Sederhana Mengabarkan Versi penuh
Kolom

Sumpah Pemuda: Dari Ikrar Bersama ke Ikhtiar Pendidikan

Oleh Harian Intens 29 Oct 2026 18:50 2 menit baca

Oleh: Muamar Qadar
Program Doktoral Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar

Setiap 28 Oktober, kita mengenang ikrar para pemuda pada 1928: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Memasuki usia ke-98, pertanyaannya bukan lagi seberapa hafal kita pada bunyi ikrar tersebut, melainkan seberapa hidup nilai-nilai itu dalam kerja nyata generasi hari ini.

Para peserta Kongres Pemuda II adalah pelajar dan kaum terdidik dari berbagai daerah. Pendidikanlah yang membuka cakrawala mereka tentang Indonesia sebagai gagasan bersama. Dengan kata lain, persatuan lahir di ruang belajar sebelum menjelma menjadi gerakan.

Bagi saya yang bergelut di dunia pendidikan dan penelitian, pesan ini terasa amat dekat. Bahasa Indonesia kini menjadi medium untuk berdiskusi, meneliti, dan menyusun ilmu lintas suku serta daerah.

Namun, persatuan menuntut lebih dari sekadar satu bahasa; ia menuntut keadilan akses. Ketika menelaah kebijakan seperti penerimaan murid baru, pertanyaannya selalu sama: apakah setiap anak, dari kota besar hingga pelosok, mendapat kesempatan belajar yang setara?

Tantangan pemuda hari ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan kesenjangan mutu pendidikan, derasnya hoaks, dan menipisnya budaya berpikir kritis.

Kerja kebangsaan juga bisa dimulai dari hal terdekat, seperti pemberdayaan desa melalui kelompok tani dan UMKM—tempat lahan, tenaga, serta modal bertemu dalam semangat gotong royong.

Maka, peringatan ke-98 ini patut kita maknai sebagai ajakan untuk bekerja. Pemuda 1928 telah menunaikan bagiannya melalui ikrar; kini giliran kita menunaikannya melalui ikhtiar: belajar sungguh-sungguh, meneliti dengan integritas, serta mengabdi bagi masyarakat.