Mangrove Lantebung dan Harapan Ekonomi Warga Pesisir
Intens.id, - Di tengah pembangunan kota yang terus bergerak, ruang-ruang ekologis seperti mangrove Lantebung sering dipandang hanya sebagai tempat wisata. Padahal, ia memiliki fungsi yang jauh lebih penting. Ia menjaga pesisir, menahan luapan air, menjadi tempat hidup biota laut, sekaligus membuka ruang ekonomi bagi warga sekitar.
Lantebung bukan sekadar kawasan mangrove. Ia adalah simpul hidup bagi masyarakat pesisir. Dari sana, warga memperoleh penghasilan dari karcis masuk, parkiran, kuliner, jasa wisata, hingga hasil tangkapan kepiting. Bahkan, sebagian warga pernah terlibat dalam pengolahan kepiting untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. Artinya, ketika mangrove tumbuh, ekonomi warga juga ikut bergerak.
Namun, harapan itu kini mulai melemah. Pengunjung berkurang. Fasilitas wisata mulai rusak. Jalan dan jembatan tidak lagi senyaman dulu. Beberapa titik akses terganggu. Situasi ini membuat wisatawan enggan datang. Ketika wisatawan tidak datang, pendapatan warga ikut menurun. UMKM kehilangan pembeli. Jasa wisata sepi. Aktivitas ekonomi yang dulu hidup mulai tersendat.
Masalah lantebung bukan hanya soal wisata yang kehilangan daya tarik. Ini soal cara kita memandang ekowisata. Banyak kawasan wisata dibangun dengan semangat besar di awal, tetapi dibiarkan melemah ketika membutuhkan perawatan. Padahal, ekowisata tidak bisa hidup hanya dari peresmian, papan nama, dan promosi sesaat. Ia membutuhkan pemeliharaan rutin, pengelolaan yang jelas, serta dukungan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, Lantebung memperlihatkan ironi pembangunan wisata berbasis lingkungan. Kawasan ini memiliki potensi ekologis dan ekonomi, tetapi belum mendapatkan perhatian yang sebanding. Warga sudah melihat peluang. Mereka membayangkan kuliner kepiting, keripik kepiting, kerupuk kepiting, olahan laut, suvenir khas mangrove, penyewaan perahu, homestay sederhana, hingga wisata edukasi lingkungan. Namun, semua peluang itu sulit berkembang tanpa modal, fasilitas, pelatihan, dan promosi yang memadai.
Di sinilah pemerintah perlu hadir dengan lebih serius. Bukan hanya sebagai pemberi bantuan sesekali, tetapi sebagai pihak yang memastikan kawasan ini tetap hidup. Perbaikan jembatan dan akses jalan harus menjadi prioritas. Area jualan perlu ditata. Fasilitas umum perlu diperbaiki. Promosi wisata harus diperkuat. Tanpa langkah itu, Lantebung akan terus kehilangan pengunjung dan warga akan semakin jauh dari manfaat ekonomi yang pernah mereka rasakan.
Lebih dari itu, pengembangan Lantebung harus menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Warga tidak boleh hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Mereka harus menjadi pemandu, pengelola kuliner, pelaku UMKM, penyedia jasa perahu, penjaga kebersihan, serta penerima manfaat utama dari kegiatan wisata. Jika tidak, ekowisata hanya akan menjadi nama indah yang tidak banyak mengubah kehidupan masyarakat.
Mangrove juga tidak boleh dilihat semata-mata sebagai komoditas wisata. Ia adalah benteng ekologis bagi warga pesisir. Ia membantu menahan air, menjaga habitat kepiting, dan menyediakan ruang hidup bagi para nelayan. Ketika mangrove dijaga, sumber penghidupan warga ikut terlindungi. Ketika mangrove rusak atau kawasan wisata dibiarkan terbengkalai, yang terdampak bukan hanya pemandangan, tetapi juga dapur rumah tangga.
Karena itu, membangkitkan Lantebung bukan sekadar memperbaiki jembatan atau mengecat ulang fasilitas wisata. Ini adalah upaya untuk mengembalikan denyut ekonomi warga pesisir. Ini adalah cara untuk menjaga hubungan antara lingkungan dan kehidupan masyarakat. Pemerintah, pengelola, warga, akademisi, dan pihak swasta perlu duduk bersama untuk menyusun arah baru pengembangan Lantebung.
Pertanyaannya sederhana: apakah Lantebung akan dibiarkan menjadi cerita tentang wisata yang pernah ramai, atau dijadikan contoh bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan dengan peningkatan ekonomi warga?
Jika perhatian itu datang tepat waktu, Lantebung masih bisa bangkit. Mangrove masih berdiri. Kepiting masih hidup di sekitarnya. Warga masih memiliki harapan. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberpihakan yang nyata, bukan sekadar ingatan tentang masa ketika Lantebung pernah ramai.