Edukasi dan Pelepasliaran Tukik di Barrang Caddi Tumbuhkan Kepedulian Generasi Muda
Intens.id, Sebanyak 14 ekor tukik berhasil dilepasliarkan ke habitat alaminya. Tukik-tukik ini merupakan hasil upaya konservasi yang dilakukan oleh komunitas masyarakat di Pulau Barrang Caddi sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian penyu dan ekosistem laut.
Kegiatan diselenggarakan melalui kolaborasi Jaring Nusa, Indonesian Youth Action, dan warga di Pulau Barrang Caddi pada tukik pada Minggu (21/6/2026).
Sebelum pelepasliaran dilakukan, para peserta mendapatkan sesi edukasi dari Rafli dari Lestari Penyu. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis penyu yang dapat ditemukan di perairan Pulau Barrang Caddi dan seluruhnya merupakan satwa yang dilindungi.
“Jadi Pulau Barrang Caddi sendiri memiliki 3 jenis penyu dari 7 jenis yang ada di Indonesia. Semua jenis penyu dilindungi oleh negara dan kami berupaya untuk menjaga dan melestarikan,” ujarnya.
Peserta juga diajak memahami siklus hidup penyu, berbagai ancaman yang dihadapi, serta pentingnya menjaga kawasan pesisir dan laut agar tetap lestari. Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat.
Pengalaman Berkesan
Momen yang paling dinantikan adalah saat pelepasliaran. Dengan penuh kegembiraan, para peserta berjalan kurang lebih 100 meter dari lokasi edukasi ke pinggir pantai untuk pelepasliaran tukik.
Mereka berbaris di tepi pantai sambil menyaksikan tukik-tukik kecil bergerak perlahan menuju laut. Sorak gembira dan tepuk tangan terdengar ketika satu per satu tukik berhasil mencapai ombak dan memulai perjalanan panjangnya di lautan.
Bagi banyak peserta, ini merupakan pengalaman pertama melihat pelepasliaran tukik secara langsung. Pengalaman tersebut memberikan kesan mendalam sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, tetapi tugas bersama seluruh masyarakat.
Sitti Aulia Puspita, koordinator One Day Action Makassar menjelaskan kegiatan ini memberikan banyak pembelajaran baru dan menjadi kesempatan bagi kami sebagai anak muda untuk berkontribusi pada SDGs 14 (Life Below Water), SDGs 15 (Life on Land), dan SDGs 17 (Partnerships for the Goals).
“Menurut saya, isu kelautan masih jarang tersentuh oleh masyarakat umum, padahal laut memiliki peran yang penting bagi kehidupan kita. Karena itu, saya ingin mengajak teman-teman untuk belajar, mengenal, dan peduli terhadap laut bersama-sama melalui kegiatan ini,” jelas Aul.
“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja. Semoga teman-teman yang terlibat dapat membawa pulang pemahaman bahwa ada begitu banyak biota laut dan ekosistem yang perlu kita jaga, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki peran dalam melestarikan lingkungan,” tambahnya.
Pulau Kecil yang Rentan
Dalam kegiatan tersebut, Tabrani, salah seorang warga Pulau Barrang Caddi, berpesan kepada generasi muda untuk terus menjaga laut dan pesisir. Menurutnya, sebagai negara kepulauan, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kesehatan laut yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat.
“Indonesia adalah kepulauan jadi wajar kalau kita harus berpikir tentang laut. Menjaganya agar dapat dinikmati generasi mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Riszky, perwakilan dari sekretariat Jaring Nusa menjelaskan jika pulau-pulau kecil harus mendapat perhatian serius dari semua pihak karena posisinya yang rentan terlebih terdampak krisis iklim.
Berbagai studi menunjukkan bahwa kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, serta peningkatan suhu laut telah memperbesar risiko abrasi pantai dan kerusakan ekosistem pesisir. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena pemutihan karang juga semakin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia akibat peningkatan suhu permukaan laut yang berkaitan dengan krisis iklim.
“Di pulau kecil, ancaman abrasi, memutihnya terumbu karang hingga biota laut perlahan menunjukkan tren negatif dan terus berlangsung. Upaya-upaya yang dilakukan oleh warga harus didukung seperti di Pulau Barrang Caddi, Makassar ini,” terangnya.
Inisiatif masyarakat seperti konservasi penyu, rehabilitasi ekosistem pesisir, dan edukasi lingkungan menjadi langkah penting yang perlu mendapat dukungan dari pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, hingga generasi muda.
Anak muda memainkan peran krusial dalam pelestarian ekosistem laut. Masing-masing punya kapasitas dan menjadi modal untuk bergerak sesuai dengan pilihan dan kemampuannya,” pungkas Riszky.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak anak muda yang peduli terhadap lingkungan, ikut menjaga ekosistem laut, dan menjadi bagian dari upaya pelestarian penyu serta kekayaan hayati pesisir Indonesia.