Intens.id Versi penuh
Environmental

Mahasiswa K3 Universitas Sunan Gresik Luncurkan Gerakan ESG: Paparan Mikroplastik Mengkhawatirkan di Gresik

Oleh Redaksi Intens.id 12 Jun 2026 22:31 4 menit baca

Intens.id, Gresik– Kelompok Studi Mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sunan Gresik (UNSURG) resmi meluncurkan gerakan Environmental Sovereignty Goals (ESG) pada Senin (11/5) di Lobby Gedung Kampus B. Peluncuran ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali literasi ekologi dan advokasi lingkungan di kalangan akademisi, ditandai dengan pameran interaktif dan pengecekan mikroplastik secara langsung menggunakan mikroskop digital yang menarik perhatian banyak pihak.

Gerakan ESG ini lahir dari keresahan mendalam para mahasiswa setelah mengkaji riset lembaga lingkungan Ecoton yang mengungkap paparan mikroplastik pada tubuh pekerja pengelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Berangkat dari temuan yang mengkhawatirkan tersebut, ESG membawa isu krusial ini ke ruang publik kampus dan merilis data awal yang cukup mengejutkan. Hasil penelitian awal mereka menunjukkan bahwa 100 persen dari sampel kulit wajah dan tangan yang diambil dari 100 partisipan, terdiri dari masyarakat umum dan akademisi di Gresik, terbukti positif terpapar mikroplastik.

Berdasarkan uji sampel mikroskopis yang dilakukan oleh tim ESG, temuan rinci menunjukkan adanya dua jenis partikel mikroplastik dominan. Pertama, partikel jenis fiber atau serat kain sintetis, yang ditemukan sebanyak 4 hingga 7 partikel per orang. Partikel ini berasal dari serat kain seperti nilon, poliester, dan akrilik. Angka ini bahkan melonjak signifikan hingga 12 partikel pada individu yang mengenakan pakaian berbahan poliester dengan corak tebal. Kedua, partikel jenis fragmen atau plastik keras, yang ditemukan sebanyak 1 hingga 3 partikel mikroplastik per orang. Partikel ini merupakan hasil degradasi dari berbagai jenis polimer plastik, termasuk PET (Polyethylene Terephthalate), PVC (Polyvinyl Chloride), PP (Polypropylene), PS (Polystyrene), dan HDPE (High-Density Polyethylene).

Partikel-partikel berbahaya tersebut, menurut kajian ESG, memiliki beragam jalur paparan ke tubuh manusia. Sumber utamanya meliputi pelepasan serat dari pakaian berbahan sintetis, degradasi akibat gesekan ban kendaraan di jalan raya, serta penguraian sampah plastik berlapis (multilayer) yang kemudian terbang bebas di udara. Fenomena ini menunjukkan bahwa mikroplastik telah menjadi ancaman yang tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Menanggapi temuan ini, Dafa Ubaidillah Naufal Baihaqi, Bidang Kajian Ekologi ESG, menegaskan urgensi penetapan baku mutu mikroplastik.

"Baku mutu mikroplastik harus segera ditetapkan sebagai landasan regulasi dalam melawan ancaman ini. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat krusial. Kita membutuhkan pemahaman sekaligus desakan kuat dari publik agar pemerintah berani mengambil sikap, merumuskan baku mutu, dan merealisasikannya melalui sosialisasi yang aktif kepada masyarakat luas," ujar Dafa dengan nada penuh harap.

Ancaman mikroplastik ini, nyatanya, tidak hanya mengintai pekerja di garis depan seperti pengelola sampah, tetapi juga masyarakat domestik. Kontaminasi di tingkat rumah tangga terjadi secara masif akibat tingginya penggunaan alat rumah tangga berbahan plastik, ketergantungan pada plastik sekali pakai, serta belum memadainya infrastruktur pengelolaan sampah di berbagai daerah. Ini menciptakan siklus paparan yang terus-menerus dan meluas, menjangkau setiap lapisan masyarakat.

Merespons temuan ini, Deny Maulana Roziqin, salah satu mahasiswa Universitas Sunan Gresik, mengaku sangat terkejut setelah mengetahui bahwa mikroplastik tidak hanya memicu banjir, tetapi juga telah masuk ke dalam tubuh manusia, bahkan hingga ke air ketuban. Ia mendesak Indonesia untuk segera memiliki regulasi baku mutu mikroplastik yang hingga kini belum tersedia, menegaskan bahwa ketiadaan regulasi ini memperparah kerentanan masyarakat terhadap ancaman tersebut.

Respons akademis juga datang dari Yuli Ariyanti Wulandari, Mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Sunan Gresik. Ia merasa terpanggil untuk membawa isu ini ke dalam penelitian lebih lanjut di prodinya guna menggali sejauh mana polutan tak kasat mata tersebut mendistorsi kapasitas psikologis manusia modern, mengingat dampaknya yang mungkin lebih luas dari sekadar fisik.

Dukungan penuh terhadap gerakan ESG ini datang dari pihak universitas. Achmad Sakhowi Al Awwarij, S.K.M., M.KKK, Kepala Program Studi K3 Universitas Sunan Gresik, menyatakan komitmennya untuk mendampingi gerakan mahasiswa tersebut.

"Kegiatan seperti ini harus didukung dan didampingi secara penuh oleh jajaran dosen pengampu. Hal ini penting untuk mematangkan nalar ilmiah dan ketajaman analisis mahasiswa dalam merespons isu mikroplastik, yang kian mengancam peradaban manusia jika melihat luasnya jalur paparan yang ada. Mewakili civitas akademika Universitas Sunan Gresik, saya berkomitmen mendukung kelompok studi ini agar kegiatannya dapat berjalan lebih masif dan membawa dampak manfaat yang lebih luas," tegas Achmad Sakhowi, menunjukkan komitmen institusi terhadap isu lingkungan dan pengembangan mahasiswa.

Melalui gerakan Environmental Sovereignty Goals (ESG) ini, Kelompok Studi K3 Universitas Sunan Gresik menantang seluruh mahasiswa untuk bertindak sebagai agent of change yang berani mendobrak status quo. Gerakan menulis dan literasi akan dijadikan senjata utama untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat, sekaligus secara tegas mendesak pemerintah agar segera menetapkan regulasi serta baku mutu mikroplastik di Indonesia. Harapannya, langkah ini dapat menjadi tonggak awal bagi perubahan signifikan dalam pengelolaan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Topik terkait
Gresik Mikroplastik K3 Advokasi Lingkungan