Intens.id Versi penuh
News

Desa Salassae Bulukumba Resmi Deklarasikan Diri sebagai Kampung Agroekologi

Oleh Redaksi Intens.id 02 Aug 2026 22:24 3 menit baca

Intens.id, Bulukumba - Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, resmi menancapkan tekadnya untuk menjadi Kampung Agroekologi. Inisiatif ambisius ini bertujuan untuk secara aktif mengembangkan dan memperkuat pengetahuan agroekologi, mempraktikkan pertanian berkelanjutan di berbagai kawasan desa, sekaligus memelopori gerakan membangun sistem pangan yang adil dan berketahanan. Deklarasi ini menandai langkah maju Desa Salassae dalam mewujudkan kemandirian pangan dan keberlanjutan lingkungan, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Penegasan komitmen ini disampaikan langsung oleh Kepala Desa Salassae, Gito Sukamdani, dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Balai Pendidikan Komunitas Salassae. Diskusi tersebut merupakan bagian dari kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas). Hadir pula dalam diskusi tersebut Armin Salassa selaku Ketua Kemitraan Agroekologi, Ponnong selaku Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Salassae, serta Sapri selaku Kepala Dusun Batutujua, menunjukkan dukungan lintas pihak terhadap visi besar ini.

Gito Sukamdani menjelaskan bahwa langkah besar menuju Kampung Agroekologi ini bukan tanpa dasar. Ia menilai Desa Salassae memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk menjadi fondasi gerakan agroekologi. Modal sosial ini tecermin jelas dari capaian desa tersebut sebagai kampung iklim yang telah diakui secara nasional. Desa Salassae berhasil meraih Trofi Proklim Utama pada tahun 2017 dan kembali mengukir prestasi dengan Trofi Proklim Lestari pada tahun 2019, keduanya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen dan kapasitas masyarakat Salassae dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Selain itu, keberadaan kelompok masyarakat yang aktif dan konsisten juga menjadi kekuatan pendorong. Komunitas Swabina Pedesaan Salassae, misalnya, selama ini telah secara konsisten berkiprah dalam pengembangan sistem pertanian alami. Kelompok ini dinilai menjadi aset berharga yang akan mempercepat terwujudnya cita-cita Desa Salassae sebagai Kampung Agroekologi, dengan pengalaman dan pengetahuan praktis yang telah terakumulasi.

Praktik agroekologi di Desa Salassae rencananya akan dikembangkan secara menyeluruh dan terintegrasi di berbagai kawasan dalam wilayah desa. Mulai dari Kawasan Lembah Subur, Kantang, Salajueng, hingga Batu Tujua, semua akan menjadi area pengembangan pertanian berkelanjutan. Lebih dari itu, gerakan ini juga akan melibatkan partisipasi aktif setiap warga dalam pengelolaan pekarangan rumah masing-masing. Pekarangan ini akan difungsikan sebagai unit terkecil namun vital dari gerakan agroekologi desa, menciptakan jejaring produksi pangan lokal yang kuat dan merata.

Gito Sukamdani menekankan bahwa status sebagai kampung agroekologi diharapkan tidak hanya berorientasi pada upaya menjaga keberlanjungan sumber daya alam dan ekosistem, tetapi juga harus mampu memberi kontribusi nyata bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Visi ini akan diwujudkan melalui penguatan badan-badan usaha ekonomi kolektif yang berbasis pada sektor pertanian. Dengan demikian, agroekologi akan menjadi motor penggerak ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi produk pertanian lokal dan meningkatkan kesejahteraan warga.

“Kami akan memperkuat gerakan ini dengan kerja sama para pihak di desa serta dukungan dari pemerintah, terutama dari Kementerian Desa yang juga mencanangkan agar tumbuh desa-desa yang berketahanan pangan,” ujar Gito. Ia menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan dukungan dari tingkat nasional akan menjadi kunci keberhasilan program ini. Konsep ketahanan pangan yang dicanangkan Kementerian Desa sejalan dengan semangat agroekologi yang diusung Salassae, menciptakan potensi kolaborasi yang sangat besar.

Lebih lanjut, Gito menyatakan pihaknya membuka ruang kerja sama seluas-luasnya dengan pemerintah desa lain maupun kalangan perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk menjadikan Salassae sebagai ruang inovasi dan inisiatif yang dapat melahirkan gerakan agroekologi berbasis desa yang lebih luas, memberikan inspirasi dan model bagi desa-desa lain di Indonesia. Dengan modal sosial yang telah teruji dan dukungan lintas pihak yang terus dirajut, Desa Salassae menempatkan dirinya sebagai salah satu contoh nyata bagaimana desa dapat menjadi motor penggerak transformasi pangan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan warganya.

Topik terkait
Agroekologi Salassae