Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Kamrusamad Tekankan Peran Swasta dan Hilirisasi saat Audiensi IKA ISMEI SULSELBARTRA

Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Kamrusamad Tekankan Peran Swasta dan Hilirisasi saat Audiensi IKA ISMEI SULSELBARTRA
Audiensi IKA ISMEI SULSELBARTRA
Bacakan Artikel

Intens.id,

Pangkep - Anggota DPR RI Kamrusamad menegaskan pentingnya mengoptimalkan empat instrumen utama penggerak ekonomi nasional untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 8 persen pada tahun 2029. Hal tersebut disampaikannya saat menerima audiensi dari pengurus dan Ikatan Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI).

Dalam pertemuan tersebut, Kamrusamad menyoroti bahwa pencapaian target pertumbuhan 8 persen sangat krusial agar Indonesia terlepas dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Namun, ia mengingatkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memiliki keterbatasan dalam menopang target besar tersebut.

"APBN memiliki keterbatasan. Meskipun postur APBN 2027 yang sedang dibahas diperkirakan menembus angka Rp4.097,2 triliun, kita tetap membutuhkan modal yang jauh lebih besar. Untuk mencapai target 8 persen di 2029, berdasarkan perhitungan RPJP, kita membutuhkan investasi tidak kurang dari Rp13.000 triliun sepanjang periode 2025 hingga 2030," ujar Kamrusamad.

Untuk menutup kebutuhan pembiayaan tersebut, ia memaparkan empat instrumen pendorong ekonomi yang harus bergerak beriringan. Strategi ini mencakup pengelolaan pembangunan yang berkeadilan dan tepat sasaran di pusat maupun daerah, konsolidasi aset BUMN melalui badan Danantara, serta akselerasi masuknya investasi dari Penanaman Modal Asing (PMA) maupun domestik. Di samping itu, dorongan dan partisipasi aktif dari sektor swasta (private sector) ditegaskan menjadi kekuatan inti utama penggerak pertumbuhan nasional.

Soroti Penurunan Kontribusi Manufaktur

Selain masalah pembiayaan, Kamrusamad menyoroti tantangan deindustrialisasi yang dialami Indonesia. Saat ini, pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5,45 persen pada semester pertama tahun ini masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga.

Sementara itu, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus mengalami penurunan selama dua dekade terakhir pasca-reformasi, hingga tersisa 18,9 persen pada tahun 2025.

"Padahal, idealnya negara berkembang yang ingin take off menjadi negara maju harus memiliki kontribusi manufaktur terhadap PDB di kisaran 20 hingga 30 persen. Oleh karena itu, pemerintah saat ini gencar mendorong industrialisasi melalui agenda hilirisasi di berbagai sektor unggulan, mulai dari mineral, pangan, hingga energi seperti pengembangan Biodiesel 50 (B50)," jelasnya.

Dorong Mahasiswa Ekonomi Lahirkan Local Champion

Di akhir pemaparannya, Kamrusamad mendorong para mahasiswa dan alumni ekonomi yang tergabung dalam ISMEI untuk mengambil peran strategis melalui riset dan kajian, baik di bidang ekonomi mikro, makro, maupun keuangan dan akuntansi.

Ia mencontohkan wilayah Sulawesi yang memiliki potensi kekayaan alam melimpahโ€”mulai dari sektor pertambangan mineral, perikanan, pertanian, hingga energi terbarukanโ€”yang memerlukan pengawalan akademis agar mampu melahirkan local champion di daerah.

"Jika kita tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029, Indonesia akan sulit keluar dari middle-income trap. Di sinilah peran teman-teman mahasiswa ekonomi untuk memberikan sumbangsih pemikiran dan pengawalan kebijakan demi keberlanjutan pembangunan nasional," pungkasnya.