Game Digital Untia EcoHero, Inovasi Mahasiswa Unhas untuk Pembelajaran Lingkungan Bagi Anak
Intens.id, Makassar - Anak-anak hari ini tumbuh di tengah gempuran ancaman krisis iklim yang makin nyata, tetapi metode pendidikan lingkungan yang mereka terima di sekolah sering kali masih mengulang pola lama yang kaku dan menjenuhkan. Di saat gawai dan media interaktif telah menjadi bagian dari keseharian generasi muda, alat bantu ajar untuk menanamkan kepedulian bumi justru seolah berjalan di tempat. Celah inilah yang dijawab oleh sekelompok mahasiswa Universitas Hasanuddin lewat terobosan gim (pembelajaran digital) sebuah langkah segar yang tak hanya menembus kebekuan cara belajar, tetapi juga patut mendapat dukungan luas agar berdampak lebih masif.
Upaya menanamkan kepedulian lingkungan pada generasi muda kini membutuhkan pendekatan yang jauh lebih adaptif, segar, dan relevan dengan perkembangan zaman. Di tengah ancaman krisis iklim global yang kian terasa dampaknya, mulai dari kenaikan suhu bumi, cuaca ekstrem, hingga penumpukan sampah liar di kawasan pesisir, pendidikan lingkungan bagi anak-anak sejak usia dini menjadi sebuah urgensi mendesak.
Metode pembelajaran konvensional yang cenderung satu arah dan kaku kerap kali kurang efektif dalam menarik minat generasi digital native. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan sebuah terobosan edukasi berbasis teknologi melalui media permainan interaktif yang menyenangkan sekaligus edukatif.
Inovasi tersebut lahir dari tangan Muhammad Al Mabrur G, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Al Mabrur merancang sebuah gim edukasi bertajuk Untia EcoHero sebagai bagian dari program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116. Kegiatan ini berpusat di Kelurahan Untia, Kecamatan Biring Kanaya, Kota Makassar, sebuah wilayah pesisir yang memiliki potensi ekologis sekaligus rentan terhadap dampak perubahan iklim dan persoalan sampah. Lewat karya digital ini, edukasi pelestarian alam coba dihadirkan kembali dengan gaya yang lebih karib bagi anak-anak sekolah dasar.
Al Mabrur menjelaskan bahwa gim Untia EcoHero dirancang khusus sebagai media pembelajaran interaktif agar proses transfer pengetahuan mengenai isu-isu ekologi dapat berjalan secara alami tanpa mengesankan pola belajar yang menggurui. Melalui pendekatan game-based learning, para siswa diajak untuk menyerap berbagai materi lingkungan hidup sembari bermain. Pola ini diyakini mampu membuat pemahaman tentang pentingnya menjaga bumi mengendap lebih lama dalam ingatan anak-anak, sekaligus menumbuhkan kebiasaan positif sejak dini yang berakar pada kesadaran mandiri.
Secara materi, gim ini mengusung cakupan edukasi yang cukup komprehensif dengan menyasar beberapa isu krusial. Pemain diajak memahami teknik pemilahan sampah yang benar, mempraktikkan konsep dasar 3R (Reduce, Reuse, Recycle), hingga mengenal prinsip dasar Energi Baru Terbarukan (EBT) yang disajikan dengan bahasa sederhana. Menariknya, Untia EcoHero tidak hanya berkutat pada isu lingkungan universal, melainkan juga mengintegrasikan muatan kearifan lokal. Di dalam gim, disisipkan narasi sejarah, kekayaan budaya, hingga potensi pariwisata Kelurahan Untia, sehingga pemain diajak mencintai lingkungan sekaligus mengenal identitas daerah pesisir Makassar secara lebih dekat.
Dari sisi teknis dan desain antarmuka, Untia EcoHero memadukan unsur hiburan dan edukasi secara seimbang. Gim ini dilengkapi dengan sistem dialog interaktif bergaya visual novel untuk menyampaikan alur cerita dan materi pembelajaran. Selain itu, terdapat berbagai mini-game interaktif yang menuntut keterlibatan aktif siswa. Anak-anak tidak hanya duduk dan membaca teks secara pasif, tetapi juga diajak mengeksekusi misi, berpikir kritis, serta melatih ketangkasan saat menyelesaikan setiap tantangan lingkungan di layar monitor maupun telepon pintar.
Guna memastikan aksesibilitas yang luas, Untia EcoHero dikembangkan agar fleksibel dijalankan di berbagai perangkat. Gim ini dapat diakses secara gratis baik pada platform Android maupun Desktop, sehingga sangat memudahkan guru dalam memanfaatkannya sebagai media pendukung di ruang kelas, atau digunakan para orang tua sebagai sarana belajar mandiri anak di rumah. Lebih dari sekadar alat bantu ajar, gim ini juga diproyeksikan sebagai media promosi digital yang efektif untuk memperkenalkan potensi kawasan ekowisata Kelurahan Untia ke khalayak publik yang lebih luas.
Implementasi langsung dari gim ini dilaksanakan dalam kegiatan bertajuk "Edukasi Pemilahan Sampah (Waste Sorting) dan EcoHero: Media Pembelajaran Berbasis Permainan Digital" yang berlangsung di SD Inpres Lae-Lae 2, Kota Makassar, pada Kamis, 30 Juli 2026.
Dalam suasana yang riuh dan penuh semangat, puluhan siswa tampak antusias mencoba gim tersebut secara langsung. Partisipasi aktif dan gelak tawa siswa memenuhi ruang kelas saat mereka berpacu memilah sampah virtual dan menyelesaikan misi-misi lingkungan dalam gim Untia EcoHero.
Keberhasilan program edukasi berbasis teknologi ini tidak terlepas dari kolaborasi lintas disiplin ilmu yang digalang oleh Tim KKN Tematik 116 Unhas Kelurahan Untia. Di bawah koordinasi tim, berbagai latar belakang keilmuan saling melengkapi untuk merancang, menguji, dan mendampingi pelaksanaan kegiatan di lapangan. Tim ini diperkuat oleh Muhammad Yusuf Inori Tjaronge dari Teknik Sipil, Wiwik Dian Andana dari Akuntansi, Aa Indah Putri Filadelfia dari Sastra Inggris, Andi Muhammad Rouzan Ilham dari Statistika, Sakiatul Ilmi dari Ilmu Hukum, Muhammad Al Mabrur G dari Teknik Elektro selaku pengembang gim, Aisyah Ramadhani Khairunnisa dari Ilmu Komunikasi, serta Siti Hadijah Bulan Antariksa dari program studi Pariwisata.
Kehadiran gim Untia EcoHero memicu harapan baru bagi perbaikan pola pendidikan lingkungan hidup di tingkat sekolah dasar. Di tengah kebutuhan akan inovasi media pembelajaran yang terus berkembang pesat, terobosan dari mahasiswa Unhas ini membuktikan bahwa teknologi digital dan gim dapat ditransformasikan menjadi sarana edukasi yang ampuh. Melalui kombinasi antara pemahaman krisis iklim, muatan kearifan lokal, dan kemasan visual yang interaktif, anak-anak tidak hanya diajak menjadi pemain di dalam gim, tetapi juga disiapkan untuk menjadi pahlawan lingkungan yang nyata di kehidupan sehari-hari demi masa depan bumi yang berkelanjutan.