Soroti Pergeseran Budaya Membaca, Anis Kurniawan Ajak Guru Jadi Agensi Intelektual di Sekolah
Intens.id, Makassar - Kemudahan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam merangkai teks dalam hitungan detik membawa dilema baru di dunia pendidikan dan literasi. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi; di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada mesin mengancam daya pikir kritis serta keaslian gagasan penulis muda.
Pesan kunci tersebut mengemuka dalam Seminar Literasi bertajuk “Menjaga Jiwa dalam Aksara: Strategi dan Eksistensi Penulis di Era AI” yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMA Kota Makassar bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Balai Sidang Muktamar Unismuh, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 108 guru dan 370 siswa SMA se-Kota Makassar.
Pemimpin Redaksi Klikhijau, Anis Kurniawan, yang hadir sebagai narasumber, membagikan pengalamannya saat menjadi juri lomba penulisan novel dan cerita pendek tingkat siswa. Dari 40 naskah yang diperiksa, ia mengamati adanya indikasi kuat penggunaan AI pada sebagian besar karya.
“Sekitar 90 persen karya memperlihatkan indikasi penggunaan bantuan AI. Ini penilaian pribadi berdasarkan pengalaman menjuri,” ujar Anis. Menurutnya, persoalan mendasar dari fenomena ini bukan terletak pada pemanfaatan teknologinya, melainkan potensi tergerusnya proses kreatif dan kejujuran gagasan.
“Kita kehilangan otentitas, kita kehilangan kejernihan,” tegas jurnalis dan pegiat literasi yang juga Kandidat Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Hasanuddin tersebut.
Pergeseran Budaya Membaca Teks Kompleks
Selain penetrasi AI, seminar tersebut membedah pergeseran minat baca di kalangan remaja. Saat Anis melemparkan pertanyaan mengenai siapa yang masih membaca karya sastra klasik seperti Pramoedya Ananta Toer, hanya sedikit peserta yang mengacungkan tangan.
Di tengah banjir informasi digital, kebiasaan menuntaskan karya sastra secara utuh kian terdesak oleh konsumsi ringkasan cepat di media sosial. Sastra bermutu yang menuntut kesabaran serta kemampuan mencerna konflik sosial yang kompleks sering kali kalah populer dibandingkan narasi instan.
Anis menekankan bahwa kehadiran platform digital semestinya memperluas wawasan, bukan malah menurunkan kedalaman pemahaman literasi.
Guru sebagai Agensi Intelektual
Menghadapi tantangan ini, pendidik diharapkan mengambil peran aktif. Anis mendorong para guru Bahasa Indonesia untuk tidak menyerahkan proses pembentukan kemampuan bernalar siswa sepenuhnya kepada platform digital.
“Guru-guru harus menjadi agensi intelektual untuk anak-anak kita di sekolah,” katanya. Ia menyarankan guru aktif membawa teks sastra berkualitas—baik karya Pramoedya, Eka Kurniawan, maupun sastrawan dunia—ke ruang kelas untuk memantik diskusi mendalam.
AI, lanjutnya, tetap dapat dimanfaatkan secara proporsional sebagai alat bantu, misalnya untuk memperkaya perbendaharaan kata atau melakukan tinjauan naskah akhir, namun bukan sebagai pengganti proses berpikir inti.
Sejalan dengan hal itu, Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kota Makassar, Asrianingsih, S.Pd., M.Pd., menggarisbawahi pentingnya pendampingan guru agar siswa memanfaatkan teknologi secara beretika.
Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, Nuraisyah, S.Pd., M.Pd., mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi mitra berkarya tanpa menghilangkan jiwa sang penulis. “Teknologi dapat menjadi mitra, tetapi jiwa, gagasan, dan tanggung jawab penulis harus tetap menjadi bagian utama dalam setiap karya,” pungkasnya.