosong, melainkan sebuah pekerjaan rumah yang harus dijawab dengan aksi nyata di lapangan. Menanggapi tantangan tersebut, Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa arah kebijakan perlindungan ekosistem pesisir saat ini memang sedang menjadi prioritas besar demi memastikan masa depan generasi mendatang.

"Saat ini kami sedang menggencarkan berbagai upaya perlindungan laut, termasuk kampanye pengurangan sampah plastik yang masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ekosistem pesisir dan laut Indonesia. Pesan Prof. Emil memperkuat komitmen kita bahwa laut harus dijaga sebagai sumber kehidupan yang menopang kesejahteraan masyarakat dan masa depan bangsa," kata Menteri Jumhur, menekankan komitmen pemerintah.

Langkah taktis yang dijalankan KLH/BPLH ini sekaligus menjadi jembatan untuk meneruskan estafet perjuangan yang selama ini melekat pada sosok Emil Salim. Sepanjang kiprahnya, pemikiran tokoh bangsa ini memang tidak pernah terbatas oleh sekat geografis. Dunia internasional bahkan telah lama mencatat namanya saat ia dipercaya memimpin sebagai President of the Governing Council of the United Nations Environment Programme (UNEP) serta menjadi penasihat di berbagai lembaga global, menunjukkan pengaruhnya yang melampaui batas negara.

Kendati demikian, warisan terbesar yang ditinggalkannya bagi Indonesia sebenarnya bukan terletak pada jabatan mentereng atau trofi berkilau seperti Zayed International Prize atau Blue Planet Prize. Warisan sejatinya hidup dalam nilai-nilai yang hari ini diadopsi menjadi napas gerakan KLH/BPLH: sebuah pembangunan yang adil, birokrasi yang bersih, penegakan hukum yang tegas, serta ruang hidup yang tetap ramah bagi lingkungan. Nilai-nilai luhur itulah yang terus mengalir menjadi inspirasi bagi generasi muda maupun para penentu kebijakan masa kini.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: