Intens.id Versi penuh
Pendidikan

PWM DIY Luncurkan Muhammadiyah Balanced Scorecard: Kuantifikasi Kinerja Tanpa Gerus Karakter

Oleh Harian Intens 04 Jun 2026 03:51 3 menit baca

Intens.id, Yogyakarta – Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) secara resmi meluncurkan Muhammadiyah Balanced Scorecard (MBS).

Instrumen inovatif ini diperkenalkan dalam sebuah acara bertempat di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada Selasa (2/6) lalu, menandai langkah strategis untuk mengukur dan meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah secara lebih terstruktur dan terukur.

Peluncuran MBS ini mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Didik Suhardi.

Menurutnya, kehadiran instrumen ini akan menjadi pendorong tercapainya progresivitas yang terukur melalui komponen data kuantitatif yang semakin terstruktur. Didik Suhardi menegaskan bahwa MBS akan sangat membantu dalam melihat sejauh mana keberhasilan dapat dicapai dengan target yang jelas dan terukur.

“Ini sangat baik untuk melihat secara kuantitatif sejauh mana keberhasilan dapat dicapai dengan target yang jelas dan terukur. Maka, ketika bicara KPI pendidikan, kita tak lepas dari 8 standar pendidikan nasional, ditambah hibrida kurikulum nasional dan kurikulum satuan pendidikan Muhammadiyah,” jelas Didik dalam agenda peluncuran tersebut.

Meski demikian, Didik Suhardi juga memberikan catatan penting yang perlu menjadi perhatian. Ia mengingatkan agar instrumen kuantitatif yang sedang dikembangkan ini tidak boleh menggerus strong point atau kekuatan utama dari nilai-nilai kualitatif yang selama ini telah menjadi ciri khas dan diperhitungkan oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah. Harmonisasi antara pengukuran kuantitatif dan kualitatif dianggap krusial.

“Khusus di jenjang SD kelas rendah, pengukuran lebih banyak pada karakter. Nah, karakter seperti sopan santun, toleransi, dan kemandirian itu sulit jika dikuantitatifkan. Jadi, KPI bukan satu-satunya ukuran dan jangan sampai KPI menghilangkan unsur penting yang justru menjadi output dari pendidikan Muhammadiyah,” tambahnya seraya berpesan kepada seluruh tenaga pendidikan Muhammadiyah untuk menjaga keseimbangan ini.

Senada dengan pandangan tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Ikhwan Ahada, turut menekankan pesan dan inspirasi dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Ikhwan Ahada mengingatkan bahwa pendidikan dalam pandangan Muhammadiyah harus selalu berlandaskan pada nilai-nilai luhur.

“Mbah Dahlan mengajarkan sekaligus menginspirasi kita semua bahwasannya ilmu harus berlandaskan kepada tauhid dan tidak membuat manusia menjadi sombong. Jadi perlu mengoptimalkan akal budi, mengombinasi ilmu dengan amal. Strong poin kita tetap pada nilai kualitatif itu,” jelas Ikhwan, memperkuat argumen tentang pentingnya menjaga esensi pendidikan karakter dan moral.

Bagi Muhammadiyah, pendidikan jauh melampaui sekadar proses transfer pengetahuan. Ia adalah sebuah proses tarbiyah yang holistik, bertujuan untuk membentuk karakter, adab, dan kepribadian peserta didik secara menyeluruh.

Pendidikan Muhammadiyah berupaya keras untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi, kepedulian sosial yang kuat, serta komitmen keislaman yang teguh.

Spirit ini sejalan dengan visi Muhammadiyah untuk menciptakan manusia berkemajuan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Oleh karena itu, kehadiran Muhammadiyah Balanced Scorecard diharapkan tidak hanya menjadi instrumen semata untuk mengukur kinerja lembaga pendidikan dalam aspek kuantitatif.

Lebih dari itu, MBS diharapkan menjadi sarana strategis untuk memastikan bahwa seluruh proses pendidikan yang berlangsung di lingkungan Muhammadiyah tetap berorientasi pada tujuan besar tersebut. Yakni, mencetak manusia berkemajuan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak mulia, dan senantiasa berkontribusi aktif bagi kemaslahatan umat, sebagaimana spirit teologi Al-Ma’un yang diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan. Dengan demikian, MBS menjadi jembatan antara capaian terukur dan nilai-nilai fundamental yang menjadi pondasi pendidikan Muhammadiyah.

Topik terkait
Muhammadiyah Pendidikan MBS Yogyakarta Inovasi Balanced scorer