Intens.id Versi penuh
Teknologi

BRIN Luncurkan LAHSADIMIN, Solusi Sampah Perkotaan

Oleh Arman Jaya 03 Jun 2026 15:43 3 menit baca

Intens.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus bergerak maju dalam mencari solusi inovatif untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia.

Terobosan terbaru datang dari pengembangan LAHSADIMIN Generasi 2, sebuah teknologi pirolisis canggih yang dirancang untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak skala industri.

Inovasi ini diharapkan menjadi jawaban atas tantangan lingkungan dan ekonomi yang selama ini membelit banyak daerah di Tanah Air.

Pengelolaan sampah, khususnya plastik, telah lama menjadi isu krusial yang membutuhkan penanganan serius di perkotaan Indonesia.

Menyadari urgensi tersebut, BRIN secara aktif mengembangkan berbagai terobosan, salah satunya adalah LAHSADIMIN, singkatan dari Liquid Fuel from Plastic Waste with Advanced Pyrolysis System for Industrial Scale.

Teknologi ini fokus pada konversi sampah plastik menjadi bahan bakar cair yang tidak hanya bernilai ekonomis tetapi juga berkelanjutan.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN, Agus Kismanto, menjelaskan dalam acara BRIN EnviroTalk #55 bertema "Eksposs BRIN: Hasil Kaji Terap Teknologi Pengelolaan Sampah Perkotaan" yang digelar secara daring belum lama ini, bahwa perjalanan pengembangan LAHSADIMIN dimulai dari Generasi 1.

Versi awal ini dirancang dengan kapasitas pengolahan 400 kilogram sampah plastik per hari, menggunakan jenis plastik Polipropilena (PP), Polistirena (PS), dan Polietilena (PE) sebagai bahan baku. Sistem operasinya semi-kontinu, memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakar, dan mampu beroperasi hingga tiga hari tanpa henti, menghasilkan minyak plastik mentah sekitar 300 liter per hari.

Namun, Agus tak menampik bahwa LAHSADIMIN Generasi 1 menghadapi sejumlah tantangan signifikan. "Pasokan bahan baku yang belum stabil serta hasil produksi sekitar 300 liter per hari belum mampu menutup biaya operasional," terangnya.

Selain itu, keekonomiannya juga belum cukup menarik bagi investor, sehingga pengembangannya belum optimal.

Berangkat dari evaluasi mendalam terhadap Generasi 1, BRIN kemudian merancang ulang teknologi ini menjadi LAHSADIMIN Generasi 2. Peningkatan kapasitas menjadi fokus utama, dari 400 kg menjadi 1,25 ton per hari, dengan target ambisius hingga 5 ton per hari.

Bahan baku yang digunakan pun lebih fleksibel, yakni residu padat plastik refuse derived solid (RDS), yang membuka peluang lebih besar untuk integrasi dalam sistem pengelolaan sampah yang lebih luas. Agus Kismanto menggarisbawahi terobosan utama pada Generasi 2 terletak pada perubahan sistem operasi menjadi multikontinu.

"Sampah plastik kini dapat langsung dimasukkan ke reaktor tanpa perlu pemilahan ketat," jelasnya. 

Inovasi lainnya adalah adopsi sistem dua tahap dengan plastic-based liquefaction, di mana plastik dicairkan terlebih dahulu. Proses ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pirolisis tetapi juga memungkinkan desain reaktor yang lebih ringkas dan hemat tempat.

Selain menghasilkan bahan bakar minyak berkualitas, LAHSADIMIN Generasi 2 juga memproduksi bahan bakar gas. Gas hasil pirolisis ini dapat dikompresi menjadi produk bernilai tambah, menambah diversifikasi output dan potensi keuntungan. Agus menegaskan bahwa pengembangan LAHSADIMIN Generasi 2 bukan sekadar inovasi teknologi semata, melainkan jawaban konkret atas kebutuhan nasional.

"Banyak daerah di Indonesia masih belum memiliki fasilitas pengolahan sampah yang memadai," ujarnya.

Teknologi ini diharapkan menjadi bagian integral dari solusi pengolahan sampah hingga 100 ton per hari, di mana sekitar 10 persennya adalah sampah plastik. Dampak ekonomi yang signifikan juga diperkirakan muncul. Dengan kemampuan LAHSADIMIN Generasi 2 mengolah RDS, bahan baku ini dapat dibeli dengan harga di atas Rp1.000 per kilogram.

"Hal ini akan menjadikan fasilitas produksi RDS lebih layak untuk dibangun secara lebih luas di berbagai wilayah," pungkas Agus, membuka harapan baru bagi pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.

Topik terkait
Teknologi BRIN Inovasi Sampah LAHSADIMIN