Misteri 'Ditambalnya' Foto Wabup Soppeng di Arena Bhayangkara Cup III: Ulah Siapa?
Intens.id, Soppeng - Gelaran kejuaraan Bhayangkara Cup III Grasstrack dan Motocross 2026 di Sirkuit Larakkiang, Pakkanrebete, Kecamatan Lalabata, mendadak jadi perbincangan hangat publik Soppeng. Bukan semata-mata karena deru mesin para pembalap nasional yang memacu adrenalin, melainkan dipicu insiden janggal di panggung utama: foto Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, mendadak "hilang" ditutup potongan spanduk.
Peristiwa yang menyita perhatian itu diperkirakan terjadi pada Jumat malam, 30 Oktober 2026, tepat setelah sesi latihan bersama usai. Hingga saat ini, belum ada satu pun pihak yang bertanggung jawab atau mengaku memberikan perintah atas aksi penambalan visual tersebut.
Panggung utama yang berdiri persis di belakang garis start semula memperlihatkan backdrop resmi. Di sana terpampang jajaran foto Kapolda Sulsel, Kapolres Soppeng, serta Pasangan Bupati H. Suwardi Haseng dan Wakil Bupati Selle KS Dalle yang mengenakan seragam dinas putih.
Namun, suasana berubah drastis pada keesokan harinya. Bagian foto pasangan kepala daerah tersebut tampak ditimpa oleh potongan spanduk baru yang hanya menampilkan foto Bupati Suwardi Haseng berkaus polo kuning. Otomatis, keberadaan sosok Wakil Bupati tertutup rapat dari pandangan publik.
Perubahan mendadak ini langsung memantik spekulasi dan tanda tanya besar di kalangan penonton serta panitia. Sebagian pihak mempertanyakan apakah ada yang keberatan dengan keberadaan foto pasangan tersebut, apakah materi backdrop sebelumnya dianggap menabrak aturan keprotokoleran, atau justru aksi ini menjadi sinyal adanya dinamika politis di lingkup pemerintahan daerah.
Seorang panitia berinisial TA, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengaku sangat terkejut saat mendapati perubahan tersebut. Menurut kesaksiannya, sebelum insiden terjadi, memang sempat beredar rumor bahwa ada oknum di luar struktur kepanitiaan yang meminta agar backdrop diganti hanya dengan foto tunggal Bupati.
"Saya sempat dengar ada permintaan untuk mengganti backdrop menggunakan foto Pak Bupati saja. Tapi hal itu tidak dilakukan panitia karena memang tidak ada perintah resmi dari Pak Ketua Panitia. Makanya saya heran sekaligus penasaran kenapa tiba-tiba foto backdrop yang beredar sudah diganti atau ditambal," ujar TA.
Menariknya, misteri ini makin tebal setelah TA kembali mengecek lokasi sirkuit sekitar satu jam kemudian. Tambalan potongan spanduk foto tunggal Bupati tersebut rupanya telah dilepas kembali. Kendati tambalan itu kini sudah tiada, jejak digitalnya telah telanjur beredar luas dalam bentuk dokumentasi foto di tengah masyarakat.
Hal ini memicu pertanyaan krusial yang belum terjawab: siapa oknum yang berani menempelkan potongan spanduk itu, dan siapa pula yang kemudian mencopotnya?
Insiden ini mungkin terlihat seperti kekeliruan teknis lapangan, namun sejatinya menyentuh tiga persoalan mendasar. Pertama, terkait tata kelola acara yang terbilang longgar. Berubahnya backdrop panggung utama tanpa sepengetahuan panitia mengindikasikan lemahnya pengamanan area vital, padahal ajang ini turut melibatkan unsur pimpinan kepolisian.
Kedua, ada persoalan etika protokoler dan isyarat politik. Menutup secara sengaja gambar wakil kepala daerah di ruang publik memicu beragam tafsir liar, mulai dari keteledoran panitia hingga spekulasi keretakan relasi politik lokal.
Ketiga, pentingnya keterbukaan informasi. Sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa Bupati maupun Wakil Bupati terlibat atau mengetahui aksi penambalan tersebut. Namun, tanpa adanya penjelasan resmi, ruang publik akan terus diisi oleh spekulasi yang justru berpotensi merugikan nama baik kedua pimpinan daerah. Pihak penyelenggara didesak segera memberikan klarifikasi terbuka mengenai kronologi kejadian, sementara pemerintah daerah perlu mempertegas bahwa setiap perubahan atribut resmi harus melalui mekanisme keprotokolan yang sah.
Meski diwarnai polemik visual di panggung utama, gelaran kejuaraan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu 31 Oktober hingga Minggu 1 November 2026, tetap berjalan meriah. Ribuan penonton memadati Sirkuit Larakkiang untuk menyaksikan aksi adu cepat para crosser papan atas nasional.
Nama-nama besar seperti M. Zidan dari AMS Team, M. Athar yang memimpin McJoe Team, hingga Aldo Bilkis dari 201 Noor Travel Team sukses menyuguhkan tontonan berkelas di atas lintasan tanah. Namun, riuh sorak penonton di pinggir lintasan tak sepenuhnya mampu menutup bayang-bayang insiden backdrop. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa dalam helatan publik, detail kecil terkait simbol dan etika tetap memegang peranan penting dalam menentukan citra sebuah acara.