Beranda blog

Restorasi Kesuburan Tanah, Manifestasi Pertanian Tradisional dalam Mewujudkan Panen Sehat

0

Intens.id – Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa rasa buah atau sayur di masa sekarang terasa berbeda dengan apa yang dinikmati kakek-nenek kita dahulu? Di dunia yang serba cepat ini, kita sering terjebak dalam ambisi mengejar kuantitas panen hingga melupakan elemen paling dasar: tanah.

Tanah bukan hanya tempat berdirinya tanaman atau wadah untuk menabur pupuk kimia. Ia adalah sebuah ekosistem yang hidup dan bernapas.

Memahami kesuburan tanah berarti kita harus berani menengok kembali pada kearifan masa lalu—era di mana bertani adalah cara manusia menjaga harmoni dengan alam, bukan sekadar industri.

Melampaui Angka N-P-K: Tanah Adalah Rumah yang Hidup

Banyak dari kita hanya fokus pada kandungan Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Padahal, kesuburan sejati jauh lebih dalam dari sekadar rumus kimia tersebut.

Sir Albert Howard, yang sering disebut sebagai pionir pertanian organik, pernah mengingatkan bahwa kesehatan tanah sangat bergantung pada humus. Tanah yang subur adalah tanah yang ramai oleh aktivitas mikroorganisme.

Di bawah permukaan yang kita injak, ada jaringan kehidupan yang luar biasa—jamur, bakteri, hingga cacing tanah bekerja sama mengubah mineral menjadi nutrisi yang siap disantap oleh akar tanaman.

Masalahnya, penggunaan pestisida dan pupuk kimia sintetis secara berlebihan justru menghancurkan struktur biologis ini. Tanah menjadi keras, asam, dan perlahan mati.

Akibatnya, meski tanaman tumbuh cepat, mereka menjadi rapuh, mudah diserang hama, dan kehilangan nutrisi aslinya. Pertanian organik mengajak kita kembali pada prinsip sederhana: “Beri makan tanahnya, biarkan tanah memberi makan tanamannya.”

Jika kita melihat sejarah Nusantara, nenek moyang kita adalah pakar agraris alami. Tanpa laboratorium canggih, mereka mempraktikkan sistem tumpang sari dan menggunakan sisa panen sebagai mulsa alami untuk menjaga kelembapan bumi. Hasilnya? Panen yang tidak hanya melimpah, tetapi juga memiliki daya simpan lebih lama dan rasa yang jauh lebih pekat.

Salah satu rahasia kehebatan panen masa lalu adalah hubungan mesra antara akar tanaman dengan jamur mikoriza. Jamur ini membantu akar mencari air di tempat yang dalam dan menyerap nutrisi organik dengan efisien.

Penelitian modern pun mengamini hal ini; sayuran yang ditanam dengan cara alami ini terbukti memiliki kadar antioksidan dan mineral yang jauh lebih tinggi. Tanah yang kaya bahan organik bertindak seperti spons, melindungi tanaman agar tetap segar meski musim kemarau melanda.

Pertanian berbasis kesuburan alami bukan hanya soal kesehatan piring makan kita, tapi juga kesehatan bumi. Tanah yang dirawat secara organik ternyata mampu mengikat karbon dari atmosfer dengan sangat baik. Artinya, dengan menghidupkan kembali tanah, kita juga sedang membantu mendinginkan suhu bumi yang kian memanas.

Bagi kesehatan kita, perbedaannya sangat nyata. Sayuran organik seringkali mengandung senyawa polifenol (antioksidan) hingga 69% lebih tinggi. Ketika tanahnya sehat, tanaman akan membentuk sistem pertahanan diri yang kuat, dan nutrisi itulah yang kemudian menjadi pelindung tubuh kita dari berbagai penyakit kronis. Jadi, kesuburan tanah sebenarnya adalah hulu dari kesehatan publik.

Tentu saja, memulihkan tanah yang sudah terlanjur kecanduan bahan kimia tidak bisa dilakukan sekejap mata. Tanah butuh waktu untuk rehabilitasi. Namun, hari ini kita punya banyak alat bantu inovatif, mulai dari pemanfaatan pupuk hayati, eco-enzyme, hingga biokonversi sampah organik melalui maggot. Menggabungkan kecanggihan sains modern dengan kearifan lokal adalah jalan keluar untuk mencapai kedaulatan pangan.

Investasi pada kesehatan tanah adalah investasi untuk masa depan anak cucu kita. Kita butuh kebijakan yang mendukung para petani agar beralih ke pupuk organik dan melindungi lahan-lahan produktif dari kerusakan permanen.

Kesuburan tanah adalah fondasi peradaban kita. Memilih metode organik bukanlah langkah mundur, melainkan langkah cerdas untuk membawa kebijaksanaan masa lalu ke dalam tantangan masa depan. Saat kita menjaga tanah agar tetap hidup dan penuh nutrisi, kita tidak hanya sekadar bertani; kita sedang menjaga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Mari kita mulai dari tanah, untuk panen yang lebih sehat dan bumi yang lebih lestari.

Nurul Hanifa, Pelajar SMK Mega Rezky Tembus Podium Celebes Silat Championship 2026

0
Nurul Hafina (sabuk merah) bertanding dalam kategori remaja kelas E putri. (Foto: Istimewa)

Nurul Hanifa, murid dari SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar, terpilih menjadi salah satu peserta dalam ajang Celebes Silat Championship (CSC) 2026. Tidak hanya sebagai peserta namun ia juga berhasil menyabet juara 3.

Kompetisi pencak silat berskala nasional ini doselenggarakan pada tanggal 8 hingga 10 Mei 2026. Keikutsertaan Nurul dalam ajang ini merupakan bagian dari upayanya untuk kembali aktif di dunia olahraga bela diri setelah sempat beristirahat sejenak dari berbagai kompetisi.

Ajang Celebes Silat Championship 2026 diselenggarakan oleh Tapak Suci Sulawesi Selatan dengan rekomendasi resmi dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini menjadikan CSC 2026 sebagai wadah yang prestisius bagi para pesilat remaja untuk mengukur kemampuan mereka di tingkat regional maupun internasional.

Nurul Hanifa yang merupakan murid kelas X jurusan Keperawatan ini tetap konsisten dalam menekuni hobi serta bakatnya di bidang pencak silat. Dalam kejuaraan kali ini, Nurul berkompetisi pada cabang tanding pencak silat kategori remaja kelas E putri, yang diperuntukkan bagi peserta dengan berat badan antara 55 kg hingga 59 kg.

“Persiapan saya masih belum terlalu maksimal karena latihan hanya sekitar 2–3 kali seminggu. Tetapi saya tetap berusaha meningkatkan kemampuan dan menjaga semangat latihan agar bisa tampil lebih baik saat pertandingan,” terang Hanifa, sapaam akrabnya.

Partisipasi Nurul menunjukkan bahwa murid di SMK Kesehatan juga memiliki prestasi yang kompetitif di bidang non-akademik. Kehadirannya dalam kejuaraan ini memberikan gambaran positif mengenai keseimbangan antara kedisiplinan belajar dan aktivitas fisik bagi para pelajar di Makassar.

Aktif dalam Kegiatan Silat

Hanifa sendiri sebelumnya telah aktif mengikuti berbagai perlombaan pencak silat sepanjang tahun 2024 dan 2025. Namun, ia sempat mengambil masa vakum selama satu semester pada tahun lalu sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali berlaga di tahun 2026 ini.

“Di tahun 2026 ini saya kembali aktif mengikuti lomba, salah satunya di CELEBES SILAT CHAMPIONSHIP (CSC), karena saya ingin lebih meningkatkan diri, menambah pengalaman bertanding, serta mengembangkan kemampuan saya di bidang hobi pencak silat,” ujarnya.

Persaingan di Celebes Silat Championship 2026 tergolong sangat ketat karena melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan daerah. Para peserta tidak hanya datang dari lingkup lokal seperti Luwu dan Bantaeng, tetapi juga dari wilayah luar pulau seperti Papua, bahkan diikuti oleh peserta internasional dari Malaysia.

Keinginan kuat untuk mengembangkan hobi menjadi sebuah prestasi profesional menjadi faktor utama yang mendorongnya untuk bersaing kembali dengan pesilat-pesilat tangguh lainnya.

Ia berharap pengalaman yang didapat dari kejuaraan ini dapat menjadi pijakan untuk tampil lebih maksimal pada ajang-ajang berikutnya.

“Harapan saya ke depannya semoga bisa memberikan hasil terbaik, menambah pengalaman, meningkatkan prestasi, menjadi lebih percaya diri, serta bisa tampil lebih baik dari lomba-lomba sebelumnya dalam mengikuti kejuaraan berikutnya,” pungkas Nurul.

BPC HIPMI Kolaka Utara Siap Jadi Katalisator Investasi Hilirisasi Agribisnis

0
Forum Kolaka Utara Industry, Trade & Investment. Foto: Ist

Intens.id, Kolaka Utara – Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kolaka Utara mempertegas komitmennya untuk menjadi mitra strategis pemerintah daerah. Fokus utamanya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi dan pengembangan hilirisasi sektor agribisnis serta sektor unggulan lainnya.

Komitmen tersebut diperkuat dalam forum Kolaka Utara Industry, Trade & Investment. Pertemuan ini menjadi ruang diskusi strategis antara pemerintah daerah, pelaku usaha, investor, hingga organisasi kepemudaan dalam memetakan arah pengembangan potensi lokal.

Beberapa poin strategis yang menjadi sorotan meliputi penguatan hilirisasi agribisnis, peningkatan daya saing komoditas unggulan, serta pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya daerah. Selain itu, penciptaan iklim investasi yang kondusif menjadi syarat mutlak pembangunan berkelanjutan.

Wasekum Bidang Investasi dan Kerjasama Antar Daerah BPC HIPMI Kolaka Utara, Hasrul Amar, menyatakan bahwa wilayah ini memiliki potensi besar pada sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, hingga industri. Menurutnya, potensi tersebut akan menjadi penggerak ekonomi jika dikelola maksimal melalui proses hilirisasi.

“Selama ini sebagian besar komoditas unggulan masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, sehingga nilai tambah ekonominya belum optimal dirasakan masyarakat,” ujar Hasrul.

Ia menambahkan, HIPMI siap mengambil peran sebagai penghubung kolaborasi antara investor, pemerintah, dan pelaku usaha lokal. Tujuannya adalah menghadirkan industri pengolahan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas daerah secara nyata.

“Melalui semangat kolaborasi ini, kami ingin memastikan investasi yang masuk tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Forum tersebut juga menekankan pentingnya ekosistem industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan integrasi ini, produk unggulan Kolaka Utara diharapkan mampu bersaing lebih kompetitif, baik di pasar nasional maupun internasional.

Selain agribisnis, peluang investasi juga terbuka lebar di sektor perdagangan, perikanan, energi, pariwisata, hingga industri kreatif. Sektor-sektor ini dinilai memiliki prospek cerah untuk dikembangkan di masa depan.

Sebagai organisasi pengusaha muda, HIPMI Kolaka Utara berkomitmen melakukan promosi potensi daerah serta pendampingan terhadap pelaku UMKM. Hal ini dilakukan agar pengusaha lokal mampu tumbuh beriringan dengan arus investasi yang masuk.

Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan investor, BPC HIPMI optimis Kolaka Utara akan bertransformasi menjadi daerah yang maju, produktif, dan kompetitif melalui penguatan industri yang berkelanjutan.

Cari Dokter Gigi Spesialis di Makassar? Klinik Gigi Anugerah Maraja Jadi Pilihan Utama Keluarga

0
Klinik Gigi Anugerah Maraja.

Memiliki senyum sehat bukan sekadar urusan estetika, melainkan cerminan kesehatan tubuh yang optimal. Memahami pentingnya hal tersebut, Klinik Gigi Anugerah Maraja hadir sebagai solusi kesehatan gigi terpadu di Kota Makassar. Mengusung tagline inspiratif “Senyum Sehat adalah Anugerah,” klinik ini berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang mendambakan perawatan gigi berkualitas.

Berlokasi strategis di Jl. Pengayoman, Ruko Jasper 3, Klinik Gigi Anugerah Maraja tidak hanya menawarkan kemudahan akses di pusat kota, tetapi juga standar pelayanan premium yang menggabungkan keahlian medis dengan kenyamanan pasien.

Layanan Lengkap: Dari Umum hingga Spesialis

Salah satu keunggulan utama yang menjadikan Klinik Gigi Anugerah Maraja solusi masalah gigi dan mulut yang terbaik adalah ketersediaan dokter gigi spesialis yang lengkap. Tidak semua permasalahan gigi bisa diselesaikan dengan perawatan umum; itulah mengapa klinik ini menghadirkan para ahli di bidangnya, mulai dari:

– Konservasi Gigi: Untuk perawatan saraf dan estetika restorasi.
– Ortodonti: Solusi perataan gigi (behel) dengan perhitungan medis yang presisi.
– Bedah Mulut: Penanganan kasus gigi bungsu hingga implan.
– Pedodonti: Perawatan khusus ramah anak agar si kecil tidak takut ke dokter gigi.
– Periodonti & Prostodonti: Kesehatan gusi hingga pembuatan gigi tiruan yang nyaman.

Profesionalisme Bertemu Teknologi
Setiap tindakan medis dilakukan oleh tenaga profesional yang berpengalaman di bidangnya. Dengan dukungan peralatan medis modern, setiap pasien akan mendapatkan diagnosa yang akurat serta tindakan yang minim rasa sakit.

“Kami percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan perawatan yang personal. Di sini, kami tidak hanya mengobati, tapi juga mengedukasi masyarakat bahwa menjaga kesehatan gigi adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup yang lebih baik,” ujar perwakilan manajemen Klinik Gigi Anugerah Maraja.

Lupakan kesan “menakutkan” saat mendengar suara mesin bor gigi. Klinik Gigi Anugerah Maraja didesain dengan konsep modern dan bersih, menciptakan suasana rileks sejak Anda melangkah masuk ke ruang tunggu hingga masuk ke ruang tindakan. Pelayanan yang ramah dari seluruh staf memastikan pengalaman konsultasi Anda berjalan menyenangkan.

Mengapa Harus ke Klinik Gigi Anugerah Maraja?
– Dokter Spesialis Terpercaya: Ditangani langsung oleh pakar di bidang spesialisasi masing-masing.
– Lokasi Strategis: Terletak di kawasan bisnis Ruko Jasper, Jl. Pengayoman, sangat mudah dijangkau.
– Standar Sterilisasi Tinggi: Keamanan dan kebersihan alat medis menjadi prioritas utama.

Solusi Terpadu: Mulai dari pembersihan karang gigi (scaling) hingga tindakan bedah kompleks, semuanya tersedia dalam satu klinik gigi.

Bagi warga Makassar dan sekitarnya yang ingin mewujudkan senyum impian, Klinik Gigi Anugerah Maraja siap menyambut Anda. Karena bagaimanapun, senyum sehat Anda adalah anugerah yang harus dijaga.

Empat Kandidat Bersaing di Muskam HIPMI PT UMI 2026, Muh. Jayazril Usung Visi Inovasi Berbasis Iptek

0
Kandidat HIPMI PT, Muh. Jayazril. Foto: Ist

Intens.id, Makassar – Kontestasi Musyawarah Kampus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi Universitas Muslim Indonesia (HIPMI PT UMI) tahun 2026 kini memasuki fase dinamis. Sebanyak empat kandidat terbaik dari berbagai fakultas resmi muncul sebagai representasi kader unggul organisasi.

Pemilihan tahun ini menjadi bukti konsistensi HIPMI PT UMI dalam melahirkan pemimpin dengan visi besar di dunia kewirausahaan kampus. Di antara nama-nama yang mencuat, sosok Muh. Jayazril menjadi salah satu figur yang menarik perhatian publik organisasi.

Pria yang akrab disapa Jaya ini membawa misi besar untuk menjadikan HIPMI PT UMI sebagai organisasi yang unggul, inovatif, dan kolaboratif. Ia menekankan pentingnya mencetak pengusaha muda berdaya saing tinggi dengan penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

Menurut Jaya, tantangan era digital menuntut organisasi mahasiswa untuk meninggalkan cara-cara konvensional. Ia bertekad menjadikan HIPMI PT UMI sebagai episentrum pengembangan entrepreneur muda sekaligus inkubator bisnis yang konkret bagi para kader.

“HIPMI PT UMI harus menjadi rumah besar di mana ide dan kolaborasi tumbuh menjadi kekuatan untuk menciptakan generasi yang siap membuka lapangan pekerjaan,” ujar Jaya dalam keterangannya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa fondasi organisasi ke depan harus dibangun di atas solidaritas dan komunikasi yang sehat. Jaya menilai potensi besar mahasiswa UMI perlu diakomodasi melalui mentoring usaha dan pemanfaatan teknologi digital sebagai instrumen utama.

Keberhasilan organisasi, baginya, diukur dari kemandirian ekonomi para kadernya. Ia ingin HIPMI PT UMI adaptif terhadap perubahan serta progresif dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi lingkungan kampus dan masyarakat.

“Fokus kami ke depan adalah menjadikan organisasi ini sebagai inkubator para pejuang pengusaha muda. Kita harus membangun HIPMI PT UMI yang ‘JAYA’ dan adaptif,” tegasnya.

Terkait munculnya tiga kandidat lain, Jaya memandang hal tersebut sebagai dinamika positif. Ia menegaskan bahwa Muskam bukanlah ajang perebutan kekuasaan, melainkan momentum penting untuk adu gagasan demi kemajuan bersama.

“Empat kader yang maju adalah putra terbaik. Kontestasi ini harus menjadi ruang persaudaraan dan adu ide, bukan ruang perpecahan,” tambahnya menutup pembicaraan.

Musyawarah Kampus HIPMI PT UMI 2026 ini diharapkan menjadi titik balik bagi organisasi untuk tetap relevan dengan kebutuhan generasi muda di era modern dan memberikan kontribusi nyata bagi ekosistem kewirausahaan di Indonesia.

Harumkan Nama Sekolah dan Daerah, Aisyah Afiqah Bawa Literasi Bulukumba Menembus Antologi Puisi Nasional

0

Intens.id, Bulukumba – Kabupaten Bulukumba kembali menegaskan posisinya sebagai lumbung talenta muda berbakat di kancah nasional. Kali ini, kabar membanggakan datang dari sektor literasi melalui pencapaian luar biasa yang ditorehkan oleh Aisyah Afiqah, seorang siswi dari SMP Negeri 1 Bulukumba.

Aisyah kembali sukses mengukir prestasi dalam ajang Sayembara Cipta Puisi Nasional (SCPN) #13, sebuah kompetisi bergengsi yang diselenggarakan oleh platform literasi ternama, Fiksioritas. Keberhasilan ini menjadi bukti autentik bahwa kualitas literasi dari daerah, khususnya dari daerah berjuluk Butta Panrita Lopi, memiliki daya saing yang sangat diperhitungkan di tingkat pusat.

Ajang Sayembara Cipta Puisi Nasional edisi ke-13 ini bukanlah kompetisi sembarangan. Diselenggarakan oleh Fiksioritas, sebuah organisasi yang dikenal konsisten dalam menjaring bakat-bakat kepenyairan baru di Indonesia, lomba kali ini diikuti oleh setidaknya 339 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang geografis, mulai dari ujung Sumatera hingga Papua.

Proses kurasi dan penilaian berlangsung sangat ketat dalam rentang waktu dua pekan, yakni sejak tanggal 6 hingga 21 April 2026. Dalam fase tersebut, karya-karya peserta dibedah secara mendalam oleh dewan juri untuk mencari kedalaman makna, keaslian diksi, serta kekuatan metafora.

Aisyah Afiqah berhasil melewati saringan ketat tersebut dan mengamankan posisi di jajaran pemenang, sebuah pencapaian yang sekaligus membawanya masuk ke dalam jajaran penyair muda yang karyanya layak untuk diabadikan secara nasional.

Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kerja keras sang siswi, manajemen SMPN 1 Bulukumba menggelar seremoni apresiasi khusus pada hari ini, Senin, 11 Mei 2026. Bertepatan dengan pelaksanaan upacara bendera rutin di lapangan utama sekolah, atmosfer khidmat berubah menjadi penuh haru dan bangga saat nama Aisyah Afiqah dipanggil untuk berdiri di depan ribuan pasang mata. Di hadapan para guru, siswa, dan staf kependidikan, Aisyah menerima penghargaan formal dari pihak sekolah.

Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan moral dan apresiasi publik bagi siswa yang mampu membawa nama harum institusi dan daerah di level nasional.

Kepala SMPN 1 Bulukumba dalam pidato sambutannya menyatakan rasa bangga yang mendalam atas pencapaian Aisyah. Beliau menekankan bahwa prestasi ini merupakan manifestasi dari ketekunan dan kecintaan terhadap dunia literasi yang dipupuk sejak dini.

Menurutnya, keberhasilan Aisyah di ajang nasional adalah pesan kuat bagi seluruh siswa bahwa keterbatasan geografis atau jarak yang jauh dari pusat pemerintahan di Jakarta bukanlah penghalang bagi siapapun untuk bersinar.

Dengan akses informasi yang semakin terbuka dan semangat juang yang tinggi, siswa dari Bulukumba terbukti mampu berbicara banyak di panggung nasional. Pihak sekolah berharap agar momen ini menjadi katalisator bagi siswa-siswi lainnya untuk berani mengeksplorasi minat dan bakat mereka, terutama dalam bidang tulis-menulis yang menuntut kecerdasan emosional dan intelektual yang tinggi.

Eksistensi Fiksioritas sebagai penyelenggara juga mendapat sorotan positif. Sebagai platform yang fokus pada pengembangan literasi, Fiksioritas telah membangun reputasi sebagai penyelenggara lomba yang transparan, profesional, dan inklusif.

Dengan skema lomba yang dapat diakses secara gratis namun tetap menawarkan hadiah jutaan rupiah dan apresiasi tinggi, platform ini telah mendemokratisasi akses prestasi bagi anak muda di seluruh pelosok negeri.

Salah satu poin yang paling prestisius dari kemenangan Aisyah dalam SCPN #13 ini adalah hak untuk membukukan karyanya dalam antologi puisi nasional. Buku tersebut memiliki International Standard Book Number (ISBN), yang secara resmi menandai langkah awal Aisyah masuk ke dalam jajaran penulis profesional Indonesia yang diakui secara hukum dan administratif literasi.

Jika melihat ke belakang, keberhasilan Aisyah Afiqah sebenarnya bukanlah sebuah kebetulan yang datang tiba-tiba. Gadis remaja ini memang dikenal memiliki rekam jejak yang solid dalam dunia kata-kata. Sebelum memenangkan SCPN #13, ia tercatat telah meraih berbagai penghargaan bergengsi lainnya. Aisyah pernah menyabet gelar juara dalam Lomba Menulis Artikel Tingkat Kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan setempat.

Tidak hanya piawai merangkai kata dalam tulisan, ia juga memiliki kemampuan performatif yang baik, terbukti dengan kemenangannya dalam Lomba Baca Puisi di berbagai Festival Literasi tingkat provinsi. Di lingkungan sekolah, Aisyah adalah sosok yang produktif, ia merupakan kontributor aktif bagi majalah sekolah, yang menjadikannya panutan bagi teman-temannya dalam menggerakkan roda literasi di sekolah.

Prestasi Aisyah ini memberikan dimensi baru bagi dunia pendidikan di Sulawesi Selatan. Pertama, kemenangan ini menunjukkan pentingnya demokratisasi prestasi melalui platform digital yang memungkinkan kompetisi yang adil tanpa terhambat biaya pendaftaran yang mahal.

Kedua, adanya dokumentasi fisik berupa buku ber-ISBN memberikan nilai tambah yang permanen bagi portofolio sang siswa, yang jauh lebih berharga daripada sekadar piagam penghargaan yang mungkin lapuk dimakan usia.

Ketiga, respon cepat dan terbuka dari pihak SMPN 1 Bulukumba dalam memberikan apresiasi saat upacara bendera menunjukkan bahwa sekolah telah berhasil menciptakan ekosistem positive reinforcement, di mana prestasi di bidang sastra dan seni dihargai setara dengan prestasi di bidang sains dan matematika.

Kini, dengan diterbitkannya puisi Aisyah dalam antologi nasional, namanya telah bersanding dengan para penyair muda berbakat lainnya dari seluruh Nusantara. Prestasi ini diharapkan tidak membuat Aisyah cepat berpuas diri, melainkan menjadi pijakan untuk melahirkan karya-karya yang lebih besar di masa depan.

Bagi masyarakat Bulukumba, Aisyah telah membuktikan sebuah filosofi baru, bahwa selain mahir membuat perahu pinisi yang tangguh menerjang ombak samudra, putra-putri daerah ini juga sangat tangguh dalam mengarungi samudra pemikiran dan diksi sastra.

Pihak sekolah berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan dan ruang bagi Aisyah untuk terus berkembang, memastikan bahwa bakat yang ia miliki tidak hanya berhenti di satu kompetisi, tetapi terus mengalir menjadi kontribusi nyata bagi dunia sastra Indonesia.

Dengan semangat yang berkobar di pagi Senin tersebut, SMPN 1 Bulukumba secara resmi melepas satu lagi duta literasinya untuk terus berkarya di tingkat yang lebih tinggi. Selamat untuk Aisyah Afiqah, sang mutiara literasi dari Bulukumba

Cinta itu Fitrah, tapi Jangan Sampai Bikin Salah Arah

0
Ilustrasi by unsplash.com

INTENS.ID—Di zaman sekarang, bicara soal cinta rasanya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Scroll media sosial sedikit, isinya hubungan romantis. Nonton film, temanya cinta. Bahkan kadang ukuran “bahagia” seseorang diukur dari punya pasangan atau tidak.

Padahal, cinta sendiri sebenarnya adalah fitrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan rasa cinta dalam hati manusia. Karena itu, mencintai seseorang bukanlah sesuatu yang salah. Yang jadi masalah adalah ketika cinta membuat seseorang kehilangan arah, melupakan batas, bahkan menjauh dari Sang Pencipta.

Di era digital seperti sekarang, menjaga hati memang tidak mudah. Godaan datang dari mana saja. Chat tanpa batas, hubungan tanpa kejelasan, budaya pacaran bebas, sampai tren menunjukkan kemesraan di media sosial sering dianggap hal biasa. Akhirnya, banyak orang mengira bahwa semua yang mengatasnamakan cinta pasti benar.

Padahal Islam punya cara pandang yang sangat indah tentang cinta. Islam tidak melarang cinta, tetapi mengajarkan bagaimana cinta tetap suci dan tidak berubah menjadi jalan menuju dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Terjemahnya: “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya berbuat zina, begitu pula mendekatinya dan melakukan hal-hal yang mendorong dan menyebabkan terjadinya perzinaan.

Menariknya, ayat di atas tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang “mendekatinya”. Artinya, segala hal yang bisa menyeret seseorang ke arah tersebut juga perlu dijaga. Termasuk hubungan yang terlalu bebas tanpa batas syariat.

Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ammar ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Abu Bakar ibnu Abu Maryam dari Al-Haisam ibnu Malik At-Ta-i, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: “Tiada suatu dosa pun sesudah mempersekutukan Allah yang lebih besar di sisi Allah daripada nutfah (air mani) seorang lelaki yang diletakkannya di dalam rahim yang tidak halal baginya”.

Ketika Cinta Jadi Segalanya

Salah satu masalah yang sering terjadi di kalangan remaja sekarang adalah “cinta buta”. Seseorang bisa terlalu larut dalam perasaan sampai lupa diri. Rela mengorbankan prinsip, waktu, bahkan hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya demi mempertahankan seseorang.

Ada yang jadi malas ibadah karena sibuk memikirkan pasangan. Ada yang emosinya naik turun hanya karena chat tidak dibalas. Bahkan ada yang merasa hidupnya hancur ketika cintanya gagal.

Kenapa itu bisa terjadi?

Karena hati manusia memang butuh tempat bergantung. Kalau hati tidak dipenuhi cinta kepada-Nya, maka hati akan mudah menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada manusia. Padahal manusia bisa berubah, pergi, bahkan mengecewakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa salah satu tanda manisnya iman adalah ketika seseorang lebih mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dibanding apa pun yang lain.

Saat hati dekat dengan Sang Pencipta, seseorang tidak akan mudah diperbudak perasaan. Ia tetap bisa mencintai dengan sehat, tenang, dan sadar batas.

Media Sosial: Tempat yang Bisa Menjaga atau Menghancurkan Hati

Kalau dipikir-pikir, tantangan menjaga hati di zaman sekarang jauh lebih berat dibanding dulu. Dulu orang harus bertemu langsung. Sekarang cukup lewat layar.

Kadang awalnya cuma saling follow. Lalu jadi sering lihat story. Mulai chat. Muncul rasa nyaman. Lama-lama terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.

Belum lagi konten-konten yang membuat orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat pasangan romantis setiap hari bisa membuat seseorang merasa kesepian, buru-buru ingin punya hubungan, atau akhirnya mencari validasi lewat cinta.

Karena itu, menjaga pandangan di era digital menjadi sangat penting. Bukan hanya menjaga mata di dunia nyata, tetapi juga menjaga apa yang kita lihat di layar ponsel. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ

Terjemahnya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30).

Ayat di atas merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka menahan pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan bagi mereka. Maka janganlah mereka melihat kecuali kepada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat, dan hendaklah mereka menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan.

Jadi apabila pandangan mata mereka melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja, maka hendaklah dia memalingkan pandangan matanya dengan segera. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim di dalam hadis shahihnya dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dia berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba, lalu beliau memerintahkan kepadaku memalingkan pandanganku”.

Berdasarkan bahwa pandangan mata merupakan sumber bagi rusaknya hati, sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama Salaf, bahwa pandangan mata itu adalah panah beracun yang menembus hati. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menjaga kemaluan, sebagaimana Dia memerintahkan untuk menjaga pandangan yang mengantarkan kepada hal itu. (Tafsir Ibnu Katsir).

Menjaga pandangan bukan berarti anti cinta atau anti teknologi. Justru itu cara agar hati tetap bersih dan tidak mudah terseret hawa nafsu.

Jangan Kosongkan Hati dan Waktu

Sering kali cinta yang berlebihan muncul karena seseorang terlalu kosong. Kosong hati, kosong aktivitas, kosong tujuan hidup.

Makanya, salah satu cara terbaik menjaga diri adalah menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar, membangun mimpi, membantu orang tua, ikut kajian, membaca, olahraga, atau mengembangkan skill bisa membuat hidup lebih sehat secara emosional.

Orang yang punya tujuan hidup biasanya tidak mudah tenggelam dalam hubungan yang merusak.

Islam Punya Solusi: Pernikahan

Islam adalah agama yang realistis. Islam memahami bahwa manusia punya rasa cinta. Karena itu, Islam memberikan jalan yang halal dan mulia, yaitu pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

Terjemahnya: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan bukan sekadar tentang romantis, tetapi tentang ibadah, tanggung jawab, dan membangun kehidupan bersama dengan cara yang diridai-Nya.

Cinta yang Membawa Dekat kepada Allah

Pada akhirnya, cinta yang baik bukan cinta yang membuat seseorang lalai ibadah, overthinking setiap malam, atau rela melanggar aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mempertahankan hubungan.

Cinta yang benar adalah cinta yang membuat seseorang menjadi lebih baik. Lebih dekat kepada-Nya. Lebih menjaga diri. Lebih menghargai kehormatan dirinya.

Karena cinta sejati bukan sekadar tentang memiliki, tetapi tentang menjaga hati agar tetap berada di jalan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridai.

Referensi:

Kajian Ustadz Nuzul Dzikri: Cinta Buta Vs Cinta yang Rasional.

Kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah: Mengundang Azab Allah Lewat Pacaran.

Demi Diplomasi dan Masa Depan, Roma Rela Tempuh Cirebon–Jakarta Seorang Diri Mengikuti Workshop MUN

0
Foto: Globy

Di saat sebagian besar remaja menghabiskan akhir pekan untuk bersantai, Roma, siswa kelas X dari SMAN 1 Cirebon bernama Roma memilih jalan yang berbeda. Dengan semangat yang tinggi, ia seorang diri menempuh perjalanan jauh dari Cirebon menuju Ibu Kota Jakarta demi mengasah kemampuan di panggung diplomasi internasional melalui ajang MUN WORKSHOP yang diadakan oleh Globy pada Minggu, 10 Mei 2026.

Kehadiran Roma di tengah hiruk-pikuk Jakarta bukan tanpa alasan. Meski usianya masih sangat muda dan baru menduduki bangku kelas X, ia menunjukkan kematangan berpikir dengan mengambil inisiatif pribadi untuk hadir di workshop ini. Keputusan ini diambil bukan karena penugasan dari sekolah, melainkan murni dorongan dari dalam diri untuk mengeksplorasi dunia di luar batasan kurikulum sekolah formal.

Dedikasi selama delapan jam penuh, mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, Roma melebur bersama kurang lebih 85 peserta lainnya dari berbagai daerah. Ia mengikuti rangkaian kegiatan yang sangat intensif, mulai dari Introduction to MUN (Model United Nations) hingga Mastering RoP (Rules of Procedure) and Public Speaking. Bagi seorang siswa kelas X, materi mengenai prosedur persidangan PBB yang rumit tentu menjadi tantangan tersendiri, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya.

Puncak dari workshop ini adalah sesi MUN Simulation, di mana Roma mendapatkan peran strategis sebagai delegasi dari Korea Selatan. Dalam simulasi ini, ia dituntut untuk memahami posisi geopolitik Korea Selatan dan menyuarakan kepentingan negara tersebut dalam forum internasional.

“Saya ingin melangkah keluar dari zona nyaman menuju sesuatu yang baru, terlebih lagi mengenai isu-isu global yang selama ini hanya saya lihat di berita,” ungkap Roma mengenai motivasinya.

Roma (tengah) hadir bersama 85 peserta lainnya dalam kegiatan MUN Workshop pada Minggu (10/5/2026). (Foto: Istimewa)

Ia memiliki target tersendiri, yaitu memahami sistem diplomasi di dalam PBB secara komprehensif dan belajar bagaimana menyusun sebuah Outstanding Paper yang diakui sebagai hasil pemikiran delegasi terbaik. Baginya, kemampuan menulis dan berdiplomasi adalah paket lengkap yang harus dikuasai sejak dini.

Selain itu, aspek komunikasi menjadi fokus utamanya. Roma menyadari bahwa di masa depan, kemampuan berbicara di depan umum dan penguasaan bahasa Inggris adalah kunci utama. Melalui workshop ini, ia bertekad untuk menambah keterampilan public speaking serta memperluas jaringan pertemanan dengan sesama pemuda yang memiliki minat serupa di bidang isu global.

“Bagi saya yang masih di kelas X, perjalanan dari Cirebon ke Jakarta ini adalah investasi. Saya ingin menjadi lebih percaya diri dalam berbicara di depan forum, berani bertanya, dan yang terpenting adalah berani mempertahankan pendapat mengenai isu global dalam bahasa Inggris yang fasih,” ujar Roma.

Ia juga menambahkan bahwa partisipasinya ini merupakan langkah awal dalam menata masa depan yang lebih cerah.

“Saya sangat berharap pengalaman hari ini membawa kemanfaatan besar untuk meniti karier saya di masa depan. Tidak ada kata terlalu dini untuk mulai memikirkan bagaimana kita bisa berkontribusi bagi dunia.”.

Usia dan jarak bukanlah penghalang bagi generasi muda Indonesia untuk memiliki wawasan global. Keberaniannya untuk datang jauh-jauh dari Cirebon secara mandiri menunjukkan bahwa semangat literasi diplomatik telah tumbuh subur di jiwa pemuda, bahkan sejak tahun-tahun pertama di bangku SMA.

Pesta Babi, Kolonialisme Modern, dan Beban Sunyi Perempuan di Tengah Krisis Ekologi

0

Intens.id – Momentum Hari Ibu Internasional sering kali terjebak dalam romantisme dangkal yang merayakan kasih sayang tanpa mempertanyakan struktur sosial yang menindas subjeknya.

Jika kita mengamati realitas melalui lensa film dokumenter Pesta Babi, kita akan menemukan narasi yang jauh lebih kelam namun krusial, bagaimana perempuan di wilayah ekstraktif mengalami kolonialisme gaya baru yang merampas ruang hidup sekaligus melipatgandakan beban kerja mereka secara tidak terlihat.

Film ini secara metaforis menggambarkan keserakahan eksploitasi lahan sebagai pesta yang rakus, namun dalam pesta tersebut, perempuan bukanlah tamu undangan, mereka adalah pihak yang harus membersihkan sisa-sisa kehancuran tanpa pernah diakui jasanya. Fenomena ini membawa kita pada sebuah konstruksi studi kasus tentang The Invisible Work atau kerja tak terlihat, sebuah konsep sosiologis yang menjelaskan bagaimana beban domestik dan emosional perempuan menjadi pondasi yang menyokong sistem, namun secara sistematis diabaikan dalam hitungan ekonomi makro maupun narasi kebijakan.

Secara teoritis, apa yang dialami para perempuan dalam film Pesta Babi dapat dijelaskan melalui kerangka Ekofeminisme. Karen J. Warren dalam bukunya Ecofeminist Philosophy (2000) berargumen bahwa terdapat hubungan konseptual dan historis antara penindasan terhadap alam dan penindasan terhadap perempuan.

Kolonialisme, dalam bentuknya yang modern melalui korporasi ekstraktif, memandang alam dan perempuan sebagai objek yang bisa ditaklukkan dan dimanfaatkan. Ketika perusahaan pertambangan atau perkebunan skala besar masuk ke sebuah wilayah, mereka sering kali menerapkan logika patriarkal kolonial, negosiasi hanya dilakukan dengan laki-laki yang dianggap sebagai pemilik sah lahan, sementara perempuan yang sehari-harinya memiliki relasi paling intim dengan tanah untuk pemenuhan pangan dan obat-obatan, kehilangan agensinya.

Hal ini adalah bentuk kolonialisme tubuh dan ruang, perempuan kehilangan kedaulatan atas lingkungannya, namun tetap dipaksa untuk menjalankan peran pengasuhan dalam kondisi lingkungan yang telah rusak total.

Sosiolog Arlie Hochschild dalam karyanya The Second Shift (1989) memopulerkan gagasan tentang bagaimana perempuan bekerja dua kali lipat di ranah publik dan domestik—namun pekerjaan domestik tersebut tidak pernah dianggap sebagai kerja sesungguhnya.

Dalam konteks film Pesta Babi, kerja tak terlihat ini bertransformasi menjadi manajemen krisis ekologi. Ketika sumber air tercemar akibat limbah industri, beban untuk mencari air bersih sejauh berkilo-kilometer jatuh ke pundak perempuan. Ketika hutan dibabat, waktu yang dihabiskan perempuan untuk mencari bahan pangan tambahan menjadi membengkak.

Sosiologi lingkungan menyebut ini sebagai gendered vulnerability. Kerusakan alam tidak berdampak netral secara gendeR, ia memukul perempuan lebih keras karena norma sosial memaksa mereka untuk tetap menyediakan nutrisi dan kesehatan bagi keluarga di tengah sumber daya yang kian langka.

Pekerjaan mencari air, memastikan anak-anak tidak sakit karena polusi, dan memutar otak untuk mengelola anggaran dapur yang terhimpit inflasi lingkungan adalah “pekerjaan” yang sangat melelahkan secara kognitif, namun tidak pernah masuk dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB).

Lebih jauh lagi, perempuan dalam pusaran Pesta Babi ini memikul apa yang disebut dengan Emotional Labor atau kerja emosional. Sebagai korban kolonialisme modern, komunitas yang lahannya dirampas sering kali mengalami trauma kolektif, kehilangan identitas, dan meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga akibat stres ekonomi pada pihak laki-laki.

Perempuan, dalam peran domestiknya, menjadi penyerap trauma bagi anggota keluarga lainnya. Mereka merawat moralitas komunitas dan menjaga kewarasan rumah tangga agar tidak runtuh di bawah tekanan struktural.

Kerja emosional ini adalah bentuk invisible work yang paling berat. Mereka harus menekan kesedihan dan ketakutan pribadi demi memberikan rasa aman bagi anak-anak mereka. Dalam kacamata kolonialisme, pengorbanan ini dianggap sebagai insting keibuan yang alami, sebuah pelabelan yang berbahaya karena menormalkan penindasan dan meniadakan tuntutan akan keadilan ekonomi bagi kerja-kerja perawatan tersebut.

Menghubungkan fenomena ini dengan teori Social Reproduction yang diusung oleh Tithi Bhattacharya dalam Social Reproduction Theory (2017), kita melihat bahwa sistem ekonomi global yang ekstraktif sebenarnya bergantung pada kerja-kerja gratis perempuan untuk mereproduksi tenaga kerja. Tanpa perempuan yang memasak, mengasuh, dan menyembuhkan trauma di rumah-rumah yang terhimpit tambang, sistem ekstraksi tersebut tidak akan bisa berjalan.

Namun, ironisnya, sistem ini justru merusak lingkungan yang menjadi prasyarat bagi perempuan untuk menjalankan fungsi reproduksi sosial tersebut. Inilah kontradiksi internal dari kolonialisme hijau dan ekstraktivisme, ia menghancurkan kehidupan yang menyokongnya.

Film Pesta Babi menjadi pengingat pahit bahwa di balik setiap keuntungan korporasi yang besar, ada keringat perempuan yang mengalir lebih deras untuk menambal lubang-lubang kesejahteraan yang ditinggalkan oleh negara dan pasar.

Eksploitasi yang digambarkan dalam film tersebut bukan sekadar isu lingkungan, melainkan isu kemanusiaan yang berakar pada ketidakadilan gender primer. Ketika hak-hak perempuan atas tanah dicabut, beban domestik mereka tidak menghilang, melainkan bermutasi menjadi bentuk bertahan hidup yang ekstrem.

Konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan rumah tangga membuat mereka menjadi pihak yang paling pertama terpapar kegagalan sistemik. Dalam banyak kasus, ketika ekonomi lokal hancur, perempuan jugalah yang harus memutar otak mencari alternatif penghasilan,sering kali melalui platform digital atau usaha mikro, sambil tetap memikul beban domestik yang kian berat akibat krisis air dan pangan.

Ini adalah siklus penindasan berlapis, ekonomi ekstraktif merusak alam, kerusakan alam menambah beban kerja perempuan, dan beban kerja yang berat ini tetap tidak diakui secara ekonomi maupun sosial.

Sebagai refleksi Hari Ibu Internasional adalah upaya untuk mempolitisasi ruang domestik. Kita harus berhenti melihat Ibu hanya dalam bingkai dapur dan kasih sayang yang pasif.

Sebaliknya, kita harus mengakuinya sebagai aktor politik dan pejuang ekologis yang melakukan kerja-kerja luar biasa dalam kondisi terjajah oleh modal. Pengakuan terhadap the invisible work bukan hanya soal apresiasi verbal, melainkan tentang redistribusi sumber daya dan pemulihan hak atas tanah.

Jika kita terus membiarkan pesta ekstraksi ini berlanjut tanpa memedulikan kedaulatan perempuan, maka kita sebenarnya sedang merayakan Hari Ibu di atas penderitaan jutaan perempuan yang secara sunyi sedang menanggung beban kehancuran planet ini. Narasi ini menuntut kita untuk bergerak dari sekadar ucapan selamat menuju tuntutan nyata atas keadilan gender dan ekologi, sebab tidak ada Ibu yang benar-benar sejahtera di atas tanah yang sedang sekarat.
Dengan mengakui kompleksitas beban ini, kita baru bisa mulai membicarakan pemberdayaan yang sesungguhnya.

Legislator Demokrat Anarchie Arus Bakti Dorong Edukasi Petani dan Produktifitas Pertanian

0
Anarchie Arus Bakti,S.Psi Anggota DPRD Provinsi Sulsel Fraksi Partai Demokrat Dapil 8 Soppeng-Wajo (Ist)

Soppeng — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Fraksi Partai Demokrat, Anarchie Arus Bakti, S.Psi., secara resmi membuka kegiatan Corteva Exhibition di Dusun Padali, Desa Tellulimpoe, Kecamatan Marioriawa, Selasa (5/5/2026).

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Bakti ini menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah konkret dalam mendukung program pemerintah untuk mempercepat swasembada pangan, khususnya pada sektor persawahan.

Bakti menyoroti tantangan yang dihadapi petani saat ini, yakni maraknya peredaran produk pertanian tidak resmi di platform belanja online. Produk-produk tersebut seringkali dijual dengan harga murah namun kualitasnya tidak terjamin.

“Banyak produk palsu yang beredar. Lewat edukasi ini, masyarakat diharapkan paham cara penggunaan dosis yang benar agar hasil panen tetap maksimal dan tidak merugi,” ujar Bakti.

Ia menilai, pemahaman komprehensif mulai dari pemilihan produk hingga teknik penggunaan di lapangan adalah kunci meningkatkan produktivitas. Bakti juga mengapresiasi langkah Corteva yang aktif memberikan edukasi langsung kepada para petani.

Kepala Desa Tellulimpoe, Darwis, S.IP., menyambut baik kehadiran legislator provinsi tersebut di tengah masyarakat. Menurutnya, kehadiran Bakti merupakan bentuk nyata kepedulian wakil rakyat terhadap kebutuhan sektor pertanian.

“Kami sangat mengapresiasi Bapak Bakti yang turun langsung. Kehadiran beliau menjadi motivasi besar bagi kami dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani di desa ini,” ungkap Darwis.

Selain fokus pada isu pertanian, legislator muda ini juga menegaskan komitmennya terhadap sektor pendidikan di daerah pemilihan (Dapil) Soppeng-Wajo. Ia meyakini bahwa kemajuan daerah harus ditopang oleh kualitas SDM yang mumpuni.

Bakti berjanji akan terus mengawal kebijakan yang berpihak pada peningkatan mutu pendidikan. Menurutnya, sinergi antara sektor ekonomi pertanian dan pendidikan akan menjadi pondasi kuat bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Selatan secara luas.

Kegiatan Corteva Exhibition ini diharapkan menjadi momentum berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas petani lokal melalui edukasi teknologi pertanian yang tepat guna.