IMD Warnai Semarak Satu Dekade MAPASKA, Aksi Nyata dari Kawasan Adat Kajang Hingga Pesisir
Intens.id, Bulukumba - Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum krusial bagi Mahasiswa Pemerhati Alam dan Seni Budaya Kajang (MAPASKA) untuk menegaskan komitmen ekologisnya. Menandai perjalanan satu dekade organisasi, MAPASKA menggelar Wisata Alam dan Budaya bertajuk “Mannanro Nakku Vol. 1” pada Sabtu–Minggu, 25–26 Juli 2026, yang dirangkaikan dengan aksi penanaman mangrove serta pembersihan kawasan adat dari ancaman sampah plastik.
Kegiatan yang dipusatkan di dua lokasi utama Pantai Ujung Cinta (Desa Lolisang) dan Kawasan Adat Ammatoa (Desa Tanah Towa), Kecamatan Kajang—ini memadukan edukasi lingkungan, apresiasi seni budaya, dan aksi konservasi nyata.
Sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian kegiatan pada Minggu (26/7) sore, seluruh panitia dan peserta kembali ke Pantai Ujung Cinta untuk menanam bibit pohon mangrove. Aksi ini digelar secara khusus dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia yang jatuh setiap tanggal 26 Juli.
Secara ekologis, ekosistem mangrove memegang peranan vital sebagai benteng alami pesisir yang menahan erosi, mencegah abrasi, serta mengikis ancaman intrusi air laut ke daratan. Tak hanya itu, mangrove berfungsi sebagai carbon sink (penyerap karbon) berkapasitas tinggi serta menjadi tempat memijah (breeding ground) bagi beragam biota laut. Secara sosial-ekonomi, keberadaan mangrove yang lestari menopang mata pencaharian nelayan lokal dengan menjaga ketersediaan sumber daya perikanan pesisir.
Aksi penanaman mangrove ini menjadi pesan kuat MAPASKA bahwa perlindungan terhadap pesisir adalah bagian tak terpisahkan dari upaya merawat ruang hidup masyarakat Kajang secara keseluruhan.
Peringatan Hari Mangrove Sedunia (International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem) pada 26 Juli 2026 mengusung tema " Strong Roots, Strong Generation, Brighter Future" (Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang), sebuah seruan krusial untuk menegaskan bahwa kelestarian ekosistem pesisir adalah fondasi utama bagi keberlanjutan hidup di masa depan.
Sebagai benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi, penyerap karbon yang andal, serta rumah bagi keanekaragaman hayati, mangrove memiliki peran tak tergantikan dalam menjaga stabilitas iklim dan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir. Melalui tema ini, kita diajak untuk melihat aksi penanaman dan pemeliharaan mangrove bukan sekadar ritual ekologis sesaat, melainkan bentuk investasi dan warisan paling berharga agar generasi penerus dapat tumbuh di tengah lingkungan yang aman, tangguh, dan lestari.
Sebelum aksi penanaman pesisir, rombongan peserta terlebih dahulu menyisir Kawasan Adat Ammatoa di Desa Tanah Towa pada Minggu pagi untuk menggelar aksi bersih lingkungan dan ziarah budaya.
Aksi ini membawa misi edukatif yang mendalam, menjaga Kawasan Adat Ammatoa agar tidak tercemari oleh sampah modern, khususnya sampah plastik.
Masyarakat Adat Kajang Ammatoa telah lama dinobatkan sebagai salah satu penjaga hutan terbaik di dunia melalui filosofi Pasapasang ri Kajang. Kehidupan mereka dipandu oleh aturan adat (Tallasa Kamase-mase) yang mempraktikkan kesederhanaan dan penghormatan mutlak terhadap alam selama berabad-abad. Hutan adat dijaga ketat tanpa merusaknya, menjadikannya paru-paru hijau yang tetap lestari hingga hari ini.
Namun, gempuran produk modern bawaan luar seperti plastik sekali pakai menjadi ancaman nyata bagi kesucian ekosistem adat tersebut. Melalui aksi pembersihan ini, generasi muda diajak untuk merawat kawasan adat secara bersama-sama, menghormati tata krama dan aturan adat yang telah berjalan sekian abad, sekaligus menyerap spirit lingkungan yang dipraktikkan oleh masyarakat adat.
Aksi yang digelar MAPASKA, menguatkan pesan bahwa Pemuda masa kini perlu memahami bahwa kearifan lokal Ammatoa bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan solusi ekologis modern yang sangat relevan dalam menghadapi krisis iklim global.
Pegiat budaya lokal, Rusli Mallatong, mengapresiasi kolaborasi aksi lingkungan dan nilai adat yang diusung oleh para mahasiswa.
"Kegiatan ini memberi edukasi langsung seperti menjaga kebersihan dan menanam pohon. Ini sangat senada dengan pesan utama Pasapasang ri Kajang: 'Jagai linoa nanajaga tokki'—jagalah alam agar alam menjagamu," tegas Rusli.
Rangkaian kegiatan “Mannanro Nakku Vol. 1” sendiri telah dimulai sejak Sabtu (25/7) di Pantai Ujung Cinta. Pembukaan acara disambut hangat melalui tradisi Anggaru dan Tari Tope Le'leng, disulut dengan Bincang Sastra dan Seminar Kebudayaan bersama narasumber Wahidin, S.Pd., Andi Syarifuddin, dan Asriandi.
Pengunjung juga disuguhi Pameran Kebudayaan, atraksi permainan tradisional (Akkarena), pelatihan Single Rope Technique (SRT) untuk siswa SMA, hingga demonstrasi kuliner khas Kajang seperti Dumpi Eja dan Ruhu'-ruhu'. Malam harinya, panggung seni menyajikan atraksi Tari Pabbitte Passappu, alunan tiup Basing, tuturan Sinrilik oleh Arif Dg Rate, serta pemotongan tumpeng peringatan Milad ke-10 MAPASKA.
Dalam pidatonya, Ketua Umum MAPASKA, Awaluddin Nur, menyampaikan rasa syukur mendalam atas suksesnya seluruh rangkaian perhelatan satu dekade ini.
"Alhamdulillah, rasa syukur yang mendalam kami haturkan atas suksesnya penyelenggaraan Wisata Alam dan Budaya 'Mannanro Nakku Vol. 1'. Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremoni biasa, melainkan simpul refleksi perjalanan satu dekade MAPASKA dalam mengawal kelestarian alam dan kebudayaan di tanah Kajang," ujar Awaluddin.
Ia menegaskan bahwa perpaduan aksi di wilayah pesisir dan kawasan adat Ammatoa dihadirkan untuk membakar kembali spirit kepedulian generasi muda.
"Mannanro Nakku membawa spirit merawat rasa rindu: rindu akan alam yang lestari dan rindu akan akar budaya yang selaras dengan nilai-nilai Pasapasang ri Kajang. Di momentum 10 tahun ini, kami ingin menegaskan kembali komitmen MAPASKA untuk terus menjadi garda terdepan dalam merawat warisan leluhur serta menjaga keseimbangan ekosistem dari gunung hingga pesisir," pungkasnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Reski, menambahkan harapannya agar gerakan ini terus berlanjut. Jejak aksi nyata yang ditinggalkan selama dua hari diharapkan mampu memperkuat peran aktif pemuda dalam memelihara keseimbangan antara batas hukum adat dan kelestarian ekosistem lingkungan sekitar.