Memahami Asymmetric Information dalam Industri P2P Lending, Bahaya Adverse Selection bagi Investor Pemula

Memahami Asymmetric Information dalam Industri P2P Lending, Bahaya Adverse Selection bagi Investor Pemula
Memahami Asymmetric Information dalam Industri P2P Lending, Bahaya Adverse Selection bagi Investor Pemula. -Foto: Ilustrasi
Bacakan Artikel
Ade Putra Syahnas

Mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, Universitas Insan Cita Indonesia (UICI)

Akerlof mengilustrasikan informasi asimetris melalui pasar mobil bekas, di mana penjual mengetahui persis cacat tersembunyi dari mobilnya (disebut sebagai lemons atau produk buruk), sementara pembeli hanya bisa menebak-nebak kualitas mobil tersebut dari luar. Karena pembeli tidak dapat membedakan antara mobil berkualitas baik (peaches) dan mobil buruk (lemons), mereka hanya bersedia membayar dengan harga rata-rata. Akibatnya, penjual mobil berkualitas baik merasa dirugikan dan menarik produknya dari pasar, sehingga pada akhirnya pasar hanya dipenuhi oleh mobil-mobil rongsokan.

Teori Akerlof ini sangat relevan dan secara presisi memotret realitas dalam industri P2P Lending saat ini. Peminjam (sebagai analogi dari penjual mobil) mengetahui secara pasti niat, kondisi keuangan, dan risiko gagal bayar yang mereka miliki. Di sisi lain, investor (sebagai pembeli) berada dalam posisi buta informasi.

Ketimpangan ekstrem ini melahirkan bahaya mematikan yang disebut sebagai Adverse Selection atau seleksi buruk. Adverse Selection terjadi tepat sebelum transaksi pinjaman disepakati. Karena investor tidak bisa menyaring peminjam yang baik dari yang buruk secara kasat mata, platform P2P Lending cenderung menetapkan tingkat bunga yang tinggi untuk menutupi potensi risiko gagal bayar secara kolektif.

Dampak dari penyesuaian bunga yang tinggi ini menciptakan lingkaran setan yang membahayakan ekosistem. Peminjam yang berkualitas baik dan memiliki profil risiko rendah akan merasa bunga tersebut terlalu mahal dan tidak masuk akal, sehingga mereka memilih mundur dan mencari alternatif pendanaan lain seperti bank konvensional.

Sebaliknya, peminjam dengan profil risiko tinggi, yang mungkin memang sudah ditolak oleh institusi perbankan dan sangat putus asa mencari dana segar, tidak akan peduli dengan tingginya bunga yang ditawarkan. Pada akhirnya, investor pemula di platform tersebut justru secara sistematis 'memilih' untuk mendanai kumpulan peminjam dengan risiko gagal bayar tertinggi, layaknya mengoleksi lemons dalam teori Akerlof.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: