Imlek 2026 dan Horizon Filsafat: Membaca Warisan Toleransi Abdurrahman Wahid secara Filosofis

Muhajirin Penggiat Gus Durian Sulsel/Dosen Pemikiran Islam UIM Al-Gazali Makassar Perayaan Imlek 2026 seharusnya dimaknai lebih dari sekadar seremoni budaya; ia merupakan peristiwa sosial yang menan...

Imlek 2026 dan Horizon Filsafat: Membaca Warisan Toleransi Abdurrahman Wahid secara Filosofis
Bacakan Artikel
Muhajirin Penggiat Gus Durian Sulsel/Dosen Pemikiran Islam UIM Al-Gazali Makassar

Jalurdua.com Jalurdua.com Perayaan Imlek 2026 seharusnya dimaknai lebih dari sekadar seremoni budaya; ia merupakan peristiwa sosial yang menantang kedalaman pemahaman kita tentang keberagaman. Dalam konteks pemikiran Islam—terutama dalam ranah filsafat, teologi, dan tasawuf—momentum ini mengundang kita untuk melakukan refleksi mendalam mengenai bagaimana Islam memandang “yang lain” dalam kerangka ontologi, epistemologi, dan etika. Dalam hal ini, kita tidak hanya berbicara tentang ritual dan tradisi, tetapi juga tentang makna yang lebih dalam yang dapat kita gali dari interaksi antarbudaya.

Warisan pemikiran Abdurrahman Wahid, lebih dikenal sebagai Gus Dur, sangat relevan jika dibaca dari sudut pandang ini. Gus Dur tidak hanya berbicara tentang toleransi sebagai kebijakan sosial, tetapi juga sebagai kesadaran intelektual dan spiritual. Dalam banyak sikap beliau, tersirat bahwa toleransi bertumpu pada cara pandang filosofis tentang manusia dan kebenaran. Dalam konteks ini, kita perlu menggali lebih dalam tentang bagaimana Gus Dur menginterpretasikan keberagaman dan toleransi dalam masyarakat Indonesia yang multikultural.

Pluralitas sebagai Keniscayaan Ontologis

Dalam tradisi filsafat Islam, realitas dianggap sebagai sesuatu yang tidak tunggal secara fenomenal, tetapi bersumber dari Yang Tunggal. Para filsuf seperti Al-Farabi dan Ibn Sina memandang keberagaman sebagai emanasi dari Wujud Pertama. Keberagaman bukanlah kesalahan kosmik, melainkan konsekuensi logis dari limpahan wujud. Dalam konteks sosial, pluralitas agama dan budaya merupakan keniscayaan ontologis. Hal ini tidak berada di luar rencana Ilahi. Dalam kerangka ini, perayaan Imlek bukanlah sekadar ekspresi identitas etnis atau agama tertentu, tetapi merupakan bagian dari mozaik keberadaan yang sah secara ontologis.

Gus Dur, meskipun tidak selalu mengungkapkannya dalam bahasa filsafat sistematis, mempraktikkan pandangan ini. Ia melihat Indonesia sebagai ruang perjumpaan, bukan arena dominasi. Keberagaman bukanlah sesuatu yang perlu ditaklukkan, melainkan merupakan fakta dari eksistensi itu sendiri. Dalam pandangan Gus Dur, setiap individu memiliki hak untuk mengekspresikan identitasnya, dan perayaan Imlek menjadi simbol dari pengakuan terhadap hak tersebut. Melalui perayaan ini, kita diingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Kebenaran dan Kerendahan Epistemologis

Masalah toleransi sering kali berakar dari klaim kebenaran, di mana dimensi epistemologis memainkan peranan penting. Dalam tradisi teologi Islam, terdapat kesadaran bahwa pemahaman manusia terhadap kebenaran bersifat terbatas. Bahkan dalam diskursus kalam, perbedaan mazhab menunjukkan bahwa interpretasi selalu berada dalam ruang kemungkinan. Filsafat Islam mengajarkan kehati-hatian epistemik, membedakan antara kebenaran absolut milik Tuhan dan kebenaran relatif dalam penafsiran manusianya. Kesadaran ini menghasilkan kerendahan hati intelektual (intellectual humility).

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: