Intens.id Versi penuh
News

Satu Dekade MAPASKA, Melalui 'Mannanro Nakku' Anak Muda Kajang Buktikan Adat Bisa Selamatkan Bumi

Oleh Arman Bassara 27 Jul 2026 18:57 3 menit baca

Intens.id, Bulukumba - Bagi masyarakat Kajang, alam dan kebudayaan bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Keduanya terikat dalam filosofi hidup yang saling menopang. Spirit inilah yang dihidupkan kembali oleh Mahasiswa Pemerhati Alam dan Seni Budaya Kajang (MAPASKA) melalui perhelatan Wisata Alam dan Budaya bertajuk “Mannanro Nakku Vol. 1” yang berlangsung meriah pada Sabtu dan Minggu, 25–26 Juli 2026.

Kegiatan yang berpusat di dua lokasi, Pantai Ujung Cinta di Desa Lolisang dan Kawasan Adat Ammatoa di Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang ini menjadi kado istimewa bagi perjalanan satu dekade MAPASKA dalam mengawal kelestarian tradisi dan lingkungan lokal.

Rangkaian acara diawali pada Sabtu pagi di Pantai Ujung Cinta. Suasana sakral langsung terasa saat penyambutan peserta diiringi Anggaru dan indahnya Tari Tope Le'leng, sebelum akhirnya dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Lolisang.

Pantai yang riuh oleh hembusan angin laut itu mendadak menjelma menjadi ruang diskusi ilmiah nan hangat lewat Bincang Sastra dan Seminar Kebudayaan. Tiga narasumber, Wahidin, S.Pd., Andi Syarifuddin, dan Asriandi dipandu moderator Reskianto, mengupas tuntas kearifan lokal Kajang di hadapan para peserta.

Tak berhenti pada wacana, festival ini menyuguhkan pengalaman indrawi yang kaya. Sepanjang siang hingga malam, pengunjung disuguhi Pameran Kebudayaan yang memajang artefak tradisional, pakaian adat khas Kajang, serta galeri fotografi. Bau harum gula merah dan beras ketan merambah udara saat demonstrasi penganan khas Kajang, Dumpi Eja dan Ruhu'-ruhu', digelar secara langsung.

Keceriaan kian pecah tatkala permainan tradisional (Akkarena) seperti donggak, cangkong, dan galacang dimainkan kembali oleh generasi muda. Di sudut lain, para siswa SMA tampak antusias mengikuti pelatihan Single Rope Technique (SRT) sebuah keterampilan dasar penjelajahan alam yang dibagikan oleh instruktur MAPASKA.

Memasuki malam hari, panggung kesenian membakar semangat para peserta. Atraksi memukau Tari Pabbitte Passappu, alunan syahdu alat musik meniup Basing, tuturan sastra lisan Sinrilik oleh Arif Dg Rate, hingga pementasan Rupama oleh pegiat budaya Rusli Mallatong, sukses membius penonton. Suasana haru dan haru penuh rasa syukur menyelimuti Pantai Ujung Cinta saat pemotongan tumpeng menandai puncak perayaan Milad ke-10 MAPASKA, yang dilanjutkan dengan panggung ekspresi bebas.

Ketua Umum MAPASKA, Awaluddin Nur, menegaskan bahwa acara ini lahir dari ikhtiar merawat ingatan kolektif. Mannanro Nakku membawa spirit merawat rasa rindu: rindu akan alam yang lestari dan rindu akan akar budaya yang selaras dengan nilai-nilai Pasapasang ri Kajang.

"Di momentum 10 tahun ini, kami ingin menegaskan kembali komitmen MAPASKA untuk terus menjadi garda terdepan. Kami berharap ini bukan sekadar agenda seremoni biasa, melainkan gerakan berkelanjutan yang menyalakan api kesadaran generasi muda," ujarnya

Jagai Linoa Nanajaga Tokki: Aksi Nyata untuk Alam

Dampak positif kegiatan ini dirasakan langsung oleh masyarakat dan pegiat budaya lokal. Rusli Mallatong menilai paduan seni dan aksi lingkungan yang diusung MAPASKA sangat relevan dengan ajaran leluhur Kajang.

"Kegiatan ini membawa dampak positif karena memberi edukasi langsung seperti menjaga kebersihan dan menanam pohon. Ini sangat senada dengan pesan Pasapasang ri Kajang: 'Jagai linoa nanajaga tokki' (jagalah alam agar alam menjagamu)," tutur Rusli.

Pesan moral tersebut dibuktikan secara konkret pada hari kedua, Minggu (26/7). Rombongan peserta bergeser ke Kawasan Adat Ammatoa Kajang di Desa Tanah Towa untuk melangsungkan aksi bersih lingkungan dan ziarah budaya.

Sebagai penutup perjalanan dua hari yang berkesan, seluruh panitia dan peserta kembali ke Pantai Ujung Cinta pada sore harinya. Mereka melakukan aksi penanaman bibit pohon mangrove di sepanjang pesisir—sebuah aksi nyata kepedulian lingkungan yang sekaligus menandai peringatan Hari Mangrove Sedunia.

Ketua Panitia Pelaksana, Reski, berharap jejak kecil yang ditinggalkan melalui Mannanro Nakku Vol. 1 ini mampu memperkuat pemahaman masyarakat—khususnya pemuda—tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara batas-batas adat dan kelestarian ekosistem pesisir.

Topik terkait
Mapaska Kajang Konservasi Budaya Literasi Pesisir Adat Bulukumba Hari Mangorve Internasional