Intens.id Versi penuh
Ekonomi Bisnis

Studi Sun Life Ungkap Fakta 80% Masyarakat Indonesia Terjepit Tekanan Biaya Hidup, Literasi Keuangan Jadi Kunci

Oleh Redaksi Intens.id 13 Jun 2026 17:43 6 menit baca

Intens.id, Jakarta - Mayoritas masyarakat Indonesia, tepatnya 80%, mengaku merasakan tekanan signifikan akibat kenaikan biaya hidup. Fakta ini terungkap dalam studi Financial Resilience Index 2026 yang diluncurkan oleh Sun Life Indonesia hari ini. Survei yang dilakukan bekerja sama dengan Genpop pada April 2026 ini melibatkan 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia, menyoroti bagaimana lonjakan biaya hidup menjadi faktor utama yang memengaruhi ketahanan rumah tangga.

Studi ini tidak hanya memotret realitas tekanan finansial yang dihadapi masyarakat, tetapi juga menegaskan kembali urgensi literasi keuangan sebagai fondasi krusial dalam membangun ketahanan finansial di tengah gejolak ekonomi yang tak menentu. Menariknya, temuan ini juga mencatat tren peningkatan pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan artifisial (AI) sebagai sumber informasi dan panduan dalam pengelolaan keuangan pribadi.

Realitas Keuangan Keluarga Indonesia yang Memprihatinkan

Dari keseluruhan responden yang disurvei, gambaran ketahanan finansial rumah tangga masih menunjukkan tantangan besar. Hanya 14% responden yang merasa sangat aman secara finansial, sementara 45% lainnya menyatakan bahwa mereka hanya mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan. Angka ini mengindikasikan bahwa sebagian besar rumah tangga di Indonesia masih memiliki bantalan keuangan yang sangat terbatas untuk menghadapi kondisi darurat atau ketidakpastian ekonomi.

Meskipun secara umum ketahanan finansial mencatat sedikit perbaikan, dengan kelompok yang tergolong sangat tangguh meningkat dari 30% menjadi 34%, namun penurunan pada kelompok menengah justru menyebabkan proporsi rumah tangga dengan ketahanan rendah meningkat. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa pemulihan ekonomi belum merata dan masih banyak segmen masyarakat yang rentan terhadap guncangan finansial.

Tekanan biaya hidup yang tinggi turut membentuk prioritas keuangan masyarakat ke arah jangka pendek. Hampir separuh responden (48%) belum memiliki rencana keuangan jangka panjang atau hanya merencanakan keuangan mereka hingga satu tahun ke depan. Ini menunjukkan bahwa fokus masyarakat lebih tertuju pada pemenuhan kebutuhan saat ini, sehingga membatasi kemampuan mereka untuk merancang masa depan finansial yang lebih stabil. Sejalan dengan itu, pengelolaan pengeluaran sehari-hari menjadi prioritas keuangan utama bagi 56% responden dalam 12 bulan ke depan, jauh melampaui tujuan menabung, berinvestasi, atau perencanaan jangka panjang lainnya.

Kenaikan biaya hidup tidak hanya menggerogoti anggaran rumah tangga, tetapi juga menjadi penghalang utama bagi upaya masyarakat untuk meningkatkan kondisi keuangan mereka. Sebanyak 30% responden menilai kenaikan biaya hidup sebagai tantangan terbesar dalam memperbaiki kondisi finansial, mengungguli faktor pendapatan yang tidak stabil maupun keterbatasan pengetahuan keuangan.

Untuk menghadapi tekanan ini, banyak masyarakat mengambil langkah penyesuaian jangka pendek yang mungkin berisiko dalam jangka panjang. Hampir seperempat responden (23%) terpaksa menggunakan tabungan yang dimiliki, 26% mengurangi atau menunda pengeluaran kebutuhan penting, bahkan 5% menunda kontribusi dana pensiun. Langkah-langkah ini, meski membantu di saat genting, berpotensi mengikis kesiapan dan ketahanan finansial mereka di masa mendatang.

Menanggapi temuan ini, Albertus Wiroyo, President Director Sun Life Indonesia, menyatakan, temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang di tengah perubahan kondisi ekonomi.

"Kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial. Di sinilah peran mitra keuangan yang dapat dipercaya, The one you can rely on, menjadi semakin penting, untuk memberikan rasa tenang dalam menghadapi ketidakpastian saat ini sekaligus membantu merencanakan masa depan," jelasnya.

Literasi Keuangan: Fondasi Ketahanan di Tengah Ketidakpastian

Di tengah tekanan finansial yang meluas, studi Sun Life menunjukkan pola yang jelas: individu yang lebih siap secara finansial cenderung lebih mampu menghadapi situasi ketidakpastian. Literasi keuangan menjadi faktor pembeda utama. Artinya, meskipun tekanan ekonomi memengaruhi rumah tangga di seluruh kelompok pendapatan, kemampuan untuk menghadapi tantangan tersebut semakin dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesiapan finansial masing-masing individu.

Individu yang melek finansial, yaitu mereka yang mampu memahami, mengelola, dan mengambil keputusan keuangan secara tepat, menunjukkan tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi. Mereka mencatat skor 53 poin lebih tinggi dalam indeks kepercayaan finansial (skala 100 poin) dan tiga kali lebih mungkin merasa siap menghadapi kenaikan biaya hidup. Mereka juga memiliki tingkat optimisme terhadap kondisi keuangan di masa depan yang 47 poin lebih tinggi dan secara signifikan lebih kecil kemungkinannya mengalami stres finansial secara berkelanjutan dibandingkan mereka yang memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih rendah. Selain itu, individu dengan literasi finansial yang baik lebih siap menghadapi keadaan darurat serta memiliki kebiasaan perencanaan jangka panjang yang lebih konsisten.

Manfaat perencanaan keuangan jangka panjang pun terlihat jelas. Di antara responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang, 86% merasa yakin dapat mencapai tujuan keuangan mereka, jauh berbeda dengan hanya 25% di antara mereka yang tidak memiliki rencana. Selain itu, 78% merasa siap menghadapi keadaan darurat finansial, dibandingkan hanya 13% pada responden yang tidak memiliki perencanaan keuangan jangka panjang. Temuan ini menegaskan bahwa literasi keuangan tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri, tetapi juga membentuk cara seseorang merespons tekanan ekonomi. Di tengah kenaikan biaya hidup, kemampuan untuk mengevaluasi pilihan, memprioritaskan pengeluaran, dan merencanakan ke depan menjadi semakin penting.

Membangun Kepercayaan di Era AI: Peran Teknologi dan Penasihat Keuangan

Kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan kini semakin diuji oleh perkembangan baru, yaitu meningkatnya penggunaan teknologi AI sebagai sumber panduan keuangan. Di tengah semakin kompleksnya pengambilan keputusan keuangan, masyarakat kini memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi keuangan melalui platform digital dan teknologi berbasis AI. Sebanyak 68% responden mengaku menggunakan generative AI untuk mencari informasi dan panduan keuangan, dan 67% memperkirakan penggunaan teknologi ini akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan. Temuan ini menempatkan Indonesia di antara negara-negara terdepan dalam adopsi generative AI untuk kebutuhan panduan keuangan di Asia.

Bagi banyak masyarakat, AI kini menjadi sarana yang praktis untuk memahami topik keuangan, membandingkan pilihan, dan membantu pengambilan keputusan sehari-hari. Studi ini juga menemukan bahwa tingkat adopsi generative AI lebih tinggi di kalangan individu dengan tingkat literasi keuangan yang baik. Walau teknologi dapat memperluas akses terhadap informasi keuangan, literasi keuangan tetap menjadi fondasi penting yang membantu individu mengevaluasi informasi secara kritis dan mengambil keputusan keuangan yang tepat.

Meskipun demikian, di tengah meningkatnya adopsi generative AI, peran penasihat keuangan tetap dianggap penting, terutama untuk keputusan yang lebih kompleks dan berdampak jangka panjang. Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak menggantikan peran manusia, melainkan melengkapinya. Teknologi membantu masyarakat mengakses informasi dengan lebih cepat, sementara panduan profesional tetap menjadi sumber kepercayaan dalam mengambil keputusan keuangan yang lebih besar dan strategis.

Albertus Wiroyo menambahkan, teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan literasi keuangan, namun tidak menggantikan kebutuhan akan panduan ahli atau penasihat keuangan yang bertanggung jawab.

"Penguatan fondasi ini tetap penting agar individu dapat mengevaluasi informasi secara kritis, mengambil keputusan yang tepat, serta menavigasi lanskap keuangan yang semakin kompleks menuju ketahanan finansial yang lebih baik," ujar Albertus.

Secara keseluruhan, tiga temuan utama dari studi Sun Life ini menyajikan gambaran yang konsisten: masyarakat Indonesia tengah menghadapi tekanan finansial yang nyata, literasi keuangan menjadi kunci utama ketahanan, dan teknologi semakin mengubah cara masyarakat mencari bantuan dalam mengelola keuangan. Di tengah tekanan ekonomi yang terus berlangsung, diketahui pula bahwa individu dengan tingkat literasi dan kesiapan finansial yang lebih baik cenderung mampu mempertahankan rasa percaya diri, tetap optimistis, dan menjaga fokus pada tujuan keuangan jangka panjang.

Sun Life Indonesia berkomitmen untuk terus menjadi teman seperjalanan yang dapat dipercaya dalam membantu masyarakat Indonesia membangun fondasi keuangan yang lebih kuat, dengan literasi agar lebih percaya diri dalam mengambil keputusan yang lebih baik serta solusi asuransi jiwa dan kesehatan yang komprehensif untuk setiap tahapan kehidupan keluarga.

Topik terkait
ekonomi financial