Cahaya Literasi di Ujung Pesisir: KKN Unhas Gelombang 116 Bangun Desa Laguruda, Takalar

Merajut Asa dengan Buku: Mahasiswa Unhas Gelar Pengabdian untuk Desa Cerdas di Sanrobone

Cahaya Literasi di Ujung Pesisir: KKN Unhas Gelombang 116 Bangun Desa Laguruda, Takalar
Bacakan Artikel

Program ketiga, "Cerdas Mengulas Buku", dirancang untuk melatih anak-anak memahami isi bacaan, mengemukakan pendapat, serta menyampaikan pemikiran mereka secara lisan maupun tulisan, demi membangun budaya berpikir kritis sejak dini. Selanjutnya, "Metode Membaca Nyaring" mengajak anak-anak menikmati cerita melalui pembacaan ekspresif, yang tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa, tetapi juga memperkuat imajinasi, empati, dan rasa percaya diri. Program kelima, "Menulis Cerita Berbasis Buku Bacaan", mendorong anak-anak menuangkan ide, pengalaman, dan imajinasi mereka ke dalam bentuk cerita sederhana, menumbuhkan keberanian berekspresi melalui tulisan. Terakhir, "Membuat Proyek Berbasis Buku Bacaan" mengubah isi buku menjadi karya nyata melalui proyek-proyek kreatif, menunjukkan bahwa buku adalah inspirasi yang dapat menghasilkan manfaat konkret.

Selain program utama berbasis literasi, tim KKN juga menyiapkan beberapa program tambahan yang disesuaikan dengan karakteristik unik Desa Laguruda. Salah satunya adalah "Pembuatan Peta Lahan Pertanian Kering", sebuah upaya menyediakan informasi dasar mengenai potensi lahan yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk pengembangan sektor pertanian. Program "Jejak Bahasa Pesisir" hadir sebagai inisiatif dokumentasi kekayaan bahasa dan budaya lokal, menghimpun kosakata, ungkapan, dan cerita masyarakat pesisir agar warisan budaya ini tetap lestari. Sementara itu, "Pahlawan Cilik Penjaga Laut" dirancang untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan kepada anak-anak sejak dini melalui permainan edukatif, kampanye kebersihan pantai, dan pengenalan ekosistem laut, mengajak generasi muda mencintai laut sebagai sumber kehidupan.

Seluruh program ini akan diimplementasikan melalui kolaborasi erat dengan Pemerintah Desa Laguruda, sekolah-sekolah, tokoh masyarakat, pemuda, serta berbagai unsur masyarakat lainnya. Kolaborasi menjadi kunci utama agar setiap kegiatan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan mampu meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh seluruh warga desa.

Dr. Sumarlin Rengko HR, S.S., M.Hum., yang akrab disapa Rengkoโ€™, selaku Dosen Pendamping KKN, menekankan pentingnya pendekatan humanis dan partisipatif. "Mahasiswa KKN hadir bukan untuk mengajarkan masyarakat seolah-olah mereka tidak mengetahui apa-apa. Sebaliknya, mahasiswa hadir untuk belajar bersama masyarakat, mendengarkan kebutuhan mereka, kemudian menghadirkan solusi melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki. Literasi menjadi pintu masuk membangun peradaban desa karena dari membaca akan lahir pemikiran, dari pemikiran akan lahir tindakan, dan dari tindakan akan lahir perubahan," ujarnya. Ia juga berharap mahasiswa mampu menjaga etika, membangun komunikasi yang baik, serta menjadikan KKN sebagai ruang pembelajaran kehidupan yang sesungguhnya.

Senada dengan itu, Koordinator Desa KKN, Andi Andhika Tumenggung Akhmar atau yang akrab disapa Andika, mengungkapkan bahwa program-program telah disusun berdasarkan observasi lapangan dan komunikasi intensif dengan pemerintah desa. "Kami ingin kehadiran KKN benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Program yang kami susun berangkat dari potensi dan kebutuhan Desa Laguruda. Kami berharap seluruh kegiatan dapat terlaksana dengan baik melalui kerja sama pemerintah desa, sekolah, dan seluruh masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan bahkan setelah masa KKN berakhir," ungkap Andika penuh harap.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: