Gelar Lapak Baca, Mahasiswa Ubhara Jaya Kritik Kampus yang Dinilai Belenggu Nalar Kritis
Intens.id, Bekasi - Sejumlah mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) Bekasi menghadirkan lapak baca gratis sebagai ruang alternatif literasi dan diskusi. Melalui aksi ini, mereka sekaligus melontarkan kritik keras terhadap pihak rektorat dan kampus yang dinilai membelenggu nalar kritis serta pergerakan mahasiswa.
Kehadiran lapak baca ini bukan sekadar ajang berbagi buku. Kegiatan tersebut merupakan wujud kegelisahan mahasiswa atas kondisi ruang intelektual di dalam kampus.
Para mahasiswa menilai, kampus saat ini belum memberikan keleluasaan bagi mahasiswanya untuk mengembangkan kebebasan berpikir dan membangun gerakan secara mandiri.
“Kami membuka lapak baca karena kami percaya bahwa membaca adalah awal dari keberanian untuk bertanya. Dari sanalah kesadaran kritis tumbuh,” ujar Ferdi Yansyah, salah satu mahasiswa Ubhara Jaya.
Soroti Adanya Dugaan Intimidasi
Di balik aktivitas literasi tersebut, para mahasiswa menyoroti kultur kampus yang dianggap anti-kritik. Mereka menyebut adanya pengalaman terkait ancaman atau tekanan terhadap mahasiswa yang mencoba mengorganisasi diri dan menyuarakan pendapat.
Bagi mereka, kondisi ini adalah persoalan serius. Mahasiswa mempertanyakan esensi pendidikan tinggi jika mereka hanya diperbolehkan pintar di ruang kelas, tetapi dipersoalkan saat mencoba membaca realitas di luar kelas.
Lapak baca gratis ini pun menjadi simbol perlawanan intelektual. Tanpa pungutan biaya, syarat keanggotaan, maupun kepentingan komersial, mahasiswa menyediakan ruang nyata untuk berdiskusi dan membaca buku-buku di luar daftar bacaan perkuliahan.
“Kalau membaca saja dicurigai, berdiskusi dianggap mengganggu, dan mahasiswa yang membangun gerakan justru diancam, lalu di mana sebenarnya ruang mahasiswa untuk belajar menjadi warga negara yang kritis?” ungkap pernyataan mahasiswa dalam rilis tersebut.
Bukan Bermusuhan, Melainkan Dinamika Akademik
Lebih lanjut, para mahasiswa menegaskan bahwa kritik yang dilayangkan tidak berarti mereka memusuhi institusi kampus. Sebaliknya, kritik dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan akademik.
Universitas semestinya menjadi tempat di mana mahasiswa dapat menguji gagasan, mempertanyakan kebijakan, dan membangun gerakan sosial secara bertanggung jawab tanpa dibayangi rasa takut. Mahasiswa adalah subjek akademik, bukan sekadar objek pendidikan yang hanya menerima perintah.
Mahasiswa Ubhara Jaya berharap pihak kampus tidak memandang inisiatif lapak baca dan gerakan mahasiswa sebagai ancaman. Sebaliknya, hal itu harus dilihat sebagai dinamika akademik yang sehat.
Mereka mendesak agar kampus tidak hanya mengajarkan cara mendapat pekerjaan atau menyelesaikan soal ujian, tetapi juga memberikan keberanian untuk mempertanyakan persoalan yang lebih besar.
"Sebab mahasiswa yang membaca tidak sedang mencari masalah, mereka sedang mencari kebenaran. Dan mahasiswa yang bergerak tidak sedang mencari keributan, mereka sedang mencari perubahan," tutup pernyataan tersebut.