Intens.id Versi penuh
News

Warga Kalukuang Makassar Bergerak Menuju Zero Waste, Gandeng Aktivis Lingkungan Lewat Budidaya Maggot

Oleh Redaksi Intens.id 22 Jun 2026 20:21 4 menit baca

Intens.id, Makassar  – Warga di dua Rukun Tetangga (RT) di Kelurahan Kalukuang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, menunjukkan komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan dengan menggagas gerakan menuju lingkungan tanpa limbah atau zero waste. Inisiatif positif ini datang dari RT 02 dan 03 RW 03 Kelurahan Kalukuang yang secara aktif menggandeng aktivis lingkungan dari Yayasan Pabbata Ummi Indonesia (Yapta UI) Edufarm.

Langkah awal dari upaya ambisius ini telah dilakukan melalui kegiatan sosialisasi yang berfokus pada pengelolaan sampah organik, yang diselenggarakan pada Minggu, 21 Juni 2026, di wilayah RT 02 RW 03 Kelurahan Kalukuang.

Ketua RT 02 RW 03 Kelurahan Kalukuang, Risma Asriani Azis G., didampingi oleh Ketua RT 003 Hj. Nurhana, menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan fondasi awal dalam mewujudkan komitmen kolektif warga RT 02 dan 03. Komitmen ini selaras dengan visi Pemerintah Kota Makassar untuk mencapai program "Makassar Bebas Sampah".

"Hari ini, kita melakukan sosialisasi dulu, selanjutnya ada pendampingan," ujar Risma.

Ia menambahkan bahwa fokus utama saat ini adalah mencari cara tercepat untuk mengurai sampah organik atau limbah basah agar tidak langsung menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Caranya, ya kita melakukan penguraian dengan larva maggot. Nah, sekarang kita hadirkan aktivis lingkungan, Kak Makmur, untuk menjelaskan tentang budidaya hewan pengurai sampah tercepat ini," jelas Risma.

Lebih lanjut, Risma mengungkapkan bahwa kegiatan sosialisasi ini tidak hanya menghadirkan aktivis lingkungan, tetapi juga menghadirkan penyuluh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar sebagai pemateri. Harapan besar tersemat pada kegiatan lanjutan yang akan melibatkan pendampingan budidaya maggot, sehingga larva tersebut benar-benar dapat menjadi solusi efektif pengurai sampah organik di wilayahnya. Selain program maggot, masyarakat di wilayah ini juga akan didorong untuk mempraktikkan penanaman sayuran, pembuatan kompos, serta melakukan pemilahan sampah organik dan non-organik. Langkah-langkah ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi beban tumpukan sampah di TPA Tamangapa Antang.

Direktur Yapta UI Edufarm, Makmur, S.Sos, menyatakan apresiasinya terhadap inisiatif yang digagas oleh RT 02 dan 03 RW 03 Kelurahan Kalukuang. Menurutnya, partisipasi aktif warga semacam ini sangat krusial dalam mendukung program Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menuju "Makassar Bebas Sampah".

Makmur, yang memiliki pengalaman beraktivitas di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa selama lebih dari 30 tahun, menjelaskan bahwa timbulan sampah yang masif terjadi karena sampah organik tidak diurai. Akibatnya, sampah organik bercampur dengan limbah lainnya seperti plastik, kertas, dan logam, yang semuanya dibuang di TPAS Tamangapa, membentuk timbunan sampah yang menyerupai bukit.

"Kami lihat sendiri proses pembuangan sampah ini selama kurang lebih 30 tahun kami beraktivitas di TPA Antang," urai Makmur, yang juga menjabat Ketua Yapta UI.

Ia menambahkan bahwa selama ini, Yapta UI, selain fokus pada pendampingan keluarga pemulung dan mantan pemulung terkait pendidikan, perlindungan anak dan perempuan, juga aktif dalam pemilahan sampah anorganik. Beberapa tahun terakhir, Yapta UI melakukan uji coba metode penguraian sampah organik, mengingat jumlahnya yang mendominasi, mencapai 50 hingga 70 persen dari total sampah yang dibuang di TPA Antang.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Yayasan Pabbata Ummi (Yapta-U) yang awalnya berfokus pada perlindungan anak, perempuan, dan keluarga pemulung, kini telah memperluas cakupannya ke pengelolaan lingkungan, khususnya limbah plastik, kertas, dan anorganik lainnya. Dalam perkembangannya, Yapta-U membangun unit bisnis berbasis lingkungan untuk mendukung kegiatan yayasan, yang dinamakan Yapta UI Edufarm. Unit usaha ini bergerak di bidang pengelolaan limbah organik. "Nah, kita manfaatkan maggot sebagai salah satu alternatif pengolah limbah sekaligus sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak," terang Makmur.

Makmur menegaskan bahwa hasil uji coba menunjukkan maggot adalah "monster pengurai alami" yang sangat efektif untuk sampah organik.

"Larva ini mampu mengurai sampah ratusan kilogram per hari atau bisa mencapai jumlah ton sampah dalam sebulan," jelas aktivis perlindungan anak dan perempuan ini.

Kak Makmur, sapaan akrabnya, lebih jauh menekankan bahwa pengolahan limbah organik, terutama dari sampah rumah tangga di Kota Makassar, sudah sangat mendesak mengingat penumpukan sampah organik yang terus meningkat di TPA Antang. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat untuk memanfaatkan larva maggot dalam mengurai limbah organik rumah tangga adalah solusi yang tepat agar sampah tidak lagi berakhir di TPA.

"Kami siap membantu mengedukasi dan bekerja sama semua pihak untuk mempercepat penguraian sampah organik ini," pungkas Makmur. Ia juga optimis bahwa dengan memanfaatkan maggot, sampah organik tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penambah ekonomi keluarga.

"Kami akan bagi caranya kepada masyarakat," tutupnya, menunjukkan komitmen penuh Yapta UI Edufarm dalam mendukung gerakan zero waste dan pemberdayaan masyarakat.

Topik terkait
zero waste makassar yapta ui Makmur Payabo Lingkungan maggot