Kompleksitas Kebutuhan Energi di Sektor Industri

Perubahan kebutuhan operasional mendorong pelaku industri mulai memprioritaskan sistem energi yang lebih andal, fleksibel, dan resilien

Kompleksitas Kebutuhan Energi di Sektor Industri
Kebutuhan Energi untuk Sektor Industri Akan Semakin Kompleks .
Bacakan Artikel

โ€œBeberapa klien kami yang memiliki lokasi operasional di daerah terpencil tidak hanya memandang PLTS dari sisi efisiensi harga, namun juga sebagai langkah strategis untuk menghasilkan listrik langsung di titik konsumsi. Bagi mereka, logistik dan bahan bakar untuk pembangkit listrik di titik operasi merupakan salah satu risiko bottleneck yang serius. Dengan memanfaatkan PLTS, perusahaan dapat meminimalisir risiko tersebut. PLTS membantu menjaga keberlangsungan operasional, terutama ketika akses ke lokasi terputus, selama masih tersedia sinar matahari. Selain itu, apabila gangguan pasokan listrik berlangsung dalam waktu lama, keberadaan PLTS juga dapat mendukung keselamatan tim di lapangan dengan memastikan ketersediaan energi hingga bantuan tiba,โ€ papar Eka.

Eka menambahkan bahwa terdapat berbagai faktor lain yang mendorong adopsi PLTS di kalangan perusahaan klien Xurya. Misalnya, perusahaan berorientasi ekspor mulai memanfaatkan PLTS sebagai bagian dari upaya memperoleh sertifikasi atau label hijau untuk produknya. Di sektor ritel, penggunaan PLTS juga semakin dilirik untuk menjawab meningkatnya permintaan tenant terhadap properti yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, PLTS turut menjadi bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan dalam menghadapi gejolak harga energi dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Tren tersebut mulai terlihat semakin kuat di Indonesia. Hingga Desember 2025, kapasitas terpasang energi surya nasional tercatat mencapai 1.494 MW, menunjukkan pertumbuhan pemanfaatan energi surya yang semakin signifikan di berbagai sektor industri dan komersial. Tren ini juga sejalan dengan tingginya kebutuhan energi sektor industri yang masih menjadi konsumen energi terbesar di Indonesia.

Belakangan ini, perusahaan dengan kebutuhan pasokan listrik yang sensitif dan kritis pun mulai beralih memanfaatkan PLTS. Hal ini didorong oleh proses integrasi PLTS di Indonesia yang kini semakin andal sehingga risiko operasionalnya relatif minim. Salah satu contohnya adalah implementasi PLTS di PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya yang pada April lalu diresmikan sebagai PLTS Atap terbesar di Indonesia.

Eka menilai bahwa penggunaan PLTS di area Mulia Industri, yaitu PT Muliaglass dan PT Muliakeramik, menunjukkan bahwa kebutuhan energi industri kini bergerak ke arah sistem yang lebih kompleks, di mana PLTS tidak lagi berdiri sebagai solusi tunggal, melainkan menjadi bagian dari integrasi sistem energi perusahaan. Ke depannya, integrasi sistem penyimpanan berbasis baterai pun diperkirakan akan meningkat terutama pada industri yang membutuhkan pasokan listrik kritis seperti pabrik kaca, pabrik komponen elektronik, rumah sakit, dan lain sebagainya.

Ke depan, Xurya melihat bahwa arah perkembangan energi terbarukan di Indonesia akan semakin ditentukan oleh kemampuan industri dalam membangun sistem energi yang terintegrasi, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan operasional yang terus berkembang.

Pada akhirnya, transformasi ini akan bergantung pada sejauh mana industri mampu membangun ketahanan energi yang tidak hanya efisien secara biaya, tetapi juga andal dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: