Intens.id Versi penuh
Environmental

Puluhan Titik Panas Karhutla Terdeteksi di Papua Barat, Ribuan Hektare Lahan Terbakar

Provinsi Papua Barat menghadapi ancaman serius dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan deteksi 36 titik panas dan luas area terbakar yang mencapai ribuan hektare, mendorong respons terpadu dari berbagai instansi.

Oleh Redaksi Intens.id 29 Aug 2026 18:24 4 menit baca

Intens.id, Jakarta - Provinsi Papua Barat tengah menghadapi situasi darurat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas. Data terbaru dari Satelit NASA-Terra/Aqua, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20 menunjukkan adanya 36 titik panas di wilayah tersebut hingga Jumat (28/8) pukul 19.00 WIB.

Informasi ini dikonfirmasi oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, pada Sabtu (29/8).

Dari total puluhan titik panas yang terdeteksi, analisis lebih lanjut mengungkapkan tingkat kepercayaan yang bervariasi. Satu titik panas dikategorikan memiliki kepercayaan rendah, sementara 31 titik panas lainnya menunjukkan tingkat kepercayaan sedang.

Empat titik panas sisanya berada dalam kategori kepercayaan tinggi, menandakan potensi kebakaran aktif yang signifikan dan memerlukan perhatian segera. Skala dampak karhutla ini juga tercermin dari catatan Sistem Informasi Pemantauan Hutan dan Gambut (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, yang mengindikasikan bahwa luas area terbakar di Papua Barat telah mencapai 2.496,39 hektare per 27 Agustus 2026. Angka ini menunjukkan kecepatan penyebaran api yang mengkhawatirkan dan ancaman serius terhadap ekosistem serta masyarakat setempat.

Penanganan Terpadu dan Pengerahan Fasilitas Pemadaman

Menyikapi situasi ini, BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait lainnya telah menggelar penanganan terpadu. Fokus utama dari upaya ini adalah menyekat penyebaran api agar tidak meluas ke area lain, sekaligus melindungi keselamatan warga lokal yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.

Berton SP Panjaitan menjelaskan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan untuk memastikan efektivitas operasi. Pengerahan fasilitas pemadaman juga ditingkatkan dengan tujuan menghentikan laju kebakaran secepat mungkin dan memperkuat kesiapsiagaan di wilayah-wilayah Papua Barat lainnya yang berpotensi terdampak.

Langkah-langkah operasional secara khusus ditingkatkan di Kabupaten Teluk Bintuni, yang dilaporkan oleh BPBD Provinsi Papua Barat sebagai daerah dengan luasan area terbakar tertinggi kedua di tingkat provinsi. Selain Teluk Bintuni, karhutla juga terdeteksi di Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak, menunjukkan cakupan bencana yang cukup luas. Bencana karhutla di Teluk Bintuni ini telah terdeteksi sejak 22 Agustus 2026, dan sejak saat itu, upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif.

Operasi Pemadaman Udara di Teluk Bintuni

Salah satu strategi utama dalam penanganan karhutla di Teluk Bintuni adalah pengerahan helikopter water bombing jenis AS350B3e dengan registrasi PK-DBM. Armada udara ini telah memainkan peran krusial dalam upaya pemadaman, dengan melakukan 69 kali tumpahan air yang totalnya mencapai 69 ribu liter. Misi utama helikopter ini adalah mengamankan kawasan di sekitar fasilitas kilang gas alam cair Tangguh LNG, yang merupakan objek vital nasional di wilayah tersebut.

Namun, operasi pemadaman di Teluk Bintuni menghadapi tantangan signifikan. Area yang terbakar meliputi hutan lebat dengan pepohonan tinggi dan kerapatan tutupan vegetasi yang padat.

Kondisi geografis ini menyulitkan siraman air dari udara untuk mencapai permukaan tanah secara langsung, sehingga efektivitas pemadaman menjadi terhambat. Meskipun demikian, strategi penyiraman udara tersebut setidaknya mampu membasahi vegetasi di lapisan atas, yang berfungsi untuk menghambat perambatan kobaran api dan mencegahnya meluas dengan cepat.

Pemanfaatan Teknologi Drone untuk Pemantauan Akurat

Untuk meningkatkan akurasi dan efektivitas operasi pemadaman, tim di lapangan juga memanfaatkan teknologi canggih berupa drone pemantau suhu milik BP Berau Ltd. Drone ini terbukti sangat membantu dalam mengidentifikasi titik-titik panas yang sulit dijangkau atau terlihat dari darat.

Pada Jumat (28/8), drone tersebut berhasil menemukan 14 titik panas yang tersebar di empat klaster di sekitar area Tangguh LNG. Hasil pemetaan yang presisi dari drone ini menjadi panduan penting bagi tim pemadam kebakaran.

Berdasarkan data yang diperoleh dari drone, dua operasi pemadaman udara dilakukan secara terarah. Sebanyak 26 kali siraman air difokuskan di klaster 3, sementara 28 kali siraman dilakukan di klaster 1.

Upaya pemadaman yang terpandu ini membuahkan hasil positif, di mana api utama berhasil dipadamkan di kedua klaster tersebut, dan hanya menyisakan asap tipis. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya kombinasi teknologi dan strategi yang tepat dalam menghadapi karhutla di medan yang sulit.

Tantangan Geografis dan Peningkatan Kapasitas

Laporan dari BPBD Provinsi Papua Barat menyoroti beberapa tantangan utama dalam penanganan karhutla di wilayah tersebut. Faktor aksesibilitas menjadi kendala serius, mengingat banyak lokasi kebakaran berada di daerah terpencil dengan medan yang sulit dijangkau oleh tim darat.

Selain itu, perkembangan titik panas yang dinamis dan keselamatan operasi penerbangan juga menjadi bahan kalkulasi utama dalam pengerahan unit bantuan. Kondisi geografis berupa hutan lebat dan pegunungan membutuhkan pendekatan khusus serta sumber daya yang memadai.

Untuk mengatasi keterbatasan ini, kapasitas pemadaman dari udara dipastikan akan terus meningkat. Hal ini seiring dengan tibanya helikopter Super Puma milik BP Berau Ltd. yang akan segera bergabung dalam operasi.

Selain itu, helikopter tipe Kamov juga dijadwalkan akan menyusul ke lokasi operasi, menambah kekuatan armada udara untuk pemadaman. Penambahan unit helikopter ini diharapkan dapat mempercepat upaya pemadaman dan menjangkau area-area yang sebelumnya sulit diakses.

Berton SP Panjaitan menegaskan bahwa hingga Jumat (28/8), kondisi karhutla di sekitar wilayah Tangguh LNG terpantau cukup terkendali. Meskipun demikian, pengawasan ketat tetap diberlakukan untuk mengantisipasi kemunculan bara api susulan atau titik api baru. Kewaspadaan tinggi dan kesiapsiagaan berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan bencana karhutla di Papua Barat dapat ditangani secara efektif dan dampaknya diminimalisir.

Topik terkait
Papua Karhutla BNPB