Air Bersih Hadir di TPAS Tamangapa Antang Berkat Advokasi, Perilaku Kelola Sampah Warga Makassar Masih Jadi Sorotan
Intens.id, Makassar - Warga di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa Antang, Makassar, kini bisa bernapas lega setelah bertahun-tahun kesulitan mengakses air bersih. Berkat advokasi yang gigih, pasokan air bersih dari PDAM Kota Makassar kini tersedia, membawa perubahan signifikan dalam kualitas hidup mereka.
Namun, di sisi lain, kesadaran dan perubahan perilaku warga Makassar terkait pengelolaan limbah atau sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang besar, seperti diungkapkan Makmur Payabo setelah diwawncarai mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) di Yayasan Pabbata Ummi Indonesia (YAPTA-UI), Sabtu, 30 Mei 2026.
TPAS Tamangapa Antang merupakan salah satu fasilitas vital bagi Kota Makassar dalam menampung limbah domestik. Keberadaannya, meski esensial, seringkali menimbulkan berbagai dampak lingkungan dan sosial bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Salah satu masalah krusial yang dulu dihadapi adalah akses terhadap air bersih yang layak, serta berbagai masalah kesehatan yang timbul akibat lingkungan yang terpapar limbah.
Makmur Payabo, yang telah mendedikasikan diri melalui YAPTA-UI, menceritakan perjuangan panjang untuk menghadirkan air bersih di kawasan tersebut.
"Dulu, masyarakat di sekitar TPAS sangat kesulitan. Tidak bisa membuat sumur atau sumur bor karena air sudah tercemar gas metana dari sampah," ujarnya.
Kondisi ini memaksa warga untuk membeli air dari perumahan menggunakan gerobak. Setelah advokasi yang berlangsung selama delapan tahun oleh YAPTA-UI, akhirnya keberhasilan itu tiba.
"Alhamdulillah, kami berhasil menghadirkan tiga titik air bersih dari PDAM Kota Makassar. Ini berkat perjuangan kami dan atas nama Makmur Payabo," jelasnya.
Ia menambahkan, pipa besar dari Tamangapa menuju lokasi TPAS sudah ditarik sejak tahun 2000, dan kini masyarakat sudah bisa memasang meteran air sendiri, menandakan akses air bersih yang sudah aman dan mandiri.
Meskipun masalah air bersih telah teratasi, tantangan kesehatan masih membayangi warga sekitar TPAS Tamangapa Antang. Makmur Payabo mengungkapkan bahwa penyakit yang masih mendominasi adalah gatal-gatal dan batuk-batuk.
Kondisi ini menunjukkan bahwa paparan lingkungan yang berasal dari TPAS masih memiliki dampak terhadap kesehatan masyarakat, membutuhkan perhatian lebih lanjut dari pihak terkait untuk mitigasi dan penanganan.
Mengenai perubahan perilaku warga Makassar dalam mengelola limbah atau sampah, Makmur Payabo menyampaikan pandangan kritisnya.
"Tanggapan saya, warga Kota Makassar belum ada perubahan perilaku yang signifikan terkait pengelolaan limbah atau sampah," tegasnya.
Indikator paling jelas adalah masih membludaknya sampah yang masuk ke TPAS Tamangapa Antang setiap harinya. Ia menyayangkan bahwa hanya sebagian kecil masyarakat yang peduli dan bersedia terlibat dalam upaya mengelola limbah organik, seperti mengubahnya menjadi pakan ternak, kompos, atau makanan maggot. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada inisiatif positif, skala partisipasi masyarakat masih sangat terbatas dan belum menjadi gerakan yang masif.
Kisah warga di sekitar TPAS Tamangapa Antang ini menjadi cerminan akan dualitas tantangan pembangunan di perkotaan. Di satu sisi, ada capaian monumental dalam pemenuhan hak dasar seperti air bersih berkat kegigihan aktivis dan intervensi pemerintah.
Namun, di sisi lain, masalah fundamental seperti perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah masih menjadi batu sandungan utama. Diperlukan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan masyarakat luas untuk terus mengedukasi serta mendorong partisipasi aktif dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan, demi Makassar yang lebih bersih dan sehat di masa depan.