Intens.id Versi penuh
News

Gandeng 23 Perguruan Tinggi, Makassar Perkuat Kesiapsiagaan Bencana: Wali Kota Ajak Seluruh Elemen Bangun Ketangguhan Bersama

Oleh Redaksi Intens.id 14 Jul 2026 20:42 6 menit baca

Intens.id, MAKASSAR - Pemerintah Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat upaya kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana. Langkah strategis ini diambil sebagai persiapan matang ketika bencana datang, demi meminimalkan dampak dan melindungi masyarakat. Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang akrab disapa Appi, saat memimpin Apel Kesiapsiagaan terhadap Bencana Kabupaten/Kota Makassar Tahun Anggaran 2026. Acara penting ini diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar di Anjungan MNEK, Center Point of Indonesia (CPI), pada Selasa (14/7/2026).

Apel kesiapsiagaan tersebut menjadi ajang konsolidasi dan penguatan sinergi lintas sektor yang melibatkan berbagai unsur penting. Hadir dalam apel tersebut perwakilan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, perangkat daerah, relawan kebencanaan, organisasi kemasyarakatan, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kehadiran beragam elemen ini menunjukkan keseriusan Pemerintah Kota Makassar dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang terpadu dan melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Dalam arahannya, Wali Kota Munafri Arifuddin menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

"Potensi bencana datang kapan saja, maka penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat," ujar Appi, menekankan pentingnya partisipasi aktif dari setiap individu dan komunitas. Oleh karena itu, seluruh upaya penanggulangan bencana harus dilakukan secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh, dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam membangun ketangguhan daerah.

Munafri menjelaskan bahwa pelaksanaan apel kesiapsiagaan ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-undang tersebut menekankan pentingnya kolaborasi seluruh komponen bangsa dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang efektif dan berkesinambungan. Menurutnya, apel kesiapsiagaan yang dilaksanakan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi merupakan momentum krusial untuk memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai potensi bencana.

"Kegiatan ini merupakan momentum untuk menguatkan komitmen, menyatukan langkah, menguji kesiapan personel dan sumber daya, serta memperkokoh sinergi lintas sektor dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Kota Makassar," tuturnya.

Lebih lanjut, Munafri menilai bahwa budaya latihan yang dilakukan secara terpadu, terencana, dan berkesinambungan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kondisi darurat. Melalui latihan rutin, simulasi kebencanaan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintah berharap seluruh unsur memiliki kemampuan merespons bencana secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Penguatan kesiapsiagaan ini, lanjut Appi, sejalan dengan visi pembangunan Kota Makassar, yakni Makassar Unggul, Inklusif, Aman, dan Berkelanjutan. Salah satu implementasi dari visi tersebut adalah membangun budaya sadar bencana sebagai bagian tak terpisahkan dari karakter masyarakat.

"Budaya sadar bencana harus menjadi bagian dari karakter masyarakat, di mana setiap individu, keluarga, dan komunitas memiliki pemahaman terhadap risiko, mampu melakukan langkah-langkah mitigasi, serta siap bertindak secara cepat dan tepat ketika menghadapi situasi darurat," sambung Appi.

Wali Kota Munafri juga menekankan pentingnya edukasi kebencanaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Edukasi ini dapat diwujudkan melalui berbagai program seperti pelatihan, simulasi, sosialisasi, hingga penguatan kapasitas masyarakat di tingkat kelurahan. Langkah-langkah tersebut tidak hanya bertujuan untuk mengurangi risiko bencana, tetapi juga untuk membangun masyarakat yang adaptif dan mampu pulih lebih cepat pascabencana.

"Melalui edukasi, latihan simulasi, dan penguatan kapasitas yang dilakukan secara berkelanjutan, kita tidak hanya mengurangi risiko bencana, tetapi juga membangun masyarakat yang adaptif dan mampu bangkit lebih kuat setelah bencana terjadi," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Munafri turut mengingatkan bahwa Kota Makassar memiliki sejumlah potensi ancaman bencana yang harus menjadi perhatian bersama. Berdasarkan kajian risiko bencana, ancaman tersebut meliputi banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, hingga banjir rob yang dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Ia menyebut, perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi maupun intensitas berbagai kejadian bencana sehingga seluruh pihak dituntut untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini. Kesiapsiagaan, menurutnya, merupakan kunci utama dalam meminimalkan dampak bencana.

"Masyarakat harus memiliki kemampuan mengenali ancaman, melakukan penyelamatan secara mandiri, merespons keadaan darurat dengan tepat, serta mampu bangkit kembali setelah bencana," imbuh Wali Kota. Orang nomor satu Kota Makassar itu juga menekankan pentingnya penerapan prinsip Build Back Better, yakni membangun kembali wilayah terdampak secara lebih baik, lebih aman, dan lebih tangguh setelah terjadi bencana.

Lebih jauh, ia mengajak seluruh unsur pentahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, hingga masyarakat, untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, serta berorientasi pada keselamatan masyarakat. Tantangan kebencanaan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.

"Maka, dibutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat untuk menghadirkan solusi yang inovatif dan berpihak pada kepentingan masyarakat," tegasnya.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Kota Makassar untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, memperbanyak edukasi dan latihan kebencanaan, serta menjadi agen perubahan dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan masing-masing. Appi mengimbau agar kesiapsiagaan dijadikan sebagai budaya, kolaborasi sebagai kekuatan, dan ketangguhan sebagai karakter Kota Makassar.

"Semoga ikhtiar yang kita lakukan hari ini menjadi langkah nyata mewujudkan Makassar yang semakin aman, tangguh, adaptif, dan berketahanan terhadap berbagai ancaman bencana demi melindungi seluruh masyarakat serta mendukung pembangunan kota," tutup Munafri.

BPBD Makassar Jalin Kolaborasi dengan 23 Perguruan Tinggi, Cetak Ribuan Mahasiswa Tangguh Bencana

Pada kesempatan yang sama, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar turut memperkuat kapasitas penanggulangan bencana melalui kolaborasi strategis dengan dunia pendidikan. Sebagai langkah konkret, BPBD menjalin kerja sama dengan 23 perguruan tinggi di Kota Makassar untuk mencetak generasi muda yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian terhadap kebencanaan.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BPBD Kota Makassar dan 23 perguruan tinggi, yang dilaksanakan dalam rangkaian Apel Kesiapsiagaan terhadap Bencana Kabupaten/Kota Makassar Tahun Anggaran 2026 di Anjungan MNEK.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengatakan bahwa kolaborasi ini merupakan salah satu terobosan strategis untuk memperkuat kapasitas kebencanaan melalui pengembangan sumber daya manusia sejak di lingkungan perguruan tinggi.

"Kolaborasi ini menjadi investasi besar dalam membangun sumber daya manusia kebencanaan di Kota Makassar," katanya.

Menurut Fadli, mahasiswa akan mendapatkan kesempatan belajar secara langsung di lapangan sesuai dengan ketentuan dan kurikulum masing-masing perguruan tinggi. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga pengalaman praktik yang komprehensif dalam upaya mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan kebencanaan.

"Mahasiswa akan belajar langsung di lapangan sehingga memiliki pengalaman dan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penanggulangan bencana," ujar Fadli.

Ia menjelaskan, program kerja sama ini menargetkan sedikitnya 1.000 mahasiswa dari setiap perguruan tinggi yang terlibat. Dengan demikian, diperkirakan akan terbentuk sekitar 23.000 mahasiswa yang memiliki kompetensi dasar di bidang kebencanaan.

Para mahasiswa tersebut diharapkan menjadi calon sumber daya manusia kebencanaan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, serta jiwa kemanusiaan untuk mendukung upaya pengurangan risiko bencana di masa mendatang. Fadli menegaskan, membangun ketangguhan daerah tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang siap menghadapi berbagai potensi ancaman bencana. 

"Ketangguhan tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga dengan menyiapkan generasi muda yang memiliki kapasitas, kepedulian, dan kesiapan menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana di Kota Makassar," jelasnya.

Melalui kerja sama tersebut, BPBD berharap lahir ekosistem kebencanaan yang melibatkan kalangan akademisi sebagai mitra strategis pemerintah. Selain memperkuat edukasi kebencanaan di lingkungan kampus, kolaborasi ini juga diharapkan mampu memperluas budaya sadar bencana di tengah masyarakat melalui peran aktif mahasiswa sebagai agen edukasi dan mitigasi.

"Kerja sama 23 perguruan tinggi ini menjadi salah satu langkah nyata Pemerintah Kota Makassar dalam membangun kota yang semakin tangguh, adaptif, melalui penguatan kolaborasi lintas sektor," tukasnya.

Topik terkait
Potensi Bencana BPBD Makassar Penanggulangan Mitigasi edukasi banjir cuaca ekstrem kekeringan banjir rob perubahan iklim Kolaborasi Perguruan Tinggi Mahasiswa