Intens.id Versi penuh
News

Balikpapan dan Bulukumba Jalin KAD Pangan: Solusi Atasi Kerentanan Kota Jasa atau Sekadar Janji di Atas Kertas?

Oleh Redaksi Intens.id 11 Aug 2026 21:33 4 menit baca

Intens.id, Balikpapan - Pemerintah Kota Balikpapan, yang selama ini dikenal sebagai kota jasa dengan keterbatasan lahan pertanian, secara struktural menghadapi kerentanan pangan yang signifikan. Ancaman inflasi akibat gejolak pasokan menjadi momok yang tak kunjung usai.

Menjawab tantangan ini, sebuah langkah strategis diambil melalui penandatanganan Kesepakatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kerja sama ini bertujuan utama untuk menjaga ketersediaan pangan dan menekan laju inflasi, sebuah upaya yang diharapkan mampu meredam gejolak harga yang kerap membebani masyarakat.

Langkah formal ini dirangkaikan dengan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan, menggarisbawahi urgensi mitigasi risiko pangan. Selain Bulukumba, Balikpapan juga menjalin KAD serupa dengan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menegaskan strategi diversifikasi sumber pasokan demi ketahanan pangan regional.

Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, secara terang-terangan mengakui bahwa posisi Balikpapan sebagai kota jasa membawa konsekuensi logis: ketergantungan kronis pada pasokan pangan dari daerah lain. Kondisi ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari pola pembangunan kota yang kerap mengesampingkan sektor primer. "Kerja sama antardaerah menjadi salah satu strategi utama dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi," tegas Rahmad.

Rahmad menambahkan, upaya pengendalian inflasi tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan internal kota. Rantai pasok yang panjang, distribusi yang rentan, dan kepastian pasokan yang fluktuatif seringkali menjadi pemicu utama kenaikan harga. Oleh karena itu, kolaborasi lintas batas administrasi dengan daerah-daerah penghasil pangan menjadi keniscayaan. Tanpa sinergi ini, masyarakat, terutama kelompok rentan ekonomi, akan terus menanggung beban fluktuasi harga yang tak terkendali, mengancam daya beli dan stabilitas sosial.

Namun, Wali Kota Rahmad juga menyuarakan harapan sekaligus tantangan. Ia berharap agar kesepakatan yang telah diteken tidak berhenti pada dokumen formal semata. "Ini harus segera diterjemahkan dalam langkah konkret, termasuk penguatan jejaring distribusi serta pertukaran informasi mengenai produksi dan harga komoditas pangan," ujarnya, mengisyaratkan bahwa implementasi di lapangan adalah kunci keberhasilan, bukan sekadar janji di atas kertas.

Bulukumba: Potensi Melimpah, Harapan Ekonomi Baru

Di sisi lain, Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, menyambut positif kerja sama ini. Bagi Bulukumba, kemitraan dengan Balikpapan membuka peluang pasar yang lebih luas, sekaligus menegaskan peran Bulukumba sebagai lumbung pangan potensial bagi Kalimantan. Andi Utta, sapaan akrabnya, bahkan menyinggung hubungan historis Bulukumba dengan Kalimantan melalui industri kapal Pinisi.

"Banyak kapal Pinisi yang dibuat di beberapa wilayah Kalimantan. Tetapi sesungguhnya, para pembuatnya banyak berasal dari Bulukumba," ungkapnya.

Hubungan historis ini, menurut Andi Utta, adalah modal sosial berharga yang dapat memperkuat ikatan kerja sama. Kini, Bulukumba tidak hanya menawarkan sumber daya manusia dan tradisi maritim, tetapi juga pasokan pangan dan komoditas unggulan daerah.

"Insya Allah, untuk kebutuhan pangan itu bisa kita penuhi melalui jalur laut," kata Andi Utta, menekankan konektivitas maritim sebagai tulang punggung distribusi.

Bulukumba memang memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, kelautan, dan peternakan. Pemerintah Kabupaten Bulukumba terus mendorong program bibit unggul dan penguatan ketahanan pangan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil pertanian. Di sektor perikanan dan kelautan, berbagai program seperti 1.000 Rumpon serta pembangunan fasilitas pendukung seperti kolam labuh, pelabuhan, dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terus digalakkan. Ini adalah upaya sistematis untuk mengoptimalkan sumber daya alam dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani, nelayan, dan peternak lokal.

"Potensi kita cukup besar. Kita punya pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan. Ini yang terus kita kembangkan agar produksi meningkat dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat," jelas Andi Utta, menunjukkan optimisme terhadap dampak positif kerja sama ini bagi peningkatan kesejahteraan warganya.

Membangun Rantai Pasok Berkelanjutan: Tantangan dan Harapan

Kerja sama antara Bulukumba dan Balikpapan ini diharapkan menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok pangan yang lebih kuat, efisien, dan berkelanjutan. Bulukumba, sebagai daerah penghasil, akan menemukan pasar yang stabil di Kalimantan, sementara Balikpapan akan mendapatkan kepastian pasokan yang krusial bagi stabilitas harga dan ketahanan pangan warganya.

Dengan dukungan konektivitas transportasi laut yang memadai, Bulukumba optimistis mampu memperluas jangkauan produk pertanian, perikanan, dan peternakannya. Ini bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan pembukaan peluang ekonomi baru yang konkret bagi para petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, dan dunia usaha di Bulukumba. Namun, di balik narasi optimisme ini, tantangan implementasi tetap membayangi. Mewujudkan kesepakatan formal menjadi aksi nyata di lapangan memerlukan komitmen kuat, koordinasi lintas sektor, dan pengawasan berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya menjadi catatan statistik semata.

Topik terkait
Balikpapan Pangan Inflasi Kerjasama Bulukumba Rantai pasok Pasar