Perkuat Kesehatan Mental, Asa Timur Indonesia Latih Pelajar Jadi Konselor Sebaya
Sebagai upaya nyata dalam menanggulangi fenomena kekerasan di lingkungan pendidikan dan memperkuat dukungan kesehatan mental bagi remaja, Yayasan Asa Timur Indonesia latih pelajar menjadi tenaga konselor sebaya
Intens.id, Sebagai upaya nyata dalam menanggulangi fenomena kekerasan di lingkungan pendidikan dan memperkuat dukungan kesehatan mental bagi remaja, Yayasan Asa Timur Indonesia berkolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla serta SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Mindful Mastery: Dukungan Kesehatan Mental Pelajar Berbasis Budaya Lokal di Sulawesi Selatan".
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (15/08/2026) ini diikuti oleh 20 murid terpilih dari kelas X, XI dan XII yang dipersiapkan menjadi garda terdepan dalam memberikan dukungan psikososial bagi rekan sejawat mereka di lingkungan sekolah.
Fenomena Kekerasan
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Sekolah SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar, Taufieq, S.Si., M.Pd., Gr, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap dinamika pendidikan saat ini yang masih diwarnai oleh berbagai bentuk kekerasan. Menurut beliau, fenomena perundungan (bullying) dan kekerasan tidak hanya menyasar murid, tetapi terkadang juga melibatkan guru dan orang tua, sebuah realitas yang ia sebut sangat memprihatinkan.
"Dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja jika kekerasan masih dianggap biasa. Anak-anak kita harus mampu mengidentifikasi sejak dini apa itu perundungan agar mereka tahu batasan-batasan yang ada," ujar Taufieq dalam sambutannya.
Beliau juga menambahkan bahwa faktor stres pada murid seringkali menjadi pemicu tindakan kekerasan, sehingga pembekalan kesehatan jiwa menjadi krusial, terutama bagi murid SMK Kesehatan yang nantinya akan terjun sebagai tenaga medis profesional.
Konselor Sebaya yang Kompeten
Selama dua hari intensif, para peserta dibekali dengan kurikulum komprehensif yang terbagi ke dalam tiga materi pokok melalui teknik penyampaian interaktif. Peserta diajarkan untuk memahami batasan kewenangan mereka sebagai konselor sebaya (Scope of Competence).
Mereka dilatih untuk menjadi "pendengar aman" tanpa harus merasa terbebani untuk memberikan solusi teknis seperti seorang psikolog profesional. Menggunakan teknik Simulasi Role Card Game "Lampu Hijau vs Lampu Merah",
“Peserta belajar memilah kasus mana yang bisa ditangani sendiri dan mana yang harus segera dirujuk, seperti kasus kekerasan seksual atau risiko menyakiti diri sendiri (self-harm),” ujar Imam, salah satu fasilitator dari Asa Timur Indonesia.
Peserta juga belajr teknik komunikasi empati, termasuk paraphrasing, refleksi perasaan, dan teknik bertanya "apa" atau "bagaimana" untuk menghindari sikap defensif dari teman yang bercerita. Mempraktikkan cara merespons tanpa memotong pembicaraan atau menceramahi, serta belajar bersikap asertif terhadap tekanan negatif dari teman sebaya.
Nurul Awaliah Arwing, Psikolog memberikan materi kepada murid pentingnya membangun komunikasi asertif. (Foto: Asa Timur Indonesia)
Wija Hadir Perdana, fasilator Asa Timur Indonesia turut memaparkan materi yang membekali para murid dengan kemampuan mendeteksi berbagai bentuk kekerasan, mulai dari perundungan verbal hingga cyberbullying.
“Fokus utama sesi ini adalah memastikan konselor sebaya memiliki literasi yang kuat mengenai jenis-jenis kekerasan di lingkungan sekolah dan navigasi sistem rujukan yang tepat. Kita tidak ingin siswa bingung atau takut saat menemukan kasus,” terangnya.
“Peserta juga diberikan pemahaman mengenai alur rujukan formal, mulai dari koordinasi dengan Guru BK, Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) sekolah, hingga akses ke lembaga profesional seperti UPTD PPA Kota Makassar,” tambah Wija.
Pendukung Sejawat
Dampak langsung dari pelatihan ini dirasakan oleh para peserta, salah satunya Siti Miftahul Huda. Miftah mengungkapkan bahwa melalui kegiatan ini, ia mendapatkan pemahaman baru mengenai peran konselor sebaya yang sebelumnya tidak ia ketahui.
"Saya sangat mengapresiasi pelatihan ini karena perkembangan pembulian di sekolah masih sering terjadi, bahkan saya sendiri pun dulu pernah mengalaminya," ungkapnya.
Baginya, pelatihan ini bukan sekadar pengisian waktu luang, melainkan sebuah proses penemuan diri dan pengembangan empati yang sangat berarti. Ia menyadari bahwa menjadi seorang pendengar yang baik memerlukan kemampuan untuk merefleksikan perasaan tersebut ke dalam diri sendiri terlebih dahulu, sebelum memutuskan bagaimana cara merespons teman yang sedang mengalami kesulitan
Ia berkomitmen untuk menerapkan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari dan berencana menjadikan materi pelatihan ini sebagai bahan evaluasi di organisasi OSIS tempatnya bernaung agar lingkungan sekolah menjadi lebih sehat secara mental bagi seluruh murid.
“Materi yang telah saya dapatkan akan diterapkan di aktivitas sekolah saya baik sebagai murid maupun sebagai pengurus OSIS,” ujar Miftah.
Kolaborasi Strategis
Kerja sama antara Yayasan Asa Timur Indonesia, LAZ Hadji Kalla, dan SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar ini menandai langkah penting dalam menciptakan ekosistem sekolah yang mendukung kesehatan mental. Melalui pelatihan ini, para wali kelas dan murid kini memiliki mitra internal (konselor sebaya) yang berada di garda terdepan dalam upaya pencegahan kekerasan.
“Kegiatan Mindful Mastery ini diharapkan tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi melahirkan komunitas konselor sebaya yang aktif, yang mampu mengasah kemampuan interpersonal mereka untuk digunakan di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat luas di masa depan,” ujar Mahfud, direktur Asa Timur Indonesia.
“Setelah pelatihan, akan ada pertemuan selanjutnya untuk melihat perkembangan dan kapasitas dari tenaga konselor sebaya di SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar,” pungkasnya.