intens.id Versi penuh
Opini

Salah Kaprah Arsitektur Koperasi Desa Merah Putih

Oleh Redaksi Intens 28 May 2026 11:49 3 menit baca

intens.id Oleh: Faris Jumawan

Akademisi/Dosen Arsitektur Universitas Fajar

Intens.id -Pembangunan fisik di negeri ini sering kali terjebak dalam jargon kemegahan tanpa memikirkan fungsi jangka panjang. Salah satu contoh nyata yang belakangan ini menarik perhatian adalah pembangunan Koperasi Merah Putih. Membawa nama besar yang sarat akan semangat nasionalisme, proyek ini sayangnya tampak dirancang terburu-buru, dengan metode penentuan lokasi yang terkesan asal tunjuk, serta model bangunan yang tidak nyambung dengan karakteristik masyarakat tempatan. Sebagai seorang arsitek, saya melihat ada lampu kuning yang menyala: proyek ini sedang berjalan menuju kegagalan fungsi atau menjadi monumen mati berikutnya.

​Kesalahan fatal pertama dimulai dari pemilihan lokasi yang mengabaikan analisis tapak (site analysis) yang matang. Dalam dunia arsitektur dan tata kota, sebuah bangunan tidak boleh berdiri secara terisolasi. Ia harus mudah diakses dan berada di jalur pergerakan alami manusia. Ketika sebuah koperasi dibangun di lahan yang sepi atau sulit dijangkau hanya karena tanahnya tersedia atau instruksi sepihak dari atas, maka koperasi tersebut sejak awal sudah kehilangan calon pengunjungnya. Masyarakat harus mengeluarkan ongkos dan energi ekstra hanya untuk datang, sebuah hal yang sangat bertolak belakang dengan prinsip dasar koperasi yang seharusnya meringankan beban anggotanya.

​Kesalahan kedua yang tidak kalah fatal adalah pemaksaan model bangunan. Koperasi Merah Putih ini dibangun dengan model gedung tertutup, lengkap dengan dinding kaca dan pendingin ruangan (AC), persis seperti gerai ritel modern di kota-kota besar. Masalahnya, gedung ini ditempatkan di wilayah pedesaan yang masyarakatnya masih kental dengan suasana tradisional. Di perkotaan, AC dan kaca mungkin lambang kenyamanan. Namun di desa, arsitektur seperti ini justru menciptakan benteng psikologis. Warga desa, petani, atau nelayan yang terbiasa dengan ruang terbuka akan merasa sungkan, minder, atau canggung untuk masuk ke dalam gedung yang terasa begitu steril dan formal.

​Fenomena ini mengingatkan kita pada proyek-proyek pasar modern bodong yang banyak dibangun di desa-desa beberapa tahun lalu. Pemerintah membangun gedung pasar yang bersih, rapi, dan berkeramik.

Namun apa yang terjadi kemudian? Pasar tersebut mangkrak, sepi, dan para pedagang justru memilih menggelar dagangannya di pinggir jalan luar pasar. Mengapa? Karena perencana proyek gagal memahami perilaku manusia. Masyarakat desa menyukai kepraktisan; mereka suka belanja yang bisa sambil lalu, melihat dagangan yang dihamparkan di ruang terbuka, dan bisa saling menyapa dengan santai. Konsep gedung tertutup mematikan ruh interaksi sosial tersebut.

​Jika kondisi ini terus dipaksakan, Koperasi Merah Putih di pedesaan dihadapkan pada dua skenario buruk. Pertama, jika koperasi ini disuntik modal raksasa dan memonopoli komoditas, ia berpotensi mematikan warung-warung kelontong kecil milik warga yang sudah puluhan tahun menghidupkan ekonomi desa. Kedua—dan ini skenario yang paling mungkin terjadi—koperasi ini justru akan kalah saing dan gulung tikar. Koperasi modern yang kaku tidak akan bisa meniru kekuatan utama warung kelontong desa, yaitu ikatan emosional antartetangga dan sistem bon (utang informal) yang kerap menjadi penyelamat warga di masa-masa sulit menjelang panen.

​Pelajaran penting dari kasus ini adalah bahwa arsitektur bukan sekadar urusan estetika, gambar yang bagus di atas kertas, atau sekadar mendirikan dinding dan atap. Arsitektur adalah tentang bagaimana manusia menghidupkan ruang tersebut.

Membangun koperasi di desa dengan mentalitas kota tanpa riset sosiologis yang mendalam adalah bentuk pemborosan anggaran negara. Jika Koperasi Merah Putih benar-benar ingin menyejahterakan masyarakat, rombaklah pendekatannya. Bukalah ruangnya agar lebih inklusif, sesuaikan dengan budaya gotong royong warga, dan tempatkan ia di jantung aktivitas masyarakat, bukan di tempat terasing yang hanya indah di dalam laporan proyek.

Topik terkait
KDMP Arsitektur