Intens.id Versi penuh
News

Kisah Inspiratif dari Al-Biruni Mandiri School, Wabup Soppeng Terharu Saksikan Putrinya Terbitkan Buku di Usia 12 Tahun

Oleh Redaksi Intens.id 14 Jun 2026 21:22 4 menit baca

Intens.id, Makassar – Suasana haru bercampur bangga menyelimuti ballroom Hotel Four Points by Sheraton, Jalan Andi Djemma, Makassar, pada Sabtu (13/6) lalu. Di antara ratusan tamu undangan yang memenuhi ruangan, sepasang orang tua terlihat menatap penuh kekaguman. Mereka adalah Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, dan istrinya, dr. Rahmawati, M.Kes., S.Mb., yang hadir untuk menyaksikan momen istimewa putri mereka, Diananda Djiwa Mustika (12).

Diananda, dengan langkah mantap, berjalan ke atas panggung. Hari itu, ia tidak hanya menerima ijazah kelulusan dari Sekolah Dasar (SD) Al-Biruni Mandiri School, melainkan juga meluncurkan sebuah buku yang sepenuhnya ia tulis sendiri. Karya perdananya itu diberi judul "Wisuda Impian", sebuah judul yang terasa begitu relevan dan personal di hari kelulusannya. Bersama 31 wisudawan lainnya, Diananda menjadi bagian dari sebuah tradisi literasi yang telah menjadi identitas dan kebanggaan sekolah ini, di mana setiap siswa yang lulus wajib menerbitkan satu karya tulis, baik itu cerpen maupun novel, sebagai jejak nyata dari perjalanan belajar mereka.

Tradisi "Satu Siswa, Satu Buku": Membentuk Penulis Sejak Dini

Tradisi "Satu Siswa, Satu Buku" di Al-Biruni Mandiri School bukanlah sekadar program tambahan atau pelengkap kurikulum. Ia adalah inti dari filosofi pendidikan yang membedakan sekolah ini dari institusi pendidikan lainnya. Sejak jenjang SD, SMP, hingga SMA, setiap siswa didorong untuk tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga mampu menuangkan gagasan dan imajinasi mereka ke dalam bentuk tulisan yang utuh. Setiap momen kelulusan menjadi panggung bagi para siswa untuk tidak hanya membawa ijazah formal, tetapi juga sebuah buku yang lahir dari tangan dan pemikiran mereka sendiri.

Bagi Diananda, penerbitan buku "Wisuda Impian" di usia dua belas tahun ini adalah bukti konkret dari proses panjang yang telah ia jalani. Buku itu menjadi manifestasi nyata bahwa usia mudanya telah ia isi dengan sesuatu yang berharga, sesuatu yang bisa ia pegang, baca ulang di kemudian hari, dan banggakan seumur hidupnya. Ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah buku, tetapi tentang menanamkan kepercayaan diri, kemampuan berekspresi, dan semangat berkarya sejak dini.

Wabup Selle Berbicara dari Hati, Apresiasi Terhadap Pendidikan Berbasis Karya

Kehadiran Ir. Selle KS Dalle pada acara tersebut bukan hanya sebagai tamu undangan biasa, melainkan ia didaulat untuk naik ke panggung mewakili seluruh orang tua wisudawan. Di hadapan hadirin yang memadati ballroom, ia berbicara bukan dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara, melainkan sebagai seorang ayah yang baru saja menyaksikan sebuah momen yang membuatnya terharu sekaligus bangga mendalam. Dengan suara yang penuh emosi, ia menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan pendidikan Al-Biruni Mandiri School.

“Saya kira momen ini sungguh luar biasa, kita patut bangga dan mengapresiasi Al-Biruni Mandiri School yang telah mendorong anak-anak untuk berkarya sejak dini. Para pendidik memfasilitasi dan mendampingi anak-anak untuk berani menuangkan ide-idenya dalam sebuah karya tulis, dan pertama kalinya saya temukan di sini. Sungguh sangat menarik untuk dicontoh sekolah-sekolah lain,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah. Ia menegaskan bahwa kemampuan menulis adalah bekal hidup yang jauh lebih berharga dari sekadar deretan angka di rapor. Menurutnya, prestasi sejati bukan hanya diukur dari gelar yang disandang atau nilai akademis semata, tetapi dari karya yang bisa dibaca, dirasakan, dinikmati, dan bahkan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Acara Akhirussanah Al-Biruni Mandiri School memang dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar seremoni perpisahan biasa. Selain peluncuran buku-buku karya siswa, panggung juga diisi dengan Gelar Karya yang menampilkan beragam pentas seni, drama, dan presentasi hasil belajar siswa selama setahun penuh. Setiap penampilan adalah cerita tentang proses pembelajaran, dedikasi, dan kreativitas, bukan hanya fokus pada hasil akhir semata. Ini menunjukkan komitmen sekolah dalam mengembangkan potensi holistik setiap siswanya.

Momen paling mengharukan dalam rangkaian acara tersebut adalah Pelepasan Siswa Tahfidz, sebuah perayaan bagi para siswa yang berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an. Isak tangis haru dan senyum bangga bercampur aduk di wajah para orang tua dan hadirin. Tak satu pun orang tua yang hadir mampu menyembunyikan kebanggaan mereka menyaksikan anak-anaknya menorehkan prestasi spiritual yang luar biasa, melengkapi capaian akademis dan literasi mereka.

Kehadiran Ir. Selle KS Dalle dan dr. Rahmawati hari itu adalah pengingat sederhana namun kuat bahwa di balik setiap jabatan dan kesibukan, selalu ada peran sebagai orang tua yang ingin duduk di kursi tamu undangan dan menyaksikan anaknya bersinar. Momen ini menggarisbawahi pentingnya dukungan keluarga dalam setiap pencapaian anak.

Al-Biruni Mandiri School, dengan seluruh keunikan programnya, telah membuktikan bahwa kelulusan bisa dirancang bukan sebagai akhir dari sebuah perjalanan belajar, melainkan sebagai peluncuran bagi anak-anak yang siap meninggalkan jejak di dunia dengan cara mereka sendiri. Kisah Diananda Djiwa Mustika dan buku "Wisuda Impian"-nya menjadi inspirasi bahwa usia muda bukanlah halangan untuk berkarya, dan bahwa pendidikan sejati adalah yang mampu menumbuhkan potensi, kreativitas, dan keberanian untuk menciptakan sesuatu yang berarti. Ini adalah cerminan visi pendidikan yang tak hanya mengejar angka, tetapi juga membentuk karakter dan menghasilkan karya nyata yang bermanfaat bagi sesama.

Topik terkait
Selle KS Dalle Penulis Buku Al-Biruni Mandiri School Wisuda Impian